BMKG: Serangkaian Gempa Guncang Laut Selatan Jawa Jumat Pagi, Dipastikan Tidak Berpotensi Tsunami

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika () mengonfirmasi terjadinya serangkaian di wilayah perairan selatan Pulau Jawa pada Jumat pagi, 27 Februari 2026. Guncangan tektonik ini dirasakan di beberapa titik, mulai dari selatan Malang, Tulungagung, Gunungkidul, , hingga . BMKG memastikan seluruh gempa yang terjadi memiliki magnitudo relatif kecil dan tidak menimbulkan potensi tsunami.

Detail Gempa Beruntun di Laut Selatan Jawa

Gempa pertama tercatat berkekuatan Magnitudo (M) 3,6 pada pukul 07.07.51 WIB. Episenter gempa ini berlokasi di 8,90 Lintang Selatan (LS) dan 112,47 Bujur Timur (BT), sekitar 85 kilometer barat daya Kabupaten Malang, Jawa Timur, dengan kedalaman 42 kilometer.

Hanya berselang tiga detik, gempa kedua dengan Magnitudo 3,0 mengguncang pada pukul 07.07.54 WIB. Pusat gempa berada di 8,70 LS dan 111,91 BT, sekitar 70 kilometer tenggara Tulungagung, Jawa Timur, dengan kedalaman yang lebih dalam, yakni 164 kilometer.

Serangkaian guncangan berlanjut pada pukul 08.13.29 WIB, ketika gempa Magnitudo 2,4 terjadi di 71 kilometer barat daya Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada kedalaman 112 kilometer.

Kemudian, pada pukul 08.18.11 WIB, gempa Magnitudo 2,7 terdeteksi sekitar 94 kilometer barat daya Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, dengan koordinat 8.16° LS dan 107.78° BT. Gempa ini tergolong dangkal dengan kedalaman 13 kilometer. Menurut laporan BMKG, gempa di Pangandaran ini tidak dirasakan oleh masyarakat.

Terakhir, gempa Magnitudo 2,7 kembali tercatat pada pukul 08.34.00 WIB di sekitar 65 kilometer tenggara Cilacap, Jawa Tengah, pada koordinat 8.31 LS – 109.08 BT. Gempa ini juga memiliki kedalaman dangkal, yaitu 31 kilometer. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai dampak kerusakan maupun guncangan signifikan yang dirasakan di daratan Cilacap dan sekitarnya.

Penyebab dan Imbauan BMKG

BMKG menegaskan bahwa seluruh rangkaian gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa akibat peristiwa tersebut.

Secara geologis, wilayah selatan Pulau Jawa memang merupakan zona aktif gempa bumi karena adanya aktivitas subduksi atau pertemuan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, yang dikenal sebagai zona megathrust. Selain itu, gempa intraslab, yang bersumber dari dalam lempeng samudra yang tersubduksi, juga kerap terjadi di wilayah ini.

BMKG mengimbau masyarakat di wilayah selatan Jawa untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi. Warga dianjurkan untuk selalu mengikuti perkembangan informasi resmi terkait aktivitas gempa bumi melalui kanal komunikasi BMKG yang terpercaya.

Penting untuk diketahui, BMKG juga telah membantah klaim yang beredar mengenai peringatan gempa megathrust di seluruh pulau pada tahun 2026. Lembaga tersebut menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi waktu terjadinya gempa bumi secara akurat.