Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,7 pada Minggu, 1 Maret 2026, dini hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera menganalisis penyebab fenomena alam ini, mengidentifikasi aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Laut Filipina sebagai pemicu utamanya.
Gempa yang awalnya dilaporkan berkekuatan M 5,9, kemudian diperbarui menjadi M 5,7, terjadi tepat pada pukul 00.22.21 WIB. Episenter gempa terletak di laut pada koordinat 4,95° Lintang Utara dan 126,18° Bujur Timur. Lokasi ini berjarak sekitar 102 kilometer arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman hiposenter mencapai 62 kilometer.
Plt Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan bahwa dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini tergolong sebagai gempa bumi menengah. “Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” ungkap Rahmat.
Berdasarkan estimasi peta guncangan (shakemap) yang dikeluarkan BMKG, guncangan gempa dirasakan di beberapa wilayah. Daerah seperti Essang, Miangas, Kepulauan Talaud, Kepulauan Marore, dan Kepulauan Sangihe merasakan guncangan dengan skala intensitas IV MMI. Intensitas ini berarti getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah pada siang hari.
Hingga laporan ini disusun, BMKG memastikan belum ada laporan mengenai dampak kerusakan signifikan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut. Selain itu, hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak memiliki potensi untuk memicu tsunami. Monitoring aktivitas gempa susulan juga belum menunjukkan adanya kejadian signifikan.