PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) telah mengumumkan keputusan penting dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang diselenggarakan pada Senin, 9 Maret 2026. Dalam rapat tersebut, pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp13,03 triliun. Angka ini setara dengan 65 persen dari total laba bersih konsolidasian perseroan untuk tahun buku 2025 yang tercatat sebesar Rp20,04 triliun.
Selain pembagian dividen, RUPST juga memberikan restu untuk rencana pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai transaksi maksimal mencapai Rp905,48 miliar, termasuk biaya transaksi. Keputusan strategis ini diambil dengan mempertimbangkan berbagai aspek untuk menjaga kinerja berkelanjutan dan memperkuat fondasi permodalan BNI ke depan.
Laba Bersih dan Alokasi Dana
Laba bersih BNI pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp20,04 triliun, mengalami penurunan sekitar 6,63 persen dibandingkan capaian tahun 2024 yang mencapai Rp21,46 triliun. Meskipun demikian, pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) perseroan relatif stabil di angka Rp40,33 triliun sepanjang 2025, sedikit berubah dari Rp40,48 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan non-bunga atau fee-based income turut menopang kinerja bank, tumbuh 5,2 persen menjadi Rp24,6 triliun.
Dari total laba bersih 2025, sisa 35 persen atau sekitar Rp7,01 triliun akan dialokasikan sebagai saldo laba ditahan. Dana ini akan digunakan untuk memperkuat permodalan perusahaan dan mendukung rencana ekspansi bisnis BNI di masa mendatang.
Komitmen Perusahaan dan Reaksi Pasar
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menyatakan bahwa keputusan pembagian dividen dan buyback saham ini mencerminkan komitmen perseroan untuk memberikan nilai optimal kepada pemegang saham, sembari tetap menjaga fundamental perusahaan. “Sejumlah keputusan strategis yang disepakati dalam RUPST ini merupakan bagian dari upaya menjaga kinerja berkelanjutan serta memperkuat fondasi permodalan Perseroan ke depan,” ujar Okki dalam keterangan tertulis.
Mengenai rencana buyback saham, Okki menambahkan, “Keputusan buyback ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang Perseroan sekaligus memberikan ruang fleksibilitas dalam penguatan permodalan.” Saham hasil buyback nantinya akan disimpan sebagai saham tresuri yang dapat dialihkan kembali di Bursa Efek Indonesia atau di luar bursa, serta berpotensi digunakan untuk Program Kepemilikan Saham bagi Pegawai dan/atau Pengurus Perseroan.
Di tengah sentimen pasar yang bergejolak, saham BBNI justru menunjukkan performa positif. Pada penutupan perdagangan Senin, 9 Maret 2026, saham BBNI ditutup naik 0,47 persen ke level Rp4.290 per saham, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,27 persen. Kenaikan ini mengindikasikan dividend yield yang menarik, sekitar 8,13 persen.
Kinerja Fundamental dan Keputusan Lainnya
Secara fundamental, neraca BNI menunjukkan penguatan signifikan. Total aset bank pelat merah ini tumbuh 20,53 persen menjadi Rp1.362 triliun pada akhir 2025, dibandingkan Rp1.130 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Ekuitas perseroan juga meningkat 5,88 persen menjadi Rp176,34 triliun. Pertumbuhan kredit BNI juga tercatat solid, naik 15,9 persen secara tahunan menjadi Rp899,53 triliun hingga akhir 2025.
Selain keputusan terkait dividen dan buyback, RUPST juga menyetujui perubahan Anggaran Dasar Perseroan. Perubahan ini mencakup reklasifikasi 223.783.877 saham Seri B milik negara menjadi saham Seri A Dwiwarna, sebagai bentuk penyesuaian terhadap Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. Langkah ini menegaskan kepatuhan BNI terhadap regulasi terbaru dan upaya memperkuat tata kelola perusahaan sebagai BUMN.