Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan masyarakat terdampak bencana di Sumatera dapat menempati hunian sementara (huntara) sebelum bulan Ramadan tiba. Saat ini, penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah memasuki fase transisi dari tanggap darurat menuju tahap pemulihan.
Percepatan Pembangunan Huntara
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menyatakan bahwa target pemindahan pengungsi ke huntara akan dilakukan sebelum 18 Februari 2026. “Ini masyarakat yang sekarang di tempat pengungsian, target kami dalam waktu paling tidak sebelum munggah puasa tanggal 18 Februari 2026, mereka sudah bergeser ke hunian sementara,” ujar Suharyanto dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
BNPB tengah mempercepat pembangunan 17.332 unit huntara di berbagai wilayah terdampak. Hingga kini, 4.979 unit telah selesai dibangun. Suharyanto optimistis sisa lebih dari 11.000 unit akan segera rampung, mengingat banyak yang sudah mencapai progres 60-80 persen. Pembangunan ini dilakukan secara serentak di setiap kabupaten dan kota.
Dukungan Bagi Warga yang Tinggal Bersama Kerabat
Bagi warga yang memilih untuk tinggal bersama keluarga atau kerabat, pemerintah menyalurkan dana tunggu hunian sebesar Rp 600 ribu per bulan selama tiga bulan. “Masyarakat yang tidak mau masuk huntara, hunian sementara, mereka memilih tinggal di rumah sanak saudara keluarga, ini pun kami dukung namanya dana tunggu hunian sebesar satu bulan Rp 600 ribu dikali tiga bulan,” jelas Suharyanto.
Penyaluran dana tahap pertama telah dilakukan untuk Desember, Januari, dan Februari. Jika hunian tetap belum selesai pada Februari, dana akan diperpanjang. Sejauh ini, 10.409 warga telah menerima dana tersebut, dengan sekitar seribu orang masih dalam proses verifikasi data oleh Bank Syariah Indonesia.
Pembangunan Hunian Tetap dan Infrastruktur
Selain huntara, pembangunan hunian tetap juga akan segera dilaksanakan melalui dua skema: pembangunan mandiri oleh warga dan pembangunan terpusat oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Terkait infrastruktur, Suharyanto melaporkan bahwa seluruh jalan nasional di Aceh kini tidak ada lagi yang terputus. Meskipun demikian, beberapa ruas masih menggunakan jembatan Bailey dan jembatan darurat. Pembatasan tonase kendaraan diberlakukan untuk mencegah kerusakan, seperti yang terjadi di jembatan Kuta Blang akibat dilewati truk tronton bermuatan 30 ton.
Kondisi Listrik, Komunikasi, Air, dan BBM
Kondisi kelistrikan di tiga provinsi terdampak menunjukkan perbaikan, meskipun beberapa desa di Gayo Lues, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Tamiang masih mengalami gangguan.
Layanan Starlink, yang menjadi tumpuan komunikasi saat awal bencana, kini relatif pulih, namun masih terganggu di Gayo Lues dan Aceh Tengah.
Pasokan air bersih juga telah pulih di sebagian besar wilayah, kecuali di beberapa kabupaten seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Kondisi pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) dilaporkan telah kembali normal setelah sempat terjadi antrean panjang di SPBU.