Kota Bogor kembali menjadi sorotan dengan gelaran akbar Bogor Street Festival (BSF) Cap Go Meh (CGM) 2026. Perayaan budaya tahunan ini berlangsung istimewa pada 1 hingga 3 Maret 2026, bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, mengusung tema “Harmony in Diversity” atau Harmoni dalam Keberagaman.
Ketua Panitia CGM-BSF 2026, Arifin Himawan, menegaskan bahwa momen ini bukan penghalang, melainkan bukti nyata kemampuan Bogor dalam merawat tradisi sekaligus menjaga kekhusyukan ibadah. “Bertemunya Cap Go Meh dan Ramadan bukan persoalan bagi Bogor, justru ini pesan kuat bahwa kota ini mampu merayakan budaya tanpa meninggalkan nilai spiritual. Inilah wajah Bogor yang sesungguhnya: tradisinya hidup, masyarakatnya rukun, dan ruang publiknya milik semua,” ujar Arifin.
Pembukaan dengan Semangat Berbagi
Rangkaian BSF CGM 2026 dibuka secara simbolis pada 1 Maret 2026 dengan acara buka puasa bersama 400 anak yatim di pelataran Vihara Dhanagun, Jalan Suryakencana. Kegiatan sosial ini telah menjadi tradisi rutin selama 11 tahun terakhir, menunjukkan konsistensi dalam semangat berbagi dan kebersamaan.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, yang turut hadir, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi unik ini. Menurutnya, perpaduan Ramadan dan Cap Go Meh dalam satu ruang publik adalah fenomena yang mungkin hanya ditemukan di Bogor. “Mewujudkan Bogor yang saling sayang-menyayangi dan hari ini kita buktikan dengan melaksanakan silaturahmi yang menjadi tradisi di Kota Bogor,” kata Dedie.
Senada, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya, yang juga mantan Wali Kota Bogor, menyoroti bahwa 11 tahun pelaksanaan buka puasa bersama ini menandakan kegiatan tersebut telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Bogor. Ia menambahkan, momen ini sangat baik untuk mendidik generasi muda tentang makna kebersamaan dan keberagaman.
Puncak Perayaan dan Adaptasi Khusus
Puncak perayaan BSF CGM 2026 dijadwalkan pada 3 Maret 2026, yang akan dimeriahkan dengan pawai budaya di kawasan Suryakencana. Mengingat bertepatan dengan bulan Ramadan, panitia melakukan penyesuaian signifikan. Parade kebudayaan akan digelar pada malam hari, setelah salat Tarawih, untuk menghormati kekhusyukan ibadah umat Muslim.
Rute pawai juga diperpendek, dimulai dari Vihara Dhanagun, menyusuri Jalan Suryakencana, mengitari kawasan Gang Aut, lalu kembali melalui Jalan Roda. Parade akan menampilkan sekitar 12 tim liong/barongsai lokal, empat hingga lima tim penampil budaya, serta musik marawis, sebagai simbol keberagaman yang berpadu.
Pasar Malam dan Penggerak Ekonomi Lokal
Selain parade, BSF CGM 2026 juga menghadirkan Pasar Malam Tempo Jadoel di sepanjang Jalan Suryakencana selama tiga hari. Pasar malam ini dibagi menjadi tiga zona tematik: Zona Imlek dan Cap Go Meh, Zona Kopi Legend yang menonjolkan produk kopi legendaris Bogor, serta Zona Ramadan yang menyajikan kuliner khas bulan puasa dan takjil.
Dengan melibatkan 200 tenant, pasar malam ini diharapkan dapat mendorong ekonomi kerakyatan dan menjadi daya tarik wisata. Panitia menargetkan 30.000 hingga 40.000 pengunjung akan memadati kawasan Suryakencana selama festival berlangsung.
Ketua DPRD Kota Bogor, Adityawarman Adil, turut menyampaikan bahwa momentum ini bukan sekadar seremoni budaya, melainkan simbol kuatnya ikatan sosial antarumat beragama. “Semoga kerukunan umat antar agama di Kota Bogor ini tetap harmonis seterusnya. Dan juga bisa selalu rukun hidup berdampingan,” tutup Arifin Himawan.