BP Genjot Investasi Minyak Serpih di AS, Targetkan Produksi 650.000 Barel per Hari pada 2030

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

bp plc, minyak serpih, investasi energi, permian basin, bpx energy

secara agresif memperluas pengeboran (shale oil) di Amerika Serikat, mengambil jalur yang berbeda dari banyak pesaingnya yang cenderung lebih konservatif. Unit bisnis minyak dan gas darat BP, , berencana untuk meningkatkan produksi minyak serpih sebesar 8% pada tahun 2026.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi BP untuk mencapai target produksi 500.000 barel setara minyak per hari (boed) dari minyak serpih pada tahun 2026, yang diperkirakan akan menyumbang sekitar 20% dari total produksi global BP. Ambisi jangka panjang perusahaan bahkan lebih besar, dengan target 650.000 boed pada akhir dekade ini, yaitu tahun 2030.

Strategi Kontrarian di Tengah Kehati-hatian Industri

Keputusan BP untuk menggenjot investasi di sektor minyak serpih ini sangat kontras dengan pendekatan yang diambil oleh banyak operator shale terkemuka lainnya, seperti Diamondback Energy Inc. dan EOG Resources Inc. Perusahaan-perusahaan tersebut cenderung mengadopsi strategi pertumbuhan yang lebih terkendali di tengah kekhawatiran akan potensi kelebihan pasokan minyak mentah global yang dapat menekan harga.

Strategi agresif BP ini didasarkan pada asumsi bahwa harga minyak mentah akan bertahan di level $70 per barel atau lebih tinggi hingga tahun 2030, sebuah proyeksi yang lebih optimis dibandingkan harga perdagangan minyak mentah internasional saat ini pada Februari 2026. Kyle Koontz, CEO BPX Energy, menyatakan bahwa fluktuasi harga jangka pendek kemungkinan tidak akan mengubah rencana pengeboran jangka panjang, kecuali terjadi disrupsi makro yang lebih besar seperti pandemi COVID-19.

Ekspansi ini juga menjadi upaya penting bagi BP untuk membalikkan penurunan produksi, keuntungan, dan nilai pemegang saham yang terjadi setelah perusahaan mengalihkan fokusnya ke energi terbarukan dan inisiatif rendah karbon pada tahun 2020. Strategi transisi energi sebelumnya menyebabkan penurunan kapitalisasi pasar BP sekitar 40% di bawah level awal 2019. Bahkan, pada Januari 2026, BP melaporkan penurunan nilai sebesar $4,5 miliar pada divisi energi terbarukan dan rendah karbonnya, yang mencerminkan penilaian ulang nilai proyek dan pengembalian di tengah perubahan kondisi pasar.

Efisiensi Modal dan Fokus Ulang Investasi

Menariknya, BP berencana mencapai target produksi 650.000 boed pada tahun 2030 sambil mengurangi belanja modal sebesar $800 juta dibandingkan skenario pengembangan alternatif. Penghematan modal ini akan memungkinkan BP untuk mengalokasikan kembali dana ke proyek-proyek pertumbuhan lain di portofolio globalnya. Carol Howle, kepala perdagangan BP yang menjabat sebagai CEO interim hingga Meg O’Neill mengambil alih pada April 2026, menegaskan bahwa BPX Energy adalah bagian inti dari strategi BP di masa depan dengan perkiraan produksi yang kuat hingga akhir dekade.

Aset minyak serpih BP terutama berlokasi di cekungan Permian (Texas), Eagle Ford Shale (Texas), dan Haynesville Basin (Louisiana), yang diakuisisi pada tahun 2018. Selain itu, BP juga terus berinvestasi dalam pengembangan hulu konvensional secara global, dengan beberapa proyek baru yang dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2026 dan seterusnya. Pada tahun 2025, BP berhasil mengoperasikan tujuh proyek besar, lima di antaranya lebih cepat dari jadwal, menambah sekitar 150.000 boed produksi puncak bersih gabungan.

Secara keseluruhan, dari tahun 2025 hingga 2027, BP menargetkan investasi sebesar $10,5 miliar per tahun untuk minyak dan gas hulu serta LNG, sementara investasi di energi rendah karbon dikurangi secara signifikan menjadi $0,8 miliar per tahun.

Proyeksi Pasar Minyak Serpih AS

Meskipun BP menunjukkan optimisme, prospek pasar minyak serpih AS secara keseluruhan masih beragam. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) memproyeksikan produksi minyak mentah AS akan menurun rata-rata menjadi 13,5 juta barel per hari pada tahun 2026, sekitar 100.000 barel per hari lebih rendah dari rata-rata tahun 2025. Penurunan ini sebagian disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan di Cekungan Permian.

Beberapa analis, seperti Josh Young dari Bison Interest, berpendapat bahwa produksi minyak serpih AS sedang memasuki fase penurunan karena tingkat penurunan sumur yang tinggi, investasi yang tidak memadai, dan menipisnya area pengeboran terbaik. Namun, analisis lain dari Jefferies menunjukkan bahwa minyak serpih AS diperkirakan akan mengalami ekspansi yang moderat namun berkelanjutan pada tahun 2026, didorong oleh keuntungan skala operator publik dan peningkatan efisiensi. Cekungan Permian sendiri masih diproyeksikan akan tumbuh, dengan EIA memperkirakan produksi minyak mentah akan meningkat sebesar 430.000 barel per hari menjadi 6,6 juta barel per hari pada tahun 2026.

Kekhawatiran terhadap harga minyak terus membentuk pandangan hati-hati bagi banyak produsen minyak serpih AS, dengan para eksekutif memperkirakan harga minyak AS akan mencapai $62/bbl pada akhir 2026, lebih rendah dari $68/bbl yang digunakan dalam anggaran 2025. Pasar minyak global menghadapi ketidakpastian dengan potensi kelebihan pasokan pada tahun 2026 karena meningkatnya produksi global dan persediaan yang menumpuk lebih cepat daripada konsumsi.