BRI Sinyalkan Kenaikan Dividen dari Laba 2025 di Tengah Permodalan Kuat

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

(BBRI) mengisyaratkan adanya peluang peningkatan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) dari perolehan laba bersih tahun buku 2025. Sinyal positif ini muncul seiring dengan posisi permodalan perseroan yang dinilai sangat kuat dan jauh di atas ketentuan regulator.

Direktur Utama BRI, , dalam konferensi pers pada Kamis, 26 Februari 2026, menjelaskan bahwa penentuan rasio dividen selalu mempertimbangkan faktor fundamental, utamanya struktur permodalan dan rencana pertumbuhan bisnis berkelanjutan. “Dengan kondisi permodalan yang sangat memadai dan kuat, kami memiliki ruang untuk memberikan dividen dengan payout ratio yang lebih tinggi dibandingkan level historis,” ujar Hery.

Kinerja Keuangan Solid di Tahun 2025

Sepanjang tahun 2025, BRI berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 57,13 triliun. Meskipun capaian ini sedikit menurun sekitar 5,2% hingga 5,26% dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang mencapai Rp 60,3 triliun, fundamental kinerja perseroan tetap menunjukkan perbaikan.

Kekuatan permodalan BRI tercermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang berada di level 23,52% pada akhir 2025. Angka ini jauh melampaui batas minimum yang dipersyaratkan oleh regulator. Hery Gunardi menambahkan bahwa kebijakan dividen tidak hanya bertujuan menjaga struktur modal tetap optimal, tetapi juga sebagai bentuk komitmen untuk memberikan nilai tambah berkelanjutan kepada pemegang saham, termasuk potensi peningkatan Return on Equity (ROE).

Pertumbuhan Kredit dan Efisiensi Dana

Dari sisi fungsi intermediasi, BRI mencatat pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 12,3% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 1.521 triliun pada tahun 2025. Fokus utama penyaluran kredit ini adalah pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Angka pertumbuhan ini bahkan melampaui rata-rata pertumbuhan kredit perbankan nasional yang tercatat sebesar 9,6% sepanjang 2025.

Total aset BRI juga menunjukkan pertumbuhan solid, naik 7,1% yoy menjadi Rp 2.135 triliun pada akhir 2025. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 7,4% yoy menjadi Rp 1.467 triliun, didorong oleh pertumbuhan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) yang mencapai 70,6%. Efisiensi biaya dana (cost of fund) dari DPK juga membaik, turun menjadi 2,9% di akhir 2025.

Kualitas Aset dan Proyeksi Dividen

Meskipun laba bersih 2025 sedikit terkoreksi, hal ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan biaya pencadangan (impairment) yang membengkak 20,8% menjadi Rp 46,09 triliun, serta kenaikan beban bunga sebesar 1,2% yoy menjadi Rp 57,28 triliun. Namun, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) tercatat sebesar 3,07% hingga akhir Triwulan IV 2025, dengan NPL coverage yang memadai sebesar 178,1%.

Untuk tahun buku 2025, BRI telah mendistribusikan dividen interim sebesar Rp 137 per saham pada 15 Januari 2026. Dengan laba bersih per saham (EPS) sebesar Rp 376, dan jika perseroan mempertahankan dividend payout ratio (DPR) sekitar 86% seperti tahun sebelumnya, total dividen untuk tahun buku 2025 diproyeksikan mencapai Rp 323,36 per saham. Ini mengindikasikan estimasi dividen final sekitar Rp 186,4 per saham.

Keputusan final mengenai besaran dividen akan ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada Maret atau April 2026. Secara historis, BRI memiliki rekam jejak pembagian dividen yang konsisten, dengan DPR di atas 80% dalam empat tahun terakhir (2021-2024).