BRI Targetkan Pertumbuhan Kredit 7-9 Persen pada 2026, Fokus Selektivitas dan UMKM

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

(BBRI) memproyeksikan pertumbuhan kredit di kisaran 7-9 persen secara tahunan untuk tahun 2026. Target ini menunjukkan pendekatan yang lebih selektif dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit pada tahun 2025 yang mencapai dua digit.

Direktur Utama BRI, , menjelaskan bahwa strategi perseroan akan berfokus pada ekspansi kredit yang berkualitas, terutama di segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (). “Kalau kita lihat guidance ya, kredit itu mungkin kita akan bergerak pertumbuhan masih single digit antara 7 sampai 9 persen,” ujar Hery dalam paparan kinerja perseroan, Kamis (26/2).

Kinerja Keuangan 2025 dan Strategi ke Depan

Pada tahun 2025, BRI berhasil menyalurkan kredit secara konsolidasi sebesar Rp 1.521,49 triliun, tumbuh 12,31 persen secara tahunan (yoy). Angka ini melampaui pertumbuhan kredit perbankan nasional yang tercatat 9,6 persen pada periode yang sama. Namun, sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp 57,13 triliun, mengalami penurunan 5,26 persen yoy dari Rp 60,30 triliun pada tahun 2024.

Hery Gunardi menegaskan pentingnya selektivitas dalam penyaluran kredit. “Kita sangat selektif memilih sektor-sektor yang berkualitas. Harus memberikan yield yang baik, tapi tidak membawa risiko kualitas aset yang buruk,” tegasnya. Fokus utama BRI pada 2026 adalah memperkuat pendanaan murah, menjaga ekspansi kredit secara selektif, serta memperbaiki kualitas aset.

Penguatan Dana Murah dan Manajemen Risiko

Strategi penguatan pendanaan dimulai dari sisi funding. “Kalau kita bicara bisnis bank, itu mulainya dari funding dulu. Banking itu adalah funding game,” kata Hery. BRI menargetkan perbaikan struktur pendanaan dengan meningkatkan rasio dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Sepanjang 2025, rasio CASA BRI melonjak dari sekitar 67,3 persen pada 2024 menjadi 70,6 persen pada akhir 2025. Pertumbuhan dana murah ini didorong oleh optimalisasi transaction banking melalui BRImo, QRIS, EDC, serta jaringan BRIlink.

Untuk menjaga kualitas kredit, BRI memperkuat manajemen risiko, khususnya di segmen mikro dan small. Perseroan membentuk subdirektorat ritel tersendiri di bawah direktorat manajemen risiko serta memperkuat pengawasan di segmen wholesale. Selain itu, BRI juga akan memperkuat fungsi collection atau penagihan, terutama di segmen consumer dan mikro, termasuk rencana penerapan auto grab fund untuk nasabah mikro.

Dukungan UMKM dan Program Perumahan

Ekspansi kredit BRI pada 2026 akan tetap difokuskan pada segmen UMKM, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang kini mencakup KUR perumahan. Pada tahun 2025, realisasi penyaluran KUR mencapai Rp 178,78 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur, dengan sektor pertanian menjadi kontributor utama sebesar Rp 80,09 triliun atau 44,97 persen dari total KUR yang disalurkan.

Di sektor perumahan, BRI juga menunjukkan komitmennya melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Hingga akhir 2025, perseroan telah mengucurkan KPR subsidi senilai Rp 16,6 triliun kepada lebih dari 18.000 penerima manfaat. Untuk tahun 2026, BRI menargetkan penyaluran FLPP hingga 60.000 unit rumah bersubsidi.

Outlook Optimistis di Tengah Tantangan

Meskipun menghadapi tantangan dari sisi permintaan kredit yang belum sepenuhnya pulih di seluruh segmen, Direktur Utama BRI Hery Gunardi optimistis bahwa tahun 2026 akan lebih baik dibandingkan 2025. “Kita yakin 2026 akan lebih baik dibandingkan 2025,” pungkas Hery. Proyeksi ini didukung oleh fundamental industri perbankan yang solid, meskipun akselerasi kredit masih membutuhkan penguatan dari sisi permintaan.

Selain itu, perpanjangan tempo penempatan dana pemerintah dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) di lima bank BUMN, termasuk BRI yang memiliki dana SAL sebesar Rp 80 triliun, turut menjaga stabilitas likuiditas perbankan. Bank Indonesia juga diperkirakan akan melanjutkan pelonggaran suku bunga acuan di tahun 2026, yang berpotensi menciptakan kondisi likuiditas lebih kondusif dan mendorong pertumbuhan ekonomi.