Bursa Saham Jepang Anjlok Tajam Imbas Eskalasi Konflik Iran

iran, jepang, bursa saham, konflik timur tengah, harga minyak

mengalami tekanan signifikan pada awal pekan ini, Senin (2/3/2026), menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan militer terkoordinasi terhadap . Indeks Nikkei 225 anjlok hampir 2% pada pembukaan perdagangan, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian geopolitik dan lonjakan mentah global.

Serangan yang diberi nama sandi “Operation Epic Fury” oleh AS dan “Operation Roaring Lion” oleh Israel tersebut terjadi pada Sabtu (28/2/2026), menyasar fasilitas nuklir, sistem rudal balistik, pusat komando Garda Revolusi Iran, serta kota-kota besar seperti Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah. Insiden ini dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan mantan presiden Mahmoud Ahmadinejad. Laporan juga menyebutkan setidaknya 100 warga sipil tewas, termasuk 108 siswi sekolah dasar di Minab.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal balistik ke Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Irak, Yordania, dan Qatar. Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran juga kembali melancarkan serangan di Laut Merah, menambah ketegangan di jalur pelayaran vital.

Dampak langsung dari eskalasi ini terlihat jelas pada pasar komoditas. Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 8% pada Senin (2/3/2026), mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$82,37 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$75,33 per barel. Para analis memproyeksikan harga minyak berpotensi menembus US$90 hingga US$100 per barel jika konflik terus memanas.

Kekhawatiran utama pasar berpusat pada Selat Hormuz, jalur distribusi minyak dunia yang sangat krusial, di mana sekitar 20% hingga 30% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global diangkut setiap hari. Pengumuman Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk membatasi akses di jalur tersebut berpotensi memicu gangguan pasokan yang serius dan lonjakan biaya asuransi pengiriman.

Sentimen “risk-off” mendominasi pasar global, mendorong investor untuk beralih ke aset-aset yang dianggap aman (safe haven). Harga emas berjangka melonjak 2,3% dan nilai tukar yen Jepang menguat terhadap dolar AS. Di sisi lain, bursa saham Asia secara keseluruhan kompak melemah, dengan Indeks Nikkei 225 melorot 600,28 poin atau 1,05% ke level 58.239,26 pada Senin pagi.

Sebelumnya, Nikkei 225 telah menunjukkan volatilitas. Pada 27 Februari 2026, indeks sempat ditutup sedikit menguat 0,22% setelah sempat tertekan di pagi hari. Namun, pada 20 Februari 2026, indeks ini sempat turun 1% akibat kekhawatiran geopolitik dan pelemahan sektor teknologi serta perbankan. Bahkan pada 18 Januari 2026, Nikkei 225 merosot 1,3% karena kekhawatiran geopolitik dan ancaman tarif baru dari Presiden AS Donald Trump.

Krisis yang memuncak ini terjadi di tengah kondisi internal Iran yang sudah rapuh. Sejak akhir 2025, Iran dilanda krisis ekonomi parah, hiperinflasi, dan anjloknya nilai tukar rial yang mencapai 1,47 juta per dolar AS pada Januari 2026. Kekurangan air dan listrik juga merajalela, memicu gelombang protes besar-besaran di berbagai kota. Negosiasi nuklir tidak langsung antara Iran dan AS yang sempat berlangsung di Oman pada 6 Februari 2026, dan direncanakan berlanjut di Jenewa, dilaporkan runtuh sebelum serangan terjadi.

Merespons serangan ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam keras tindakan AS dan Israel, menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai “perusak perdamaian” dan menilai serangan tersebut akan mendorong perang regional di Timur Tengah. PBB dan beberapa negara juga mengecam serangan tersebut karena dianggap merusak stabilitas kawasan. Sementara itu, Jepang sendiri berhasil menghindari resesi teknikal pada kuartal IV 2025 dengan pertumbuhan ekonomi 0,1%, dan Bank of Japan (BOJ) telah menaikkan proyeksi pertumbuhan serta mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Namun, prospek ekonomi positif ini kini dibayangi oleh risiko geopolitik yang semakin memanas.