Bursa Saham UEA Tutup Dua Hari, Respons Eskalasi Konflik Iran-AS-Israel

uni emirat arab, iran, pasar saham uea, konflik timur tengah, ali khamenei

(UEA) mengambil langkah drastis dengan menutup dua pasar saham utamanya selama dua hari, mulai Senin (2/3/2026) hingga Selasa (3/3/2026). Keputusan ini diambil menyusul peningkatan tajam ketegangan di kawasan Timur Tengah setelah melancarkan serangan balasan terhadap aksi militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Abu Dhabi Securities Exchange dan Dubai Financial Market, dua bursa utama di UEA, menghentikan aktivitas perdagangan mereka. Otoritas Pasar Modal UEA menyatakan bahwa penutupan ini bertujuan untuk mencegah potensi gejolak besar di pasar keuangan dan aksi jual panik yang dapat terjadi akibat eskalasi konflik.

Serangan Balasan Iran dan Dampaknya

Eskalasi terbaru dipicu oleh serangan udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) pagi. Sebagai respons, Iran melancarkan ratusan serangan rudal dan drone yang menargetkan Dubai dan Abu Dhabi sejak Sabtu pagi.

Meskipun sebagian besar rudal dan drone berhasil dicegat oleh sistem pertahanan, laporan menunjukkan adanya kerusakan di beberapa lokasi di kedua kota tersebut, dengan jumlah korban jiwa yang relatif terbatas. Bahkan, bandara utama Dubai, salah satu pusat penerbangan tersibuk di dunia, dilaporkan mengalami kerusakan sebagian akibat serangan tersebut. Insiden ini juga menyebabkan UEA menutup wilayah udaranya dan menghentikan operasional bandara, yang berdampak pada pembatalan sejumlah penerbangan internasional.

Situasi ini semakin diperparah dengan laporan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, , dalam serangan AS-Israel. Berita ini memicu Iran untuk mendeklarasikan masa berkabung 40 hari dan tujuh hari libur nasional, serta mengancam penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis vital bagi pasokan energi global.

Kekhawatiran Ekonomi dan Pasar Global

Penutupan bursa saham di UEA merupakan langkah yang tidak lazim, biasanya hanya terjadi pada hari libur resmi atau masa berkabung nasional. Hal ini menggarisbawahi tingkat keparahan situasi dan kekhawatiran otoritas terhadap stabilitas ekonomi. Otoritas Pasar Modal UEA menegaskan akan terus memantau perkembangan di kawasan dan menilai situasi secara berkelanjutan, serta mengambil langkah tambahan jika diperlukan.

Kekhawatiran meluas di kalangan penduduk dan pelaku bisnis, mengingat reputasi UEA sebagai pusat keuangan, logistik, dan pariwisata yang stabil kini terancam. Analis Bloomberg Intelligence, Edmond Christou dan Salome Skhirtladze, memperingatkan bahwa serangan AS-Israel terhadap Iran berpotensi memicu guncangan permintaan di sektor properti UEA. Mereka memperkirakan risiko terhadap penyerapan 350.000 unit pasokan properti baru dan pengurangan hingga 120 juta kunjungan ke Dubai Mall serta sektor ritel dan perhotelan.

Dampak ketegangan geopolitik ini tidak hanya terasa di UEA. Pasar komoditas global, terutama harga minyak dan emas, menunjukkan reaksi signifikan. Gangguan di Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari dan hampir 20% ekspor LNG global, berpotensi mendorong harga minyak di atas US$100 per barel dan memicu inflasi CPI AS mendekati 5%. Biaya asuransi risiko perang juga dilaporkan melonjak sekitar 50%, menambah beban ratusan ribu dolar AS untuk setiap perjalanan kapal dan memperlambat rantai pasok manufaktur global.

Kapitalisasi pasar bursa saham UEA mencapai US$1,1 triliun, menjadikannya bursa terbesar ke-19 di dunia dengan bobot 1,4% dalam indeks pasar negara berkembang MSCI Inc. Penutupan ini menjadi indikator jelas betapa seriusnya ancaman geopolitik terhadap stabilitas ekonomi di salah satu pusat keuangan terpenting di Timur Tengah.