Cabai Rawit Merah Tembus Rp150 Ribu/Kg di Jakarta Saat Awal Ramadan 2026

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

cabai rawit merah, harga pangan, ramadan 2026, dki jakarta, inflasi pangan

Memasuki awal pekan Ramadan pada Jumat, 20 Februari 2026, harga komoditas pangan pokok di kembali menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. menjadi salah satu komoditas yang mengalami lonjakan harga paling mencolok, bahkan menembus angka Rp150.000 per kilogram di beberapa pasar tradisional ibu kota.

Berdasarkan pantauan di lapangan, harga cabai rawit merah di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dilaporkan mencapai Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram. Angka ini jauh melampaui harga sehari sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp100.000 per kilogram. Di Pasar Meruya Ilir, Jakarta Barat, harga cabai rawit merah bahkan melonjak drastis dari Rp40.000 menjadi Rp120.000 per kilogram. Sementara itu, data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Jumat sore menunjukkan harga rata-rata cabai rawit merah di DKI Jakarta mencapai Rp113.438 per kilogram, naik 99,01% dibandingkan Harga Acuan Pemerintah (HAP).

Faktor Cuaca dan Permintaan Jadi Pemicu

Kenaikan harga yang tajam ini disebut-sebut akibat kombinasi tingginya permintaan masyarakat di awal Ramadan dan terganggunya pasokan dari daerah sentra produksi. “Ini karena dari faktor cuaca sama kiriman dari petaninya kurang,” ujar Farid, salah seorang pedagang di Pasar Minggu, pada Jumat (20/2/2026). Intensitas hujan yang tinggi dan berlangsung terus-menerus di sejumlah daerah penghasil cabai menyebabkan tanaman rentan terserang jamur, mengganggu masa panen, dan menghambat distribusi.

Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Abdul Hamid, menjelaskan bahwa meskipun tanaman cabai rawit merah sudah mulai memasuki masa panen, panen raya umumnya baru terjadi pada panen kelima atau keenam. “Kalau satu kali panen itu intervalnya lima hari, berarti kalau sampai panen keenam itu butuh waktu sekitar 30 hari. Jadi, kemungkinan pasokan akan banyak setelah Lebaran,” ungkap Hamid pada Kamis (19/2/2026). Selain itu, Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Jaharuddin, menilai kenaikan harga saat Ramadan juga mencerminkan lemahnya tata niaga pangan nasional dan sistem distribusi yang belum efisien.

Langkah Pemerintah Stabilkan Harga

Menanggapi lonjakan harga ini, pemerintah pusat dan daerah telah mengambil berbagai langkah antisipasi. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan bahwa kenaikan harga cabai rawit bukan disebabkan kekurangan stok, melainkan gangguan distribusi akibat curah hujan tinggi. Ia memastikan koordinasi dengan lintas pemangku kepentingan dan pihak terkait terus digencarkan untuk menjaga kestabilan . Mendag juga mewanti-wanti agar tidak ada spekulan yang mengambil keuntungan, dengan melibatkan kepolisian, Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional (Bapanas), hingga pemerintah daerah dalam pengawasan distribusi.

Di tingkat daerah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menjanjikan harga cabai rawit merah akan turun dalam dua minggu ke depan. Hal ini seiring dengan perkiraan panen raya di sejumlah daerah produsen seperti Pangalengan, Garut, Semarang, hingga Banyuwangi. Bapanas juga akan melakukan Fasilitas Distribusi Pangan (FDP) dengan membeli cabai dari Sulawesi Selatan sebanyak 2-3 ton per hari, di mana harga di tingkat petani lebih rendah sekitar Rp45.000 per kilogram, untuk kemudian didistribusikan melalui pedagang Pasar Induk Kramat Jati. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di berbagai kota besar, termasuk Jakarta, juga telah bergerak cepat dengan melakukan sidak pasar dan operasi pasar murah.

Tidak hanya cabai rawit, beberapa komoditas lain seperti cabai merah keriting dan bawang merah juga terpantau mengalami kenaikan harga. Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan untuk memastikan harga kebutuhan pokok tidak naik menjelang Ramadan, bahkan membolehkan harga untuk turun.