Perayaan Cap Go Meh 2026 akan mencapai puncaknya pada Selasa, 3 Maret 2026, menandai berakhirnya seluruh rangkaian Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Momen istimewa ini semakin sarat makna karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan, menampilkan potret harmoni dan akulturasi budaya yang kaya di berbagai penjuru Indonesia.
Secara etimologi, Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien, di mana “Cap” berarti sepuluh, “Go” berarti lima, dan “Meh” berarti malam, sehingga secara harfiah dimaknai sebagai “malam kelima belas”. Perayaan ini juga dikenal luas di daratan Tiongkok sebagai Festival Lampion (元宵節 atau Yuánxiāo Jié), yang melambangkan cahaya, harapan, dan doa untuk kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Sejarah Cap Go Meh berakar dari ritual penghormatan kepada Dewa Thai Yi pada masa Dinasti Han sekitar abad ke-17. Awalnya, perayaan ini bersifat tertutup di kalangan istana dan raja, namun seiring berakhirnya Dinasti Han, Cap Go Meh mulai dikenal dan dirayakan secara luas oleh masyarakat umum, termasuk etnis Tionghoa di Indonesia.
Semangat Toleransi di Tengah Ramadan
Tahun 2026 menjadi sangat unik karena perayaan Cap Go Meh berlangsung beriringan dengan bulan Ramadan. Fenomena ini menjadi momentum langka yang memperkuat semangat toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Direktur PT Creative Event Entertainment (CEE), Ananta Pribadi, dalam acara “Lunar New Year & Cap Go Meh 2026: Ride to Luck” di SCBD, Jakarta, menyatakan, “Perayaan tahun ini terasa istimewa karena berlangsung bertepatan dengan suasana khidmat bulan suci Ramadan.”
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie juga menegaskan bahwa Festival Cap Go Meh bukan sekadar agenda tahunan, melainkan warisan budaya yang tumbuh dari tradisi dan keberagaman etnis serta agama di Kota Singkawang. Ia menambahkan, “Tradisi ini lahir dan tumbuh dalam keberagaman, sekaligus menjadi simbol keharmonisan antarumat beragama dan etnis.”
Kemeriahan Perayaan di Berbagai Kota
Meskipun tanggal 3 Maret 2026 bukan merupakan hari libur nasional, Cap Go Meh tetap dirayakan dengan semarak di berbagai daerah dengan komunitas Tionghoa yang besar.
Singkawang, Kota Seribu Kelenteng
Singkawang di Kalimantan Barat, yang dijuluki “Kota Seribu Kelenteng”, kembali menjadi pusat perhatian dengan Festival Cap Go Meh yang spektakuler. Puncak perayaan di Singkawang akan berlangsung pada 3 Maret 2026, menampilkan pawai Tatung yang ikonik. Sebanyak 523 tatung bertandu, 108 tatung tanpa tandu, 75 peserta miniatur, 15 jelangkung, tiga naga, dua barongsai, dan satu rombongan pejalan kaki siap memeriahkan acara. Tatung dipercaya sebagai medium perantara roh dewa yang melakukan atraksi ekstrem untuk mengusir roh jahat. Selain itu, Pawai Lampion dengan 79 kelompok peserta telah digelar pada 1 Maret 2026, dan festival kuliner berlangsung dari 28 Februari hingga 3 Maret 2026. Untuk memastikan kelancaran dan keamanan, TNI dan Polri menyiapkan 935 personel gabungan.
Jakarta dengan Beragam Festival
Di Jakarta, perayaan Cap Go Meh tersebar di beberapa titik. Pancoran Chinatown Point Mall menggelar acara pada 3 Maret 2026 dengan dua sesi, menampilkan bazar UMKM, Ondel-ondel, Tari Selendang Dendang, Barongsai, Liong, Tanjidor, dan Egrang. Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) juga telah menyelenggarakan “Ride To Luck – Cap Go Meh Festival” pada 1 Maret 2026, yang memadukan budaya Tionghoa, Betawi, dan Nusantara lainnya, menekankan harmoni dengan Ramadan. Selain itu, kawasan Pecenongan, Petak Sembilan Glodok, Taman Budaya Tionghoa TMII, hingga Pantai Indah Kapuk (PIK) turut menjadi lokasi kemeriahan, dengan atraksi naga dan barongsai tradisional di Glodok serta inovasi Liong UV di Pantjoran PIK.
Bogor dan Makassar dengan Sentuhan Lokal
Kota Bogor turut merayakan dengan Bogor Street Festival di sepanjang Jalan Suryakencana pada 3 Maret 2026. Mengingat bertepatan dengan Ramadan, pawai budaya akan dimulai pada malam hari setelah salat tarawih, menunjukkan adaptasi dan penghormatan terhadap ibadah puasa. Sementara itu, di Makassar, perayaan bertajuk Jappa Jokka Cap Go Meh telah digelar dari 28 Februari hingga 1 Maret 2026 di Jalan Sulawesi, menampilkan pasar murah, ngabuburit, buka puasa bersama, hingga Hasamitra Heritage Run, lomba lari tengah malam yang unik.
Akulturasi dalam Kuliner Khas
Cap Go Meh juga identik dengan kuliner khas yang menjadi simbol akulturasi budaya. Salah satu yang paling terkenal adalah Lontong Cap Go Meh, hidangan yang mirip lontong sayur Jawa namun diperkaya dengan rebung, bubuk ebi, dan koya. Ada pula Mi Panjang Umur, yang panjangnya bisa mencapai dua meter, melambangkan doa dan harapan akan kesehatan serta umur panjang.
Perayaan Cap Go Meh 2026 tidak hanya menjadi penutup rangkaian Imlek, tetapi juga cerminan nyata dari kekayaan budaya Indonesia yang mampu hidup berdampingan dalam harmoni. Semangat lampion yang menyala terang diharapkan terus memancarkan aura kedamaian dan persaudaraan bagi seluruh masyarakat.