Carlos Pena: Wasit Liga Indonesia Levelnya Sangat Rendah, Kritik Berulang Usai Persita Takluk dari Dewa United

Author Image

Irfan

27 Februari 2026

persita tangerang, dewa united, carlos pena, bri super league, wasit

Kekalahan tipis 0-1 dari pada pekan ke-23 2025/2026 di Indomilk Arena, Kamis (26/2/2026), menyisakan kekecewaan mendalam bagi pelatih . Juru taktik asal Spanyol itu tak segan melontarkan kritik pedas terhadap kinerja wasit yang memimpin pertandingan, menilai kualitas pengadil lapangan di Liga Indonesia masih jauh dari harapan.

Kritik Tajam Pena Pasca-Laga Kontra Dewa United

Dalam pertandingan yang berlangsung sengit tersebut, gol tunggal Ricky Kambuaya pada menit ke-36 menjadi penentu kemenangan Dewa United. Meskipun Persita berupaya keras menciptakan peluang, penyelesaian akhir yang kurang maksimal membuat mereka gagal menyamakan kedudukan. Usai laga, Carlos Pena secara terang-terangan menyatakan bahwa wasit “tidak melakukan tugasnya dengan baik.” Ia menyoroti beberapa keputusan yang dianggap merugikan timnya, termasuk terkait pengaturan jumlah pemain asing di lapangan.

“Wasit tidak melakukan tugasnya dengan baik. Wasit mempertimbangkan jumlah pemain asing yang berada di lapangan, padahal kita,” ujar Carlos Pena, mengungkapkan kekesalannya. Menurutnya, keputusan-keputusan wasit tersebut tidak sesuai ekspektasi dan berdampak signifikan pada jalannya pertandingan, terutama saat Persita yang tampil agresif di awal laga, harus kehilangan ritme di babak kedua.

Pola Kritik Berulang dari Sang Pelatih

Kritik Carlos Pena terhadap kinerja wasit bukanlah hal baru di musim ini. Sebelumnya, pada 8 Februari 2026, Pena juga meluapkan kemarahannya setelah Persita takluk 0-1 dari Semen Padang akibat penalti kontroversial di menit ke-90+14. Penalti tersebut diberikan setelah tinjauan VAR, namun Pena mengungkapkan bahwa bahkan penyerang Semen Padang sendiri mengakui bahwa itu bukan penalti. “Bahkan penyerang mereka mengatakan kepada saya di akhir laga bahwa itu bukan penalti. Jika pemain mengatakan hal ini, apalagi yang bisa saya katakan disini,” tegas Pena saat itu.

Tak hanya itu, pada 22 Februari 2026, gol Persita ke gawang Persib Bandung juga dianulir wasit karena miskomunikasi sebelum eksekusi sepak pojok. Menanggapi insiden tersebut, Pena memilih untuk bersikap satir. “Saya tidak mau berkomentar soal wasit. Ini bukan pertama kalinya kami punya masalah dengan mereka, tapi saya tidak mau berkomentar,” katanya, menyiratkan frustrasi yang mendalam terhadap kualitas perwasitan yang berulang kali merugikan timnya.

Secara keseluruhan, Carlos Pena menyimpulkan bahwa “Wasit di Liga Indonesia levelnya sangat rendah,” sebuah pernyataan yang mencerminkan kekecewaan kolektif terhadap standar perwasitan di kompetisi tertinggi sepak bola Tanah Air.

Sorotan PSSI dan Upaya Perbaikan Kualitas Wasit

Kritik dari Carlos Pena ini menambah panjang daftar sorotan terhadap kinerja wasit di BRI Super League 2025/2026. Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa, pada Oktober 2025 lalu mengakui bahwa akurasi keputusan wasit masih di bawah ekspektasi. Dari evaluasi hingga pekan ketujuh, hanya 89 persen keputusan wasit yang dinilai tepat, jauh di bawah target 95-97 persen. Berbagai kontroversi, mulai dari kartu merah yang dianggap tidak adil, gol yang dianulir secara tipis, hingga penalti yang dipertanyakan, terus mewarnai jalannya kompetisi.

PSSI, melalui Komite Perwasitan dan kerja sama dengan I.League, sebenarnya telah berupaya meningkatkan kualitas wasit. Langkah-langkah seperti penugasan wasit asing berpengalaman Yudai Yamamoto secara penuh waktu sejak Desember 2025, penerapan sistem evaluasi wasit terbaru (REFER), serta implementasi Video Assistant Referee (VAR) telah dilakukan. VAR sendiri telah diterapkan penuh di Liga 1 sejak musim 2024/2025 dan diakui telah mengurangi kontroversi, namun insiden-insiden yang memicu perdebatan masih saja terjadi.

Meskipun demikian, tantangan untuk mencapai standar perwasitan yang konsisten dan profesional masih besar. Kritik dari pelatih seperti Carlos Pena, serta pelatih lain seperti Jaya Hartono dari Persiraja yang menyebut “Gara-Gara Ini Sepakbola Kita Rusak” akibat keputusan wasit, menunjukkan bahwa upaya perbaikan harus terus digencarkan demi integritas dan kualitas kompetisi sepak bola Indonesia.