Charles Leclerc Ungkap Frustrasi: ‘Boost Aneh’ F1 2026 Rusak Kualifikasi

Pembalap andalan Scuderia , , secara terbuka menyuarakan rasa frustrasinya terhadap regulasi teknis Formula 1 musim 2026 yang baru. Insiden yang dialaminya saat sesi kualifikasi sprint Grand Prix Tiongkok baru-baru ini menjadi sorotan, di mana sebuah ‘boost tenaga aneh’ justru merugikan performanya secara signifikan.

Analisis mendalam dari data telemetri, yang diungkap oleh The Race, menunjukkan bahwa Leclerc mengalami penurunan performa drastis pada putaran terbang terakhirnya. Sebuah input gas yang sangat kecil, hanya sekitar 95% setelah keluar dari Tikungan 10 akibat sedikit selip atau oversteer, secara tak terduga memicu lonjakan penyebaran tenaga listrik pada lintasan lurus pendek antara Tikungan 10 dan 11. Lonjakan tenaga sesaat ini, yang disebut sebagai ‘kekhasan regulasi baru’, justru menguras cadangan energi listrik yang tersedia. Akibatnya, Leclerc kehilangan daya yang signifikan untuk digunakan di lintasan lurus sepanjang 1,2 kilometer berikutnya.

Dampak dari kejadian ini sangat terasa: kecepatan tertinggi mobilnya berkurang 15 km/jam dan waktu putaran melorot sekitar setengah detik. Meskipun putaran tersebut masih menjadi yang tercepat baginya di sesi itu, potensi peningkatan yang lebih besar jelas terhambat. Para ahli bahkan memperkirakan bahwa tanpa masalah ini, Leclerc, yang akhirnya start dari posisi keenam, bisa saja bersaing untuk posisi baris terdepan. Ia kemudian finis di posisi kedua pada balapan sprint dan keempat di Grand Prix utama.

Leclerc sendiri mengungkapkan kekecewaannya. “Saya melakukan putaran yang sangat bagus, tikungan-tikungan semuanya sangat optimal, tetapi karena suatu alasan saya tidak 100% menginjak gas di tempat yang tepat, saya hanya 97%, saya kehilangan tiga persepuluh di lintasan lurus belakang,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa mobil-mobil baru ini “sangat aneh dalam kualifikasi” dan upaya untuk mendorong terlalu keras justru “membingungkan sisi mesin”, yang berujung pada kerugian lebih besar daripada keuntungan. Hal ini membuat konsistensi lebih dihargai daripada pengambilan risiko ekstrem.

Frustrasi serupa juga dialami pembalap lain. Esteban Ocon dari Haas juga mengalami masalah serupa dengan sedikit angkatan gas yang memicu prosedur pembatasan daya. Pembalap McLaren, Oscar Piastri, bahkan menyatakan bahwa para pembalap merasa “tak berdaya terhadap sistem” dan tidak bisa berbuat banyak meskipun ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Komisi F1 telah memprioritaskan masalah manajemen baterai selama kualifikasi setelah GP Tiongkok dan dijadwalkan bertemu lagi setelah GP Jepang, dengan potensi solusi sebelum GP Miami.

Regulasi teknis F1 2026 memang membawa perubahan besar, dengan pembagian tenaga 50/50 antara mesin pembakaran internal dan energi listrik, penghapusan MGU-H, serta pengenalan aerodinamika aktif (mode Z untuk tikungan, mode X untuk lintasan lurus), dan tombol ‘Boost’ serta ‘Overtake Mode’ sebagai pengganti DRS. Tujuannya adalah menciptakan mobil yang lebih ‘gesit’, lebih ringan (pengurangan 30 kg), lebih pendek, dan lebih ramping, dengan pengurangan downforce (30%) dan drag (55%) untuk meningkatkan ‘kemampuan balap’ dan persaingan ketat. Namun, perubahan ini justru memicu kritik luas dari pembalap, pengamat, dan penggemar terkait efektivitas dan kompleksitas regulasi baru, terutama dalam kualifikasi dan manajemen energi.

Sebelum musim 2026 dimulai, beberapa kontroversi teknis juga telah mencuat. Salah satunya adalah dugaan celah dalam aturan rasio kompresi mesin (yang diturunkan dari 18:1 menjadi 16:1). Mercedes, dan Red Bull Powertrains pada tingkat yang lebih rendah, diduga menemukan cara untuk menjalankan mesin mereka pada rasio kompresi yang lebih tinggi saat panas, meskipun pengujian statis dilakukan pada suhu sekitar. Ferrari, Audi, dan Honda telah menyurati untuk meminta penjelasan. Direktur single-seater FIA, Nikolas Tombazis, menyatakan keinginan untuk menyelesaikan masalah ini sebelum musim dimulai guna menghindari “pertempuran di ruang sidang”. Mantan bos F1, Ross Brawn, menyebutnya sebagai “interpretasi cerdas dari regulasi”.

Di sisi lain, Ferrari sendiri memiliki keunggulan dalam prosedur start, yang diyakini terkait dengan pilihan desain unit daya mereka, kemungkinan turbo yang lebih kecil untuk mengurangi turbo lag. Prinsipal Tim Ferrari, Fred Vasseur, menegaskan bahwa mereka telah mendesain mobil sesuai regulasi dan telah memberikan konsesi dengan penambahan lima detik pada prosedur start, namun ia merasa “cukup sudah” terkait perubahan lebih lanjut.

Sementara itu, Mercedes tampaknya memiliki keunggulan signifikan dalam manajemen sistem hibrida dan perangkat lunak kontrol, yang menghasilkan kecepatan di lintasan lurus yang lebih baik dan penyaluran daya yang lebih konsisten, fenomena yang kadang disebut “super clipping”. Ferrari mengakui kesulitan untuk meniru hal ini. Untuk mengatasi defisit performa, Ferrari berharap dapat memanfaatkan sistem Additional Design and Upgrade Opportunities (ADUO), yang memungkinkan pabrikan melakukan peningkatan mesin jika performa mereka tertinggal lebih dari 2% setelah enam balapan. Vasseur melihat ADUO sebagai “pengubah permainan” dalam upaya Ferrari mengejar ketertinggalan dari Mercedes.

Dengan segala tantangan dan kontroversi yang menyertai regulasi baru ini, musim F1 2026 dipastikan akan terus menjadi medan perdebatan sengit, baik di lintasan maupun di luar lintasan, seiring tim-tim berjuang untuk memahami dan mengoptimalkan mobil mereka di bawah aturan yang kompleks.