Chelsea Football Club kembali menjadi sorotan tajam setelah data terbaru dari UEFA mengungkapkan kerugian sebelum pajak yang fantastis, mencapai €407 juta atau setara dengan sekitar Rp7,1 triliun, untuk musim 2024/2025. Angka ini menandai rekor defisit tertinggi yang pernah dicatatkan oleh klub sepak bola Inggris dalam sejarah.
Laporan ‘European Club Finance and Investment Landscape’ yang dirilis UEFA pada 26 Februari 2026, menempatkan Chelsea di puncak daftar klub dengan kerugian finansial terbesar di Eropa. Defisit The Blues bahkan lebih dari dua kali lipat kerugian klub peringkat kedua, Lyon, yang mencatatkan £171 juta. Hanya raksasa La Liga, Barcelona, yang pernah mengalami kerugian lebih besar (€555 juta pada musim 2020/2021 akibat pandemi COVID-19), namun itu terjadi dalam konteks yang berbeda.
Tantangan Finansial di Bawah Kepemilikan Baru
Di bawah kepemimpinan konsorsium Clearlake Capital dan Todd Boehly, Chelsea telah menggelontorkan dana lebih dari £1,5 miliar untuk akuisisi pemain sejak tahun 2022, membentuk skuad yang disebut-sebut sebagai yang termahal dalam sejarah. Namun, pengeluaran besar ini belum diimbangi dengan pendapatan yang sepadan. Data UEFA menunjukkan bahwa biaya operasional harian Chelsea menjadi yang kelima tertinggi di Eropa, mencapai £241 juta, sementara tagihan gaji pemain diperkirakan menjadi yang keenam tertinggi di benua biru, sekitar £390 juta per musim.
Pendapatan komersial klub juga dilaporkan menurun dari tahun ke tahun, menjadi £207 juta, jauh di bawah angka yang dicatatkan oleh klub-klub top lainnya seperti Manchester City. Meskipun pendapatan siaran meningkat berkat partisipasi di Club World Cup, hal itu tidak cukup menutupi lonjakan biaya operasional dan gaji.
Kepatuhan Financial Fair Play (FFP) dan Sanksi UEFA
Kerugian besar ini tentu menimbulkan pertanyaan serius mengenai kepatuhan Chelsea terhadap aturan Financial Fair Play (FFP) UEFA dan Profitability and Sustainability Rules (PSR) Premier League. Aturan FFP UEFA membatasi kerugian klub maksimal €60 juta selama periode tiga tahun bergulir, sementara Premier League mengizinkan kerugian hingga £105 juta dalam periode yang sama.
Chelsea sendiri telah mencatatkan kerugian kumulatif UEFA selama tiga tahun sebesar €622 juta, jauh melampaui batas yang diizinkan. Akibatnya, The Blues telah dijatuhi denda sebesar €31 juta oleh UEFA karena melanggar aturan keuangan. Denda ini terdiri dari €20 juta karena gagal mencapai titik impas dan €11 juta karena pengeluaran gaji dan transfer melebihi 80% dari total pendapatan.
Meskipun demikian, Chelsea dikabarkan tidak akan menghadapi sanksi yang lebih berat, seperti pengurangan poin, berkat kesepakatan penyelesaian yang telah dicapai dengan UEFA. Kesepakatan ini memungkinkan klub untuk beroperasi sesuai dengan proyeksi defisit yang diajukan dalam rencana bisnis mereka. Pihak klub juga menyatakan keyakinan mereka bahwa mereka tetap mematuhi aturan PSR Premier League untuk musim 2024/2025, didukung oleh kinerja yang membaik dan penjualan pemain yang signifikan, mencapai sekitar £300 juta pada musim panas 2025.
Strategi Akuntansi dan Perubahan Aturan
Untuk menyeimbangkan neraca keuangan, Chelsea sebelumnya memanfaatkan celah dalam aturan FFP dengan menawarkan kontrak jangka panjang kepada pemain baru, seperti delapan tahun untuk Mykhailo Mudryk. Strategi ini memungkinkan klub untuk menyebarkan biaya transfer (amortisasi) selama periode kontrak yang lebih panjang, sehingga mengurangi dampak biaya tahunan pada laporan keuangan. Namun, UEFA telah menanggapi hal ini dengan mengubah aturan pada pertengahan 2023, membatasi amortisasi biaya transfer maksimal lima tahun.
Selain itu, Chelsea juga melakukan penjualan aset internal, seperti penjualan dua hotel senilai £76,5 juta dan tim wanita klub senilai £200 juta, kepada perusahaan afiliasi untuk meningkatkan pendapatan. Namun, UEFA dilaporkan tidak mengakui penjualan tim wanita ke perusahaan saudara sebagai pendapatan untuk tujuan FFP.
Kontras dengan Musim Sebelumnya
Kerugian besar pada musim 2024/2025 ini sangat kontras dengan laporan keuangan Chelsea untuk tahun fiskal yang berakhir 30 Juni 2024. Pada periode tersebut, Chelsea FC Holdings Limited justru melaporkan keuntungan sebelum pajak sebesar £128,4 juta. Keuntungan ini sebagian besar didorong oleh keuntungan signifikan dari penjualan registrasi pemain (£152,5 juta) dan restrukturisasi Chelsea Football Club Women Ltd yang menghasilkan keuntungan dari pelepasan anak perusahaan sebesar £198,7 juta.
Namun, perlu dicatat bahwa tanpa penjualan aset-aset tersebut, klub sebenarnya akan mencatat kerugian operasional yang besar. Bahkan, jika penjualan tim wanita dikecualikan, Chelsea akan mencatat kerugian £71 juta pada musim 2023/2024. Kerugian operasional klub pada musim 2023/2024 mencapai lebih dari £210 juta, menjadikannya yang terbesar di Premier League.
Di sisi lain, untuk musim 2022/2023, Chelsea mencatat kerugian sebelum pajak sebesar £90,1 juta, meskipun pendapatan klub melampaui £500 juta untuk pertama kalinya. Kerugian saat itu disebabkan oleh penurunan pendapatan siaran akibat finis di posisi ke-12 Premier League dan tersingkir lebih awal dari kompetisi piala.
Dengan rekor kerugian terbaru ini, Chelsea menghadapi tantangan besar untuk menstabilkan keuangan mereka di tengah pengawasan ketat dari otoritas sepak bola dan ekspektasi tinggi dari para penggemar.