Chelsea Dihantam Rekor Kerugian Terbesar Liga Primer, Masa Depan Moises Caicedo Aman?

London, Senin (2/3/2026) – Klub raksasa Liga Primer Inggris, , kembali menjadi sorotan setelah laporan keuangan terbaru mengungkapkan defisit mengejutkan. The Blues mencatat kerugian finansial terbesar dalam sejarah Liga Primer, mencapai €407 juta atau sekitar Rp6,9 triliun, untuk tahun fiskal yang berakhir pada 2025.

Angka fantastis ini, yang setara dengan £355 juta, jauh melampaui rekor kerugian klub Inggris mana pun sebelumnya, dan hanya Barcelona yang pernah mencatat defisit lebih besar di Eropa pada tahun 2021. Laporan UEFA yang dirilis pada Februari 2026 ini menyoroti tantangan finansial yang dihadapi Chelsea di bawah kepemilikan Clearlake Capital dan Todd Boehly.

Strategi Finansial Chelsea di Tengah Badai Aturan

Meskipun mencatat kerugian yang memecahkan rekor, sumber internal Chelsea bersikeras bahwa klub kini beroperasi secara menguntungkan dan yakin akan mematuhi aturan finansial yang berlaku. Defisit besar ini disebut-sebut sebagai hasil dari penyesuaian akuntansi non-tunai, penyelesaian masalah regulasi historis, dan berakhirnya kontrak-kontrak lama.

Sebelumnya, Chelsea berhasil menavigasi Aturan Profitabilitas dan Keberlanjutan (PSR) Liga Primer untuk musim 2024-25. Klub London Barat ini memanfaatkan celah dalam aturan dengan menjual dua hotel di dekat Stamford Bridge senilai £70,5 juta (setelah direvisi dari £76,5 juta) dan tim wanita mereka senilai hampir £200 juta kepada perusahaan terkait. Langkah ini membantu Chelsea mencatat laba bersih £129,6 juta untuk tahun yang berakhir pada 30 Juni 2024.

Namun, celah ini tidak akan berlaku lagi. Pada November 2025, klub-klub Liga Primer telah sepakat untuk menutup celah kontroversial yang memungkinkan penjualan aset non-sepak bola ke perusahaan terkait untuk meningkatkan neraca PSR. Aturan baru ini, yang dikenal sebagai Squad Cost Ratio (SCR) dan Sustainability and Systemic Resilience (SSR), akan sepenuhnya berlaku mulai musim 2026/27. SCR akan membatasi pengeluaran klub untuk biaya skuad (gaji pemain, biaya agen, amortisasi biaya transfer) hingga 85% dari pendapatan terkait sepak bola. Bagi klub yang berkompetisi di Eropa, batas ini akan selaras dengan aturan UEFA sebesar 70%.

Sanksi UEFA dan Komitmen Kepatuhan

Di sisi lain, aturan finansial UEFA terbukti lebih ketat. Pada Juli 2025, Chelsea didenda hingga £78,5 juta (minimum £26,7 juta ditambah biaya bersyarat) oleh UEFA karena melanggar aturan (FFP) selama periode empat tahun (meliputi tahun fiskal 2023 dan 2024). Klub juga melanggar rasio biaya skuad yang diizinkan UEFA (80-90% berbanding batas 70%).

Sebagai respons, Chelsea telah menandatangani perjanjian penyelesaian dengan UEFA pada Juli 2025. Perjanjian ini mewajibkan klub untuk mencapai titik impas secara finansial selama tiga tahun ke depan (mulai musim 2025/26) dan sepenuhnya patuh pada musim 2026/27. Batas kerugian pendapatan sepak bola Chelsea untuk musim 2025-26 hanya €5 juta di bawah perjanjian ini. Kegagalan mematuhi perjanjian ini dapat berujung pada denda lebih lanjut dan bahkan larangan bermain di Liga Champions.

Untuk memenuhi persyaratan UEFA, Chelsea telah melakukan penjualan pemain yang signifikan, menghasilkan sekitar £300 juta pada bursa transfer musim panas 2025. Laporan pada Juli 2025 juga menunjukkan bahwa Chelsea perlu mengumpulkan lebih dari £60 juta dari penjualan pemain untuk mendaftarkan rekrutan baru di Liga Champions.

Moises Caicedo: Bintang yang Tetap Bertahan?

Di tengah tekanan finansial ini, pertanyaan mengenai masa depan para pemain bintang, termasuk , menjadi relevan. Namun, manajemen Chelsea menegaskan bahwa mereka tidak akan terpaksa menjual pemain kunci seperti Caicedo atau Cole Palmer.

Gelandang asal Ekuador itu sendiri dilaporkan tidak berniat meninggalkan Stamford Bridge, meskipun ada rumor ketertarikan dari Real Madrid. Chelsea juga disebut-sebut tidak akan mendengarkan tawaran untuk Caicedo, bahkan jika itu menghasilkan keuntungan besar. Sebaliknya, klub berencana untuk menawarkan perpanjangan kontrak dengan kesepakatan yang lebih baik kepada Caicedo.

Untuk mengurangi beban kerja Caicedo dan Enzo Fernandez, Chelsea bahkan berencana untuk memperkuat lini tengah mereka pada bursa transfer musim panas 2026. Ini mengindikasikan bahwa, setidaknya untuk saat ini, Moises Caicedo tetap menjadi bagian integral dari rencana jangka panjang The Blues, meskipun klub menghadapi tantangan finansial yang monumental.