Pemerintah China telah mengeluarkan perintah kepada kilang-kilang minyaknya untuk segera menghentikan ekspor bahan bakar olahan, termasuk bensin, solar, dan bahan bakar penerbangan, untuk bulan Maret 2026. Kebijakan drastis ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran akan potensi konflik berskala besar di Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan energi global.
Arahan tersebut, yang dilaporkan dikeluarkan oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), badan perencana ekonomi tertinggi China, bertujuan untuk mengamankan pasokan domestik dan mencegah potensi kelangkaan di dalam negeri. Sumber-sumber yang mengetahui masalah ini menyebutkan bahwa kilang-kilang telah diminta untuk tidak menandatangani kontrak baru dan bahkan menegosiasikan pembatalan pengiriman yang telah disepakati sebelumnya.
Dampak Konflik Iran dan Lonjakan Harga Minyak
Langkah China ini terjadi setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, memicu eskalasi konflik regional secara signifikan. Serangan Iran terhadap kapal-kapal telah secara efektif mengganggu lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi “titik tersedak” kritis bagi sekitar 15% hingga 20% pasokan minyak global. Data menunjukkan, lalu lintas kapal tanker melalui selat tersebut sempat anjlok hingga mendekati nol.
Kekhawatiran akan gangguan pasokan ini segera memicu gejolak di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak di atas 100 dolar AS per barel pada Kamis, 12 Maret 2026. Beberapa laporan bahkan menyebutkan harga sempat melampaui 100 dolar AS sebelum mencapai puncaknya mendekati 120 dolar AS per barel. Menanggapi volatilitas pasar yang meningkat, Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan bahwa negara-negara anggotanya akan melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat. Departemen Energi AS juga menyatakan akan melepaskan 172 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategisnya.
Kekhawatiran Pasokan Domestik dan Regional
China, sebagai importir minyak terbesar di dunia, sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah, dengan 57% impor minyak mentah langsungnya pada tahun 2025 berasal dari kawasan tersebut. Oleh karena itu, langkah pembatasan ekspor ini merupakan upaya Beijing untuk melindungi keseimbangan pasar internalnya. Margin penyulingan diesel telah mencapai 49 dolar AS per barel, sementara margin minyak tanah melonjak di atas 55 dolar AS, mencapai level tertinggi dalam tiga tahun.
Di dalam negeri China, harga bahan bakar grosir juga mulai merangkak naik. Harga diesel grosir melonjak 13,5% menjadi 7.276 yuan per ton, dan bensin oktan 92 naik 11% dalam satu minggu antara akhir Februari hingga awal Maret. Meskipun sebagian besar kargo ekspor untuk bulan Maret diperkirakan akan tetap berjalan karena telah mendapatkan sertifikat, dampak penuh dari pemotongan ekspor ini kemungkinan besar akan dirasakan oleh pembeli internasional mulai bulan April.
Negara-negara Asia lainnya, yang juga sangat bergantung pada energi Timur Tengah, merasakan dampak serupa. Jepang, misalnya, yang mengandalkan Timur Tengah untuk lebih dari 90% impor minyak mentahnya, telah mengizinkan pelepasan cadangan strategisnya untuk menstabilkan harga domestik.