China Perketat Standar Kualitas Udara Nasional, Targetkan PM2.5 Lebih Rendah Mulai Maret 2026

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

kualitas udara china, polusi udara, kementerian ekologi dan lingkungan china, pm2.5, regulasi lingkungan

Pemerintah Tiongkok telah mengumumkan pengetatan standar kualitas udara nasional secara signifikan, menandai revisi pertama sejak tahun 2012. Kebijakan baru ini, yang akan mulai berlaku pada 1 Maret 2026, bertujuan untuk lebih meningkatkan kualitas udara setelah kampanye antipolusi yang berhasil selama satu dekade terakhir.

Batas Polutan Utama Diperketat

Revisi Standar Kualitas Udara Ambien (Ambient Air Quality Standards GB 3095 — 2026) ini diterbitkan bersama oleh Kementerian Ekologi dan Lingkungan (MEE) serta Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar. Standar baru ini menargetkan empat polutan udara utama: partikel halus ( dan PM10), sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen dioksida (NO2).

Di bawah standar sekunder yang diperbarui, batas konsentrasi rata-rata tahunan untuk PM2.5, polutan yang paling mengancam kesehatan manusia, akan diperketat dari 35 menjadi 25 mikrogram per meter kubik (μg/m³). Batas harian rata-rata PM2.5 juga akan dipangkas dari 75 menjadi 50 μg/m³.

Untuk PM10, batas tahunan diturunkan dari 70 menjadi 50 μg/m³, dan batas harian dari 150 menjadi 100 μg/m³. Sementara itu, batas tahunan untuk sulfur dioksida akan turun dari 60 menjadi 20 μg/m³, dan nitrogen dioksida dari 40 menjadi 30 μg/m³.

Implementasi Bertahap Menuju Target 2031

Penerapan standar baru ini akan dilakukan dalam dua fase untuk memastikan transisi yang mulus. Fase pertama, yang menerapkan batas transisi, akan berlaku mulai 1 Maret 2026 hingga 31 Desember 2030. Selama periode ini, batas tahunan PM2.5 ditetapkan pada 30 μg/m³ dan batas harian pada 60 μg/m³. Untuk PM10, batas tahunan transisi adalah 60 μg/m³ dan batas harian 120 μg/m³.

Mulai 1 Januari 2031, batas revisi penuh untuk PM2.5, PM10, sulfur dioksida, dan nitrogen dioksida akan berlaku secara nasional.

Keberhasilan Kampanye Antipolusi dan Tantangan ke Depan

Langkah pengetatan ini didasari oleh keberhasilan Tiongkok dalam kampanye antipolusi selama satu dekade terakhir. Konsentrasi rata-rata tahunan PM2.5 di Tiongkok turun dari 68 μg/m³ pada tahun 2013 menjadi 28 μg/m³ pada tahun 2025, sebuah klaim sebagai tingkat peningkatan tercepat di antara negara-negara besar di dunia. Ibu kota Beijing, misalnya, hanya mengalami satu hari udara sangat tercemar pada tahun 2025, turun drastis dari 58 hari pada tahun 2013. Konsentrasi rata-rata tahunan PM2.5 di Beijing pada tahun 2025 mencapai 27,0 μg/m³, pertama kalinya di bawah ambang batas 30 μg/m³ sejak pemantauan dimulai.

Kementerian Ekologi dan Lingkungan menyatakan bahwa revisi standar ini mencerminkan tekad negara untuk mendorong peningkatan lingkungan secara berkelanjutan di bawah panduan tolok ukur yang lebih tinggi. Tujuan utamanya adalah mengurangi risiko kesehatan, mendukung ambisi “membangun Tiongkok yang indah,” dan menyelaraskan negara dengan praktik terbaik internasional. Standar baru ini juga sejalan dengan target sementara tahap kedua dari pedoman kualitas udara global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021.

Diperkirakan, standar baru ini akan memberikan manfaat kesehatan hampir sepuluh kali lipat lebih besar daripada biaya implementasinya, serta berpotensi mengurangi emisi karbon lebih dari tujuh miliar ton sebagai manfaat sampingan antara tahun 2026 dan 2035.

Meskipun demikian, tantangan masih besar. Ma Jun, pendiri Institute of Public and Environmental Affairs, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Beijing, menyatakan bahwa “Jika kita ingin mencapai standar baru ini, itu akan sangat sulit.” Sekitar 60% kota di Tiongkok masih memiliki tingkat yang melebihi standar baru 25 μg/m³ yang direncanakan. Beberapa lokasi yang sensitif secara lingkungan, seperti taman nasional, bahkan akan diwajibkan memenuhi standar yang lebih ketat.