Psikiater anak dan remaja terkemuka, Dagmar Pauli, melontarkan pernyataan mengejutkan yang menyebut bahwa “seluruh masyarakat kita mengidap gangguan makan serius.” Pernyataan ini menyoroti krisis kesehatan mental yang semakin mengkhawatirkan, terutama di tengah derasnya arus informasi dan tekanan sosial dari media digital.
Pauli, yang menjabat sebagai Kepala Dokter dan Wakil Direktur Psikiatri Anak dan Remaja di Rumah Sakit Universitas Psikiatri Zurich, mengamati peningkatan signifikan kasus anoreksia pada remaja yang lebih muda. Menurutnya, idealisasi kecantikan yang terus-menerus disajikan oleh media dan kehidupan sehari-hari menjadi salah satu faktor pendorong utama di balik fenomena ini.
Media Sosial dan Distorsi Citra Tubuh
Peran media sosial dalam memperparah gangguan makan tidak bisa diabaikan. Platform digital ini secara masif membentuk persepsi tubuh yang tidak realistis pada anak dan remaja, seringkali mengidealkan bentuk tubuh tertentu—kurus untuk wanita dan berotot untuk pria. Algoritma media sosial turut berkontribusi dengan terus-menerus menampilkan konten bertema diet ekstrem, pembatasan kalori, atau olahraga berlebihan kepada pengguna yang sebelumnya berinteraksi dengan topik serupa.
Penggunaan filter dan fitur pengeditan foto juga menciptakan standar kecantikan yang tidak nyata, membuat remaja rentan mengalami krisis kepercayaan diri dan membandingkan diri dengan citra ideal yang sebenarnya telah dimanipulasi. Tekanan teman sebaya dan body shaming yang marak di media sosial semakin memperburuk kondisi psikologis, mendorong individu untuk melakukan diet ketat atau perilaku makan tidak sehat lainnya demi diterima lingkungan sosial.
Jenis dan Prevalensi Gangguan Makan
Gangguan makan adalah kondisi kesehatan mental serius yang memengaruhi kebiasaan makan dan pandangan seseorang terhadap tubuhnya, berdampak negatif pada kesehatan fisik, emosi, dan kualitas hidup. Tiga jenis gangguan makan yang paling umum meliputi:
- Anoreksia Nervosa: Ditandai dengan ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan, menyebabkan pembatasan asupan makanan yang ekstrem. Penderitanya seringkali memiliki berat badan jauh di bawah normal namun tetap merasa gemuk.
- Bulimia Nervosa: Melibatkan episode makan berlebihan (binge eating) yang tidak terkendali, diikuti dengan perilaku kompensasi seperti memuntahkan makanan, penggunaan obat pencahar, atau olahraga berlebihan.
- Binge Eating Disorder: Ditandai dengan konsumsi makanan dalam jumlah sangat besar secara berulang tanpa kontrol, namun tanpa diikuti perilaku kompensasi seperti pada bulimia.
Pauli mencatat bahwa anoreksia nervosa lebih sering terjadi pada remaja putri, sementara binge eating disorder menjadi gangguan makan paling umum pada usia dewasa dan memengaruhi pria serta wanita secara setara. Selain itu, ada pula muscle dysmorphia, kondisi di mana individu, hampir secara eksklusif remaja laki-laki, merasa tubuhnya terlalu kurus meskipun sudah berotot, mendorong mereka untuk latihan berlebihan dan diet protein tinggi.
Prevalensi gangguan makan terus meningkat secara global. Data Global Burden of Disease (GBD) WHO 2022 menunjukkan bahwa pada tahun 2019, sekitar 14 juta kasus gangguan makan terjadi di seluruh dunia, dengan 20% di antaranya menimpa anak dan remaja. Di Indonesia, sebuah penelitian pada tahun 2024 mengungkapkan bahwa 7,4% mahasiswa mengalami gangguan makan, dengan prevalensi anoreksia nervosa sebesar 7,7%, bulimia nervosa 23,1%, dan binge eating disorder 15,38%.
Faktor Pemicu dan Dampak Pandemi
Penyebab gangguan makan bersifat multifaktorial, melibatkan kombinasi faktor genetik, psikologis (seperti perfeksionisme, rendah diri, kecemasan, dan stres), serta lingkungan sosial dan keluarga. Stres, khususnya stres akademik, juga terbukti berkontribusi terhadap persepsi tubuh negatif dan risiko gangguan makan.
Pandemi COVID-19 dan kebijakan pembatasan sosial juga dilaporkan memicu peningkatan tajam kasus anoreksia pada anak dan remaja. Perubahan pola hidup, peningkatan penggunaan media sosial, dan dampak psikologis dari lockdown menjadi pemicu utama.
Penanganan dan Tantangan Gizi di Indonesia
Penanganan gangguan makan memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter, psikiater, dan ahli gizi. Tujuan utamanya adalah membantu pasien kembali pada pola makan sehat. Terapi psikologis, seperti terapi perilaku kognitif dan terapi berbasis keluarga, menjadi komponen kunci dalam pengobatan. Dalam beberapa kasus, obat-obatan seperti antidepresan juga dapat diresepkan untuk mengatasi gejala depresi atau kecemasan yang menyertai.
Di Indonesia, tantangan gizi tidak hanya terbatas pada gangguan makan. Negara ini menghadapi “beban ganda malnutrisi” (triple burden of malnutrition), yaitu masalah gizi kurang, gizi lebih, dan defisiensi mikronutrien secara bersamaan. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bahkan memperkirakan bahwa 43,5% populasi Indonesia, atau sekitar 123,4 juta orang, tidak mampu membeli makanan sehat pada tahun 2024. Hal ini menunjukkan kompleksitas masalah gizi yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.