Badan Pengelola Investasi Danantara (Danantara) dilaporkan menyoroti ketidakseimbangan frekuensi penerbangan antara Garuda Indonesia dan Singapore Airlines di koridor Indonesia-Singapura pada akhir Februari 2026. Danantara berpendapat bahwa pengaturan saat ini menempatkan maskapai nasional pada posisi yang kurang menguntungkan di salah satu rute internasional tersibuk di kawasan tersebut.
Rohan Hafas, Managing Director Stakeholder Management and Communications Danantara, menjelaskan bahwa penerbangan internasional beroperasi di bawah perjanjian layanan udara timbal balik. Menurut laporan Danantara, Garuda Indonesia saat ini hanya mengoperasikan satu hingga dua penerbangan per hari ke Singapura. Sementara itu, Singapore Airlines dilaporkan mengoperasikan antara enam hingga delapan layanan harian ke Indonesia, seringkali menggunakan pesawat berbadan lebar seperti Airbus A330-300.
Namun, sorotan Danantara ini muncul di tengah upaya kedua maskapai untuk mempererat kemitraan. Pada November 2024, Singapore Airlines (SIA) dan Garuda Indonesia telah mengumumkan pendalaman kemitraan komersial mereka, yang mencakup peningkatan frekuensi penerbangan dan perluasan perjanjian codeshare. Sejak 22 November 2024, Singapore Airlines telah meningkatkan layanan harian Jakarta-Singapura dari enam menjadi delapan penerbangan. Tidak hanya itu, Garuda Indonesia juga turut memperluas penerbangan harian Jakarta-Singapura dari empat menjadi enam penerbangan mulai 1 Desember 2024.
Kemitraan ini terus berkembang. Pada Mei 2025, Singapore Airlines bahkan telah mengembalikan kapasitas rute Jakarta ke tingkat pra-pandemi dengan sembilan penerbangan harian. Sementara itu, Garuda Indonesia sendiri berencana untuk meningkatkan layanan Jakarta-Singapura dari enam menjadi tujuh penerbangan harian pada Kuartal IV 2025, menunggu persetujuan regulasi, dengan rencana peningkatan lebih lanjut.
Perjanjian codeshare yang diperluas mencakup rute-rute dari Singapura ke empat kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Denpasar, Medan, dan Surabaya, serta rute internasional yang dioperasikan SIA ke London dan Mumbai. Irfan Setiaputra, Direktur Utama Garuda Indonesia, pada November 2024, menegaskan bahwa Singapura merupakan “pasar dan destinasi internasional yang penting” bagi Garuda Indonesia. Ia juga menyatakan bahwa kemitraan ini merupakan “upaya kami untuk memenuhi permintaan perjalanan udara yang terus meningkat antara kedua negara” dan “menegaskan kembali komitmen kami untuk menyediakan konektivitas tanpa batas.”
Sebagai bagian dari kemitraan yang lebih dalam, pada awal Kuartal I 2025, anggota program frequent flyer GarudaMiles dan KrisFlyer dapat mulai memperoleh dan menukarkan mil pada rute codeshare. Selain itu, produk tarif gabungan juga diperkenalkan pada Kuartal I 2025, memungkinkan pelanggan memesan penerbangan yang dioperasikan oleh kedua maskapai dalam satu rencana perjalanan untuk rute antara Singapura dan Denpasar, Jakarta, serta Surabaya.
Danantara, sebagai Badan Pengelola Investasi, memiliki peran penting dalam restrukturisasi dan transformasi Garuda Indonesia. Mereka berupaya mencari penyesuaian pada perjanjian penerbangan timbal balik untuk mencapai hasil yang lebih proporsional. Langkah ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperluas jejak internasional Garuda Indonesia. Diketahui, sekitar 65% pendapatan Garuda Indonesia berasal dari rute regional, termasuk koridor Indonesia-Singapura.
Secara terpisah, isu terkait namun berbeda adalah penyesuaian Flight Information Region (FIR) antara Indonesia dan Singapura. Presiden Joko Widodo telah meratifikasi Peraturan Presiden mengenai Perjanjian FIR ini pada September 2022. Melalui perjanjian ini, Indonesia mengambil alih pengelolaan sebagian wilayah udara di atas Kepulauan Riau dan Natuna yang sebelumnya dikelola Singapura sejak 1946. Namun, Indonesia mendelegasikan kembali sebagian layanan navigasi udara kepada Singapura untuk jangka waktu 25 tahun.