ACEH TAMIANG – Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tidak hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan konsumsi ribuan personel Satgas pemulihan bencana di Aceh Tamiang. Melalui pengoperasian Dapur Umum, IPDN turut serta menggerakkan roda ekonomi warga sekitar dengan memanfaatkan bahan pangan lokal.
Dukungan Logistik dan Ekonomi Warga
Koordinator Dapur Umum IPDN, Purnomo, menjelaskan bahwa operasional dapur umum ini dimulai pada 4 Januari 2026, bersamaan dengan kedatangan kloter pertama praja IPDN di Aceh Tamiang. Pada hari pertama, dapur umum ini mampu menyediakan 500 porsi. Sejak 5 Januari, dengan dukungan penuh dari praja dan Aparatur Sipil Negara (ASN), dapur umum ini beroperasi secara maksimal, menyajikan 1.141 porsi pada setiap waktu makan.
“Menu sebagaimana arahan pimpinan, kami menggunakan standar pelayanan di Kesatriaan IPDN Jatinangor. Untuk makan pagi terdiri dari karbo atau nasi, kemudian ada serat melalui sayur, pemenuhan protein. Dan kalau di siang itu ada tambahan lauk hewani dan nabati, dan juga buah. Itu juga (menu) di makan malam,” ujar Purnomo dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (17/1/2026).
Lebih lanjut, Purnomo menambahkan bahwa kebutuhan Dapur Umum dipasok dari wilayah sekitar Aceh Tamiang hingga Medan. Pasokan tersebut meliputi beras, minyak, bumbu, ikan, lauk pauk, buah-buahan, dan sayuran. Pemanfaatan sumber daya lokal ini secara langsung turut menggerakkan ekonomi warga yang terdampak bencana.
“Sebagaimana arahan pimpinan, kami untuk dapat juga berinteraksi atau mengambil bahan makanan tersebut dari masyarakat. Untuk menghidupkan ekonomi masyarakat di daerah terdampak, yaitu yang saat ini kita sama-sama berada di daerah Aceh Tamiang dan sekitar,” tuturnya.
Tantangan dan Improvisasi Menu
Pengelolaan Dapur Umum di lapangan tidak lepas dari tantangan. Purnomo memaparkan beberapa kendala yang dihadapi, seperti keterbatasan sarana, kebutuhan gas, harga bahan pokok yang cenderung lebih tinggi, serta ketersediaan pasokan di pasar. Menghadapi kondisi tersebut, menu makanan disusun secara fleksibel menyesuaikan ketersediaan bahan.
Sebagai contoh, ketika pasokan kol, kentang, dan wortel terbatas, menu diadaptasi dengan menggunakan sayuran lokal seperti paku atau pakis yang merupakan kekhasan daerah. “Kita coba improvisasi dan Alhamdulillah bisa diterima oleh lidah kita semua, lidah teman-teman Satgas semua,” ungkapnya.
Dedikasi Kru Dapur Umum
Saat ini, Dapur Umum IPDN didukung oleh 18 kru yang bekerja secara bergantian untuk memastikan ketersediaan makanan bagi praja dan anggota Satgas. Mereka bekerja hampir tanpa jeda, memanfaatkan waktu istirahat singkat untuk memulihkan tenaga sebelum kembali bertugas.
Persiapan makan pagi dimulai sejak pukul 22.00 WIB hingga sekitar pukul 04.00 WIB dini hari. Proses ini dilanjutkan dengan penyajian, pengemasan, dan distribusi. Sekitar pukul 06.30 WIB, praja dan anggota Satgas mulai mengambil jatah makan pagi dan snack.
“Ada tim yang berangkat ke pasar untuk cari bahan baku dari subuh, kemudian jam 07.30-08.00 sudah sampai di dapur umum, langsung start, dilakukan pembersihan, peracikan, pembuatan bumbu dan lain-lain,” jelas Purnomo.