Derby Mataram Berakhir Tanpa Gol, PSIM Didenda Rp40 Juta Akibat Insiden Kembang Api

Author Image

Irfan

20 Februari 2026

yang mempertemukan dan pada Jumat, 6 Februari 2026, berakhir tanpa pemenang dengan skor kacamata 0-0 di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta. Hasil imbang ini tidak hanya menyisakan penyesalan bagi Laskar Mataram yang tampil dominan, tetapi juga berujung pada sanksi denda sebesar Rp40 juta dari Komite Disiplin (Komdis) .

Dalam pertandingan pekan ke-20 kompetisi kasta tertinggi Indonesia musim 2025/2026, yang kini dikenal sebagai BRI Super League, PSIM Yogyakarta sebenarnya menguasai jalannya laga. Skuad asuhan J. van Gastel mencatatkan 59 persen penguasaan bola, menghasilkan tiga tembakan tepat sasaran, dan tiga peluang yang melenceng. Namun, ketatnya pertahanan Persis Solo yang dikomandoi Vukasasin Vranes dan L. Dumancic berhasil meredam setiap serangan PSIM.

Di sisi lain, Laskar Sambernyawa, julukan Persis Solo, yang dilatih M. Seslija, lebih banyak mengandalkan skema serangan balik cepat. Mereka hanya mampu melepaskan dua tembakan ke arah gawang Cahya Supriadi tanpa sekalipun mendapatkan tendangan sudut di babak pertama. Tensi pertandingan yang meningkat di babak kedua mendorong kedua pelatih melakukan rotasi pemain. Persis Solo memasukkan Arkhan Kaka, Dimitri Lima Souza, dan Septian Bagaskara untuk menambah daya gedor, sementara PSIM menarik keluar Fahreza Sudin dan memasukkan S. Sheva.

Meski tampil dominan, PSIM gagal memaksimalkan peluang yang ada dan harus puas berbagi poin dengan Persis. Hasil ini membuat PSIM Yogyakarta tetap berada di peringkat ketujuh klasemen sementara dengan 31 poin, sedangkan Persis Solo masih tertahan di dasar klasemen, menempati posisi ke-18 dengan 11 poin.

Sanksi Denda dan Kericuhan Suporter

Pasca-Derby Mataram, Komite Disiplin PSSI secara resmi menjatuhkan denda sebesar Rp40 juta kepada PSIM Yogyakarta. Sanksi ini diberikan karena insiden penyalaan kembang api di sekitar Hotel New Saphir, Yogyakarta, tempat skuad Persis Solo menginap, sehari sebelum pertandingan pada 5 Februari 2026. Panitia Pelaksana (Panpel) PSIM dinilai melanggar Kode Disiplin PSSI Tahun 2025, khususnya Pasal 68 huruf c junto Pasal 69 ayat (1), dan keputusan denda tersebut tidak dapat diajukan banding.

Insiden ini menuai perhatian, termasuk dari model dan pemain film Elma Novita, yang melalui media sosial resmi PSIM mengingatkan, “Bikin tamu lain pada takut tau. Plis jangan diulangi. Tim juga rugi malah.” Selain insiden kembang api, kericuhan antarsuporter juga pecah di kawasan Prambanan seusai pertandingan, yang sempat mengganggu arus lalu lintas dan aktivitas warga.

PSIM Hadapi Jadwal Padat di Bulan Ramadan

Di tengah hasil kurang memuaskan dan sanksi yang diterima, PSIM Yogyakarta juga tengah menghadapi tantangan jadwal padat di bulan suci Ramadan 1447 H. Manajemen PSIM telah melakukan penyesuaian jadwal latihan untuk menjaga kebugaran pemain. Manajer PSIM, Razzi Taruna, menjelaskan bahwa latihan yang sebelumnya sering dilakukan pagi hari kini digeser ke sore hari. “Jika biasanya kami sudah mulai berlatih pada pukul 15.30 WIB, sekarang kami geser sedikit menjadi pukul 16.00 WIB untuk mengakomodir teman-teman yang sedang menjalankan ibadah puasa. Sehingga saat sesi latihan berakhir, waktunya bisa langsung bertepatan dengan jam buka puasa,” ujar Razzi Taruna. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada libur khusus di awal Ramadan karena tim harus bersiap menghadapi laga-laga penting di BRI Super League.

Gelandang asing Laskar Mataram, Ze Valente, turut meminta suporter untuk bersabar menyikapi performa tim yang belum meraih kemenangan di empat laga terakhir. PSIM berkomitmen untuk melestarikan tradisi dan nilai Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, serta memberdayakan putra daerah, sembari berusaha menjadi klub sepak bola profesional yang modern.