Deutsche Bank Proyeksikan Harga Perak Rata-rata US$45 per Ons di 2026

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

Harga global terus menjadi sorotan investor di awal tahun 2026, dengan merilis proyeksi terbarunya. Bank investasi global tersebut memperkirakan harga rata-rata perak akan berada di level US$45 per ons pada tahun 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan dari perkiraan sebelumnya sebesar US$40 per ons, meskipun Deutsche Bank tetap mempertahankan pandangan yang lebih terukur untuk logam putih ini.

Proyeksi Deutsche Bank ini muncul di tengah defisit pasokan fisik perak yang telah berlangsung selama lima tahun berturut-turut. Namun, bank tersebut juga mempertimbangkan potensi normalisasi permintaan industri sebagai faktor penyeimbang. Michael Hsueh, seorang analis komoditas di Deutsche Bank, bahkan mencatat bahwa logam mulia secara bertahap mulai mengungguli emas, menantang pola historis yang ada.

Proyeksi Beragam dari Lembaga Keuangan Lain

Sementara Deutsche Bank menawarkan pandangan yang lebih konservatif untuk perak, pasar secara keseluruhan menunjukkan rentang perkiraan yang sangat bervariasi untuk tahun 2026. Kontrak berjangka perak CME memproyeksikan harga rata-rata akhir tahun mendekati US$91,235 per ons. Di sisi lain, TD Securities memberikan perkiraan yang lebih rendah di US$49,25, sedangkan Bank of America sangat optimistis dengan puncak US$309,00 per ons. Citigroup, yang juga menaikkan perkiraan jangka pendeknya, melihat harga perak di kisaran US$70 per ons untuk tahun ini.

Analis dari Heraeus, misalnya, memproyeksikan perak akan diperdagangkan antara US$43 dan US$62 per ons pada 2026, dengan kemungkinan penurunan di paruh pertama tahun sebelum fase konsolidasi. Trading Economics, berdasarkan model makro global, memperkirakan perak akan diperdagangkan pada US$83,96 per ons pada akhir kuartal ini dan mencapai US$98,76 dalam 12 bulan ke depan. Bahkan, beberapa laporan media menyebutkan bahwa harga perak berpotensi menembus US$100 per ons pada 2026.

Faktor Pendorong Utama Harga Perak

Kenaikan harga perak didorong oleh kombinasi faktor fundamental dan makroekonomi. Permintaan industri menjadi pendorong utama, terutama dari sektor energi surya dengan peningkatan instalasi panel surya global, komponen 5G, semikonduktor, serta kendaraan listrik (EV). Banyak sektor ini tidak memiliki substitusi yang efisien untuk perak, membuat permintaan relatif tidak elastis terhadap kenaikan harga.

Selain itu, defisit pasokan fisik yang terus-menerus menjadi faktor krusial. Lebih dari 70 persen produksi perak global berasal sebagai produk sampingan dari tambang logam lain seperti tembaga dan seng, yang berarti produksi tidak dapat ditingkatkan dengan cepat hanya karena harga perak naik. Kurangnya investasi di sektor pertambangan juga memperparah kendala pasokan.

Dari sisi makro, perak tetap kokoh sebagai instrumen lindung nilai inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Prospek pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral, termasuk potensi penurunan suku bunga Federal Reserve, serta pelemahan dolar AS, juga mendukung kenaikan harga logam mulia. Ancaman tarif global yang diterapkan oleh administrasi AS juga dapat memicu ‘perdagangan pengurangan nilai’ dan mendorong investor mencari aset aman.

Pergerakan Harga Terkini dan Risiko

Pada 27 Februari 2026, harga perak global melonjak menjadi US$93,82 per troy ons. Di pasar domestik, harga perak Antam juga terpantau naik drastis, mencapai Rp58.050 per gram pada 28 Februari 2026. Kenaikan ini mencerminkan sentimen bullish yang kuat di pasar.

Namun, para analis juga mengingatkan akan potensi risiko. Harga yang tinggi dapat mengurangi permintaan perak di sejumlah sektor, seperti perhiasan dan peralatan makan, terutama di pasar besar seperti India. Selain itu, pasar perak saat ini berada dalam fase ‘bull market’ yang matang, sehingga potensi koreksi besar mungkin akan menyusul setelah periode booming berakhir. Volatilitas tinggi juga menjadi karakteristik pasar perak karena sifat aset dan strategi spekulatif yang digunakan.

Secara keseluruhan, meskipun Deutsche Bank mengambil pandangan yang lebih terukur, konsensus pasar menunjukkan optimisme struktural terhadap perak hingga tahun 2030, didorong oleh identitas gandanya sebagai logam industri vital dan instrumen lindung nilai inflasi.