Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas pada awal tahun 2026, dengan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) mencapai titik kritis. Kekhawatiran akan pecahnya konflik regional mendorong sejumlah negara, termasuk AS, Inggris, dan China, untuk mulai mengevakuasi staf diplomatik serta warga negara mereka dari Iran dan wilayah-wilayah rawan lainnya.
Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan pesimisme terhadap upaya diplomatik yang sedang berlangsung untuk mencegah serangan udara ke Iran. “Saya tidak senang dengan negosiasi ini,” ujar Trump kepada wartawan di Texas pada Jumat (27/2). “Kami sedang bernegosiasi sekarang, tetapi mereka tidak memberikan jawaban yang tepat.” Ketika ditanya mengenai seberapa dekat keputusan untuk melancarkan serangan militer, Trump menjawab singkat, “Saya lebih baik tidak mengatakannya kepada Anda.”
Langkah Evakuasi dan Peringatan Perjalanan
Menyikapi situasi yang memburuk, Washington telah mengizinkan staf non-darurat di kedutaan besarnya di Yerusalem untuk meninggalkan Israel, mengingat kerentanan Israel terhadap serangan balasan Iran jika AS terlibat dalam serangan. Perintah evakuasi serupa juga telah dikeluarkan untuk misi diplomatik AS di Beirut pada Senin sebelumnya.
Tidak hanya AS, beberapa negara lain juga mengambil langkah serupa. China secara tegas mendesak warganya untuk segera meninggalkan Iran, mengutip peningkatan signifikan risiko keamanan eksternal akibat ancaman serangan AS. Kementerian Luar Negeri China menyarankan warga untuk memperkuat tindakan pencegahan keselamatan dan menghindari perjalanan ke Iran untuk sementara waktu. Kedutaan dan konsulat Beijing di Iran serta negara-negara tetangga siap memberikan bantuan bagi warga yang ingin pindah melalui penerbangan komersial atau jalur darat.
Selain itu, Inggris menyatakan akan menarik staf diplomatiknya dari Iran untuk sementara waktu. Negara-negara seperti Australia, Jerman, India, Polandia, Serbia, Korea Selatan, Swedia, dan Singapura juga telah mengeluarkan peringatan perjalanan atau imbauan evakuasi bagi warga negaranya yang berada di Iran dan Lebanon.
Pengerahan Militer dan Buntu Negosiasi
Eskalasi ini terjadi di tengah pengerahan kekuatan militer besar-besaran oleh AS di kawasan Timur Tengah. Laporan menyebutkan AS telah menyiagakan 16 kapal perang dengan total 40.000 personel serta 7 skuadron udara yang masing-masing terdiri dari 70 jet tempur di berbagai pangkalan. Di sisi lain, militer Iran juga berada dalam status siaga penuh, menempatkan sistem rudalnya di dekat perbatasan Irak dan sepanjang Teluk Persia, serta terus menggelar latihan militer termasuk di Selat Hormuz.
Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan masih terus berjalan, meskipun dengan hasil yang belum memuaskan. Perundingan tidak langsung antara AS dan Iran di Jenewa pada Kamis (26/2) menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan pembahasan di Wina pekan depan. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, yang memediasi perundingan tersebut, sempat menyatakan “perdamaian masih dalam jangkauan” usai bertemu Wakil Presiden AS JD Vance. Namun, Presiden Trump memberikan sinyal sebaliknya, menegaskan, “Kami belum membuat keputusan akhir,” terkait serangan udara, dan menambahkan, “Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan kami tidak senang dengan cara mereka bernegosiasi.”
Tim negosiator AS, yang dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, dilaporkan meninggalkan Jenewa dengan rasa kecewa. Washington menuntut Iran untuk membongkar tiga situs nuklir utamanya dan menyerahkan seluruh sisa uranium yang diperkaya. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa penolakan Teheran untuk membahas rudal balistik adalah “masalah yang sangat besar.” Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya sama sekali tidak berniat mengembangkan senjata nuklir.
Sikap Indonesia dan Dampak Global
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) terus memantau situasi dengan cermat. Pelaksana Tugas Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) Kemlu RI, Heni Hamidah, memastikan bahwa status keamanan Siaga 1 untuk Iran yang telah berlaku sejak Juni 2025 masih tetap berlaku. Meskipun situasi di Teheran dan kota-kota lain terpantau kondusif, Kemlu RI telah menyiapkan semua rencana kontingensi, termasuk berbagai opsi jalur evakuasi apabila diperlukan. WNI diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan menjaga komunikasi dengan KBRI Teheran.
Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada kawasan, tetapi juga memukul pasar global, terutama harga minyak dunia, mengingat posisi strategis Iran yang menguasai Selat Hormuz. Indonesia, sebagai negara importir minyak mentah, secara langsung akan terdampak oleh lonjakan harga minyak global. Krisis ini juga menjadi penanda percepatan transisi menuju tatanan dunia multipolar, di mana AS tidak lagi dapat bertindak sepihak tanpa memperhitungkan respons dari kekuatan lain seperti China.