Dalam hiruk pikuk mobilitas perkotaan modern, aplikasi navigasi telah menjadi sahabat tak terpisahkan bagi jutaan orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan oleh aplikasi seperti Waze dan Moovit, tak banyak yang menyadari bahwa kedua raksasa teknologi ini memiliki akar yang sama kuat di Israel, sebuah negara yang dikenal sebagai ‘Startup Nation’.
Waze: Navigasi Real-Time Berbasis Komunitas dari Tanah Israel
Waze, aplikasi peta digital yang dikenal dengan pembaruan lalu lintas real-time-nya, lahir dari sebuah proyek komunitas bernama FreeMap Israel pada tahun 2006. Inisiatif ini digagas oleh Ehud Shabtai, yang kemudian bersama Uri Levine dan Amir Shinar mendirikan Waze Ltd. pada tahun 2008 di Israel. Aplikasi ini dengan cepat menarik perhatian berkat pendekatannya yang unik: mengandalkan data crowdsourcing dari penggunanya untuk memberikan informasi terkini mengenai kemacetan, kecelakaan, lokasi polisi, hingga harga bahan bakar.
Puncaknya, pada Juni 2013, Google mengakuisisi Waze dalam sebuah kesepakatan yang dilaporkan bernilai antara US$966 juta hingga US$1,3 miliar. Akuisisi ini menjadi salah satu pembelian terbesar Google saat itu dan menegaskan pentingnya data peta berbasis komunitas. Menariknya, Google memutuskan untuk mempertahankan tim pengembangan Waze di Israel sebagai entitas terpisah, menunjukkan pengakuan terhadap inovasi yang berasal dari negara tersebut. Hingga saat ini, Waze terus berkembang dengan lebih dari 130 juta pengguna aktif bulanan di seluruh dunia, dan terus meluncurkan fitur-fitur baru seperti peningkatan laporan kejadian di jalan, notifikasi cuaca berbahaya, serta panduan jalur yang lebih jelas di persimpangan kompleks, yang diperkenalkan pada awal tahun 2026.
Moovit: Solusi Mobilitas Publik Multimoda yang Diakuisisi Intel
Tak kalah inovatif, Moovit hadir sebagai penyedia layanan mobilitas (Mobility as a Service/MaaS) dan aplikasi perencana perjalanan yang berfokus pada transportasi umum. Didirikan di Tel Aviv, Israel, pada tahun 2012 oleh Nir Erez, Roy Bick, dan Yaron Evron, Moovit dengan cepat menjadi platform penting bagi pengguna yang mencari rute bus, kereta api, dan angkutan umum lainnya. Aplikasi ini menggabungkan data resmi dari operator transit dengan informasi crowdsourcing dari komunitas penggunanya, memungkinkan penyediaan data transit bahkan di area yang belum memiliki informasi resmi.
Pada Mei 2020, raksasa semikonduktor Intel mengakuisisi Moovit dengan nilai sekitar US$900 juta. Akuisisi ini bukan tanpa alasan strategis. Intel berencana mengintegrasikan data dan teknologi Moovit dengan Mobileye, perusahaan teknologi kendaraan otonom asal Israel lainnya yang telah diakuisisi Intel pada tahun 2017. Tujuannya adalah untuk mempercepat visi Intel dalam menjadi penyedia mobilitas lengkap, termasuk layanan robotaxi, yang diproyeksikan menjadi peluang pasar senilai US$160 miliar pada tahun 2030. Saat diakuisisi, Moovit telah melayani sekitar 800 juta pengguna di 3.100 hingga 3.200 kota di lebih dari 100 negara. Hingga kini, Moovit tetap beroperasi sebagai aplikasi yang menyediakan perencanaan perjalanan multimoda, termasuk layanan sepeda, skuter, ride-hailing, dan berbagi mobil.
Kisah Moovit dan Waze adalah bukti nyata bagaimana inovasi teknologi dari Israel telah meresap ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat global, mengubah cara kita bergerak dan berinteraksi dengan lingkungan perkotaan. Kedua aplikasi ini tidak hanya mempermudah perjalanan, tetapi juga menunjukkan dampak signifikan dari ekosistem startup Israel di panggung teknologi dunia.