Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) makanan ringan Luckybite berhasil menunjukkan pertumbuhan bisnis yang signifikan, didorong oleh adopsi digitalisasi dan strategi cerdas dalam memanfaatkan momentum musiman. Perusahaan ini kini tidak hanya mencatat lonjakan penjualan hingga 100% di pasar domestik, tetapi juga sukses menembus pasar ekspor ke Singapura dan Malaysia.
Julius Christian Darmawan, salah satu pemilik Luckybite, mengungkapkan bahwa model bisnis online-first menjadi kunci utama. Sejak awal berdiri, Luckybite memang tidak mengoperasikan toko fisik, melainkan memfokuskan penjualan melalui platform marketplace dan media sosial, dengan Shopee sebagai kanal utama. Pendekatan ini dinilai efektif menekan biaya distribusi dan operasional berkat sistem logistik dan pembayaran yang terintegrasi.
Momentum hari besar keagamaan dan perayaan menjadi pendorong utama peningkatan permintaan produk Luckybite. Perusahaan ini mencatat lonjakan penjualan yang fantastis, mencapai dua kali lipat atau 100% dibandingkan periode low season, terutama saat Natal, Imlek, dan Ramadan. “Kami memanfaatkan momentum Lebaran, Natal, dan Imlek. Kenaikannya bisa sampai 100% dibandingkan periode low season,” ujar Julius Christian Darmawan.
Pada periode Ramadan, Luckybite berhasil mencatat ribuan transaksi bulanan, bahkan mendekati 5.000 pesanan. Produk hampers menjadi kontributor utama penjualan selama periode tersebut. Untuk mengantisipasi puncak permintaan yang umumnya terjadi dua pekan menjelang Lebaran, Luckybite mulai meningkatkan kapasitas produksi sekitar satu bulan sebelumnya. Steven Marselie, pemilik Luckybite lainnya, menambahkan bahwa perusahaan menyiapkan stok awal hingga sekitar 1.000 paket hampers guna menjaga kesinambungan pasokan.
Perjalanan Luckybite tidak selalu mulus. Julius Christian Darmawan dan Steven Marselie menceritakan bahwa bisnis ini berawal dari eksperimen di dapur rumahan dengan bahan utama oatmeal. Mereka sempat menghadapi kegagalan produksi akibat keterbatasan mesin dan kualitas yang tidak konsisten saat mencoba produk berbahan sayuran, yang kemudian mengarahkan mereka untuk fokus pada produk berbasis biji-bijian seperti oatmeal cookies.
Masa pandemi COVID-19 juga menjadi tantangan berat dengan penurunan penjualan yang tajam. Namun, periode tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat portofolio produk dengan menambah lini seperti brownies, vegan cookies, dan granola syrup, yang secara bertahap mendorong pemulihan permintaan. Kini, produk Luckybite telah menjangkau pasar internasional, dengan keberhasilan ekspor ke Singapura dan Malaysia. Luckybite bahkan memiliki toko daring resmi di Shopee Singapura.
Pemanfaatan fitur promosi platform digital, seperti voucher dan kampanye musiman, turut berperan dalam memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan konversi penjualan. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran pola UMKM dari sekadar responsif menjadi lebih berbasis perencanaan permintaan (demand planning), khususnya pada sektor makanan dan minuman yang sangat dipengaruhi siklus musiman.