Pasar pengiriman minyak mentah global tengah mengalami gejolak signifikan di awal tahun 2026, ditandai dengan lonjakan tajam pada biaya sewa supertanker, terutama untuk rute krusial antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Kenaikan drastis ini merupakan hasil dari kombinasi strategi agresif perusahaan pelayaran Korea Selatan, Sinokor Group, dalam menguasai armada Very Large Crude Carrier (VLCC), serta ketegangan geopolitik yang memanas di berbagai wilayah maritim.
Sinokor Group telah muncul sebagai pemain dominan di pasar VLCC global, sebuah posisi yang dicapai melalui kampanye akuisisi yang belum pernah terjadi sebelumnya di awal tahun 2026. Perusahaan ini dilaporkan telah mengakuisisi 35 dari 45 kesepakatan jual beli VLCC yang terjadi sepanjang tahun ini, secara efektif menyerap hampir seluruh likuiditas pasar yang tersedia. Dengan mengendalikan sekitar 78 hingga 100 kapal VLCC, dan proyeksi akan mencapai 120-130 unit, Sinokor kini menguasai sekitar 11-16% dari total armada VLCC global yang berjumlah sekitar 1.032 kapal operasional.
Tarif Pengiriman Melonjak ke Level Tertinggi
Dominasi Sinokor ini, yang disebut sebagai ‘taruhan sekali seumur hidup’ oleh para pelaku pasar, telah mendorong biaya sewa supertanker ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Biaya menyewa supertanker dari Pantai Teluk AS ke Tiongkok mencapai US$17,3 juta per pelayaran pada Februari 2026, angka tertinggi sejak tahun 2020. Sementara itu, tarif sewa harian VLCC untuk rute Timur Tengah ke Tiongkok melonjak hampir tiga kali lipat tahun ini, mencapai lebih dari US$170.000 per hari, juga merupakan level tertinggi sejak April 2020.
Lonjakan tarif ini tidak hanya disebabkan oleh konsentrasi kepemilikan armada, tetapi juga diperparah oleh sejumlah faktor geopolitik dan dinamika pasar. Krisis keamanan di Laut Merah, yang memaksa kapal-kapal untuk mengambil rute lebih panjang mengelilingi Tanjung Harapan di Afrika, menambah waktu tempuh dan biaya operasional secara signifikan.
Ketegangan Geopolitik dan Dinamika Pasar
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran juga menjadi pemicu utama. Kekhawatiran akan potensi konflik militer di Selat Hormuz, jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia, telah meningkatkan premi asuransi risiko perang dan mendorong pemilik kapal untuk menuntut kompensasi lebih tinggi. Anoop Singh, kepala riset perkapalan global di Oil Brokerage Ltd., menyatakan, “Aksi militer di Timur Tengah kemungkinan akan mendorong tarif VLCC ke level yang belum pernah terlihat sejak 2019.”
Selain itu, peningkatan ekspor minyak dari Timur Tengah, terutama dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Iran, yang dipimpin oleh permintaan dari Tiongkok dan India, turut menekan ketersediaan kapal. Perubahan rute pelayaran akibat sanksi terhadap Rusia dan pengalihan minyak Venezuela dari ‘shadow fleet’ ke pasar komersial juga meningkatkan permintaan akan tanker resmi, semakin memperketat pasokan. Kepadatan pelabuhan, khususnya di Tiongkok, juga mengurangi kapasitas efektif armada global.
June Goh, analis senior di Sparta Commodities, menambahkan bahwa “Tarif pengiriman VLCC dipengaruhi banyak faktor fundamental positif, dimulai dari pergerakan barel Venezuela melalui jalur resmi dibandingkan dark fleet sebelumnya, peningkatan produksi OPEC+, dan permintaan minyak yang sehat dari kilang, terutama India, yang beralih dari barel Rusia ke Timur Tengah.”
Dengan kondisi pasar yang sangat ketat dan ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut, para analis memperkirakan bahwa tarif pengiriman supertanker akan tetap tinggi sepanjang tahun 2026, berpotensi memengaruhi harga energi global dan rantai pasok.