Dua tahun setelah Sir Jim Ratcliffe, melalui perusahaannya INEOS, merampungkan akuisisi 27,7% saham minoritas Manchester United pada Februari 2024, Old Trafford telah menjadi saksi bisu gelombang perubahan yang masif. Miliarder Inggris ini mengambil alih kendali operasional sepak bola dengan janji mengembalikan kejayaan klub, namun perjalanannya diwarnai restrukturisasi brutal, keputusan kontroversial, dan ambisi besar yang masih dalam tahap awal.
Restrukturisasi Manajemen dan Perombakan Staf
Kedatangan Ratcliffe menandai era baru dengan fokus pada efisiensi dan membangun struktur manajemen kelas dunia. Salah satu langkah signifikan adalah penunjukan Omar Berrada sebagai CEO baru, yang efektif bergabung pada Juli 2024 setelah direkrut dari rival sekota Manchester City. Upaya ambisius juga dilakukan untuk membawa Dan Ashworth sebagai Direktur Olahraga dari Newcastle United. Ashworth akhirnya bergabung pada Juli 2024, namun secara mengejutkan meninggalkan klub dengan kesepakatan bersama pada Desember 2024, kurang dari enam bulan setelah penunjukannya. Kepergian Ashworth dilaporkan menelan biaya sekitar £37 juta, yang ironisnya menghapus sebagian penghematan dari kebijakan pemotongan biaya.
Di bangku pelatih, terjadi pergantian cepat. Erik ten Hag dipecat pada Oktober 2024, dan posisinya digantikan oleh Ruben Amorim. Namun, Amorim hanya bertahan 14 bulan sebelum dipecat pada Januari 2026 menyusul performa yang mengecewakan. Michael Carrick kemudian ditunjuk sebagai pelatih kepala interim.
Efisiensi Ekstrem dan Badai Kontroversi
Ratcliffe dengan tegas menerapkan kebijakan efisiensi dan pemotongan biaya yang digambarkan sebagai “brutal” oleh beberapa pihak. Sekitar 250 staf diberhentikan pada Juli 2024, diikuti oleh 200 staf lainnya, sehingga total sekitar 450 karyawan kehilangan pekerjaan. Kebijakan ini juga mencakup penghapusan fasilitas seperti perjalanan gratis untuk staf ke final Piala FA, makan siang gratis, serta pembatalan pesta Natal dan bonus. Bahkan, peran duta besar legendaris Sir Alex Ferguson dilaporkan diakhiri pada Oktober 2024 sebagai bagian dari langkah penghematan.
Langkah-langkah ini memicu kritik keras dan disebut menyebabkan moral staf anjlok. Ratcliffe membela keputusannya, menyatakan bahwa “keputusan sulit dan tidak populer” ini diperlukan untuk membuat United lebih efisien dan berkelanjutan, mengingat klub telah mengalami kerugian finansial yang signifikan. Ia pernah mengatakan, “Manchester United telah menjadi biasa-biasa saja. Seharusnya menjadi salah satu klub sepak bola terbaik di dunia. Kami harus membuat beberapa keputusan sulit dan tidak populer.”
Kontroversi terbaru dan paling mencolok muncul pada Februari 2026, ketika Ratcliffe membuat pernyataan kontroversial mengenai imigrasi, mengklaim bahwa Inggris telah “dijajah” oleh imigran. Komentar ini menuai kecaman luas dari kelompok penggemar, organisasi anti-diskriminasi seperti Kick It Out, dan tokoh politik. Kick It Out menyebut pernyataan tersebut “memalukan dan sangat memecah belah.” Ratcliffe kemudian meminta maaf jika “pilihan bahasanya telah menyinggung beberapa orang di Inggris dan Eropa.” Asosiasi Sepak Bola (FA) hanya mengingatkannya akan tanggung jawabnya tanpa menjatuhkan sanksi signifikan, sebuah keputusan yang mengecewakan Kick It Out.
Strategi Transfer dan Performa di Lapangan
Di bawah kepemimpinan Ratcliffe, United mengadopsi strategi transfer baru yang lebih berbasis data, menjauh dari pengaruh tunggal manajer. Fokus diberikan pada pemain di bawah usia 25 tahun dan menghindari pembelian “Galacticos” untuk memastikan nilai jual kembali dan efektivitas biaya di masa depan. Pada musim panas 2024, klub menghabiskan sekitar £180 juta untuk mendatangkan pemain seperti Joshua Zirkzee, Leny Yoro, Matthijs de Ligt, Noussair Mazraoui, dan Manuel Ugarte. Rencana juga mencakup pelepasan pemain bergaji tinggi seperti Casemiro dan Christian Eriksen.
Namun, performa di lapangan masih menjadi tantangan. Musim 2024/2025 menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah klub, dengan Manchester United finis di posisi ke-15 Liga Primer, pencapaian terendah sejak musim 1973/74. Mereka juga kalah di final Liga Europa dari Tottenham. Pada musim 2025/2026, hingga Februari 2026, United menunjukkan sedikit perbaikan di bawah asuhan Michael Carrick, menempati posisi ke-4 di Liga Primer. Namun, mereka tersingkir lebih awal dari Piala FA dan Piala Liga, dan tidak berkompetisi di Eropa musim ini.
Visi Stadion Baru: “Wembley dari Utara”
Salah satu ambisi terbesar Ratcliffe adalah pembangunan stadion baru berkapasitas 100.000 tempat duduk, yang dijuluki “Wembley dari Utara,” di lokasi Old Trafford saat ini. Proyek ini merupakan bagian dari rencana regenerasi yang lebih luas untuk area Old Trafford, yang bertujuan menciptakan 15.000 hingga 17.000 rumah baru dan 90.000 lapangan kerja, serta berpotensi menyumbang £7-7,3 miliar per tahun bagi ekonomi Inggris. Biaya pembangunan stadion baru diperkirakan mencapai £2 miliar, dengan keseluruhan proyek regenerasi sekitar £4,2 miliar. Pada Januari 2026, sebuah “tonggak penting” tercapai dengan peluncuran resmi Old Trafford Regeneration Mayoral Development Corporation (OTR MDC). Namun, CEO Omar Berrada mengakui bahwa investasi besar ini berisiko memengaruhi pengeluaran klub untuk transfer pemain dan daya saing tim selama lima tahun ke depan.
Sir Jim Ratcliffe telah berulang kali meminta kesabaran dari para penggemar, menegaskan bahwa mengembalikan Manchester United ke puncak adalah proses jangka panjang. “Ini bukan sakelar lampu,” ujarnya. “Kami tidak bisa begitu saja menyalakan sakelar dan, tiba-tiba, United akan bermain sepak bola di level Real Madrid karena mereka belum melakukannya selama 11 tahun terakhir.”