Eizar Tanjung, Bintang Muda Sydney FC dan Timnas U-17, Ungkap Tantangan Berpuasa di Australia

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

Eizar Jacob Tanjung, nama yang semakin dikenal di kancah sepak bola Indonesia dan Australia, kini menjadi sorotan. Pemain muda berusia 17 tahun yang memperkuat II di National Premier Leagues (NPL) Australia ini tak hanya menorehkan prestasi di level klub, tetapi juga telah dipanggil untuk membela di Piala Dunia U-17 2025 Qatar. Namun, di balik gemilangnya karier, Eizar berbagi kisah tentang rintangan unik yang dihadapinya sebagai pesepak bola Muslim di Negeri Kanguru, terutama saat menjalani ibadah puasa .

Lahir pada 30 Agustus 2008 di Australia, Eizar memiliki darah Indonesia yang kental dari sang ibu yang berasal dari Cianjur, Jawa Barat, serta ayahnya yang berdarah Jakarta dan Padang. Perjalanan sepak bolanya dimulai sejak usia empat tahun, meniti karier dari klub akar rumput hingga bergabung dengan akademi Sydney FC. Fleksibilitasnya di lapangan, mampu bermain sebagai gelandang bertahan, bek kiri, maupun bek kanan, menjadikannya aset berharga bagi timnya.

Menjalani Ramadan di Tengah Kompetisi Ketat

Salah satu tantangan terbesar yang diungkapkan Eizar adalah bagaimana ia menyeimbangkan ibadah puasa Ramadan dengan tuntutan fisik sebagai atlet profesional. Di Australia, di mana komunitas Muslim tidak sebesar di Indonesia, ia harus bersaing dengan rekan setim yang tidak berpuasa dan berada dalam kondisi fisik prima.

“Bagi mereka yang Muslim, cukup berat bersaing dengan pemain lain yang benar-benar dalam kondisi prima dan sehat. Mereka makan, minum, tetap terhidrasi, dan memenuhi kebutuhan nutrisi dengan baik. Sementara hanya sedikit pemain Muslim di tim saya, misalnya, jadi kami seperti sedikit tertinggal. Tapi tidak apa-apa,” ungkap Eizar.

Meski demikian, semangat Eizar tak pernah padam. Ia justru merasakan adanya kekuatan spiritual yang membantunya tampil lebih baik. “Kami tetap datang, tetap bermain, tetap berjuang. Dan biasanya saya justru bermain lebih baik selama bulan Ramadan. Bulan ini benar-benar membantu saya untuk lebih dekat dengan Tuhan dan tampil maksimal, baik di dalam maupun di luar lapangan,” tambahnya.

Eizar juga menceritakan rutinitasnya saat berbuka puasa di hari pertandingan. “Sebelum pertandingan, tepat sebelum saya berjalan keluar ke lapangan, saya makan kurma, makan pisang, lalu minum gel energi dan Gatorade. Saya benar-benar kenyang. Saya benar-benar menghabiskannya, lalu langsung harus bermain,” ujarnya. Ia bahkan berhasil mencetak satu assist dalam pertandingan yang dimainkan saat berpuasa, membawa timnya menang 2-1.

Kebanggaan Beridentitas Muslim dan Indonesia

Bulan Ramadan memiliki makna spesial bagi Eizar dan keluarganya. Ia menegaskan identitas Muslimnya dengan bangga. “Tapi ya, Ramadan, bulan suci ini, adalah sesuatu yang spesial bagi saya dan seluruh keluarga saya. Sejak saya tumbuh besar, sejak saya lahir, saya selalu seorang Muslim,” kata Eizar.

Ia menyadari bahwa sebagian orang mungkin mengira dirinya beragama Kristen karena tumbuh di Australia. Namun, Eizar dengan tegas menyatakan, “Dan ya, mungkin orang-orang di luar sana yang tidak terlalu mengenal saya berpikir saya orang Australia dan beragama Kristen. Tapi saya benar-benar seorang Muslim. Dan saya bangga.”

Selain tantangan berpuasa, Eizar juga menghadapi dinamika sepak bola di Australia yang tidak sepopuler di Indonesia, serta sulitnya menyeimbangkan pendidikan formal yang wajib dengan jadwal latihan yang padat sejak dini hari. Dukungan sang ayah, yang juga seorang pesepak bola dan pelatih pertamanya, menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya.

Dengan pengalaman bermain di Sydney FC II dan panggilan Timnas U-17, termasuk debutnya di Piala Kemerdekaan 2025 dengan satu assist, Eizar Jacob Tanjung menjadi salah satu harapan baru bagi sepak bola Indonesia. Ia berambisi untuk menembus Timnas Indonesia senior, menunjukkan dedikasi dan kualitasnya di kancah internasional.