Eizar Tanjung Ungkap Perjuangan dan Kebanggaan Berpuasa di Tengah Kompetisi Sepak Bola Australia

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

, talenta muda sepak bola diaspora berdarah Australia-Indonesia yang kini memperkuat II, membagikan kisah perjuangannya menjalani ibadah puasa di tengah ketatnya kompetisi . Pengalamannya menyoroti tantangan unik yang dihadapi atlet Muslim di negara dengan populasi Muslim minoritas, sekaligus menegaskan kebanggaan akan identitas keagamaannya.

Pemain yang berposisi sebagai gelandang bertahan ini mengungkapkan bahwa periode Ramadan, yang bertepatan dengan jadwal latihan dan pertandingan, menjadi salah satu rintangan terbesar. “Hal tersulit menjadi pemain Muslim di Australia? Pasti bulan yang sedang kami jalani sekarang ini, bulan puasa dan segala hal yang menyertainya,” ujar Eizar dalam sebuah wawancara. Ia menambahkan bahwa jumlah Muslim yang tidak banyak di Australia membuat persaingan menjadi lebih berat.

Eizar, yang lahir pada 30 Agustus 2008, harus tetap berlatih dan bertanding sambil menahan lapar dan haus, sebuah kondisi yang berbeda jauh dengan rekan-rekan setimnya yang tidak berpuasa. “Bagi mereka yang Muslim, cukup berat bersaing dengan pemain lain yang benar-benar dalam kondisi prima dan sehat. Mereka makan, minum, tetap terhidrasi, dan memenuhi kebutuhan nutrisi dengan baik. Sementara hanya sedikit pemain Muslim di tim saya, misalnya, jadi kami seperti sedikit tertinggal. Tapi tidak apa-apa,” jelasnya. Meskipun demikian, Eizar justru merasakan peningkatan performa selama bulan suci ini. “Kami tetap datang, tetap bermain, tetap berjuang. Dan biasanya saya justru bermain lebih baik selama bulan Ramadan. Bulan ini benar-benar membantu saya untuk lebih dekat dengan Tuhan dan tampil maksimal, baik di dalam maupun di luar lapangan,” tambahnya.

Menjelang pertandingan, Eizar memiliki rutinitas berbuka puasa yang praktis namun efektif. Ia akan mengonsumsi kurma, pisang, gel energi, dan minuman isotonik seperti Gatorade tepat sebelum melangkah ke lapangan. “Sebelum pertandingan, tepat sebelum saya berjalan keluar ke lapangan, saya makan kurma, makan pisang, lalu minum gel energi dan Gatorade. Saya benar-benar kenyang. Saya benar-benar menghabiskannya, lalu langsung harus bermain. Saya berjalan keluar dengan perut penuh. Rasanya cukup enak,” ungkap Eizar.

Perjalanan Karier dan Panggilan Timnas

Eizar Jacob Tanjung memulai perjalanan sepak bolanya sejak usia empat tahun, mengikuti jejak sang ayah yang juga merupakan mantan pemain di komunitas sepak bola Indonesia di Australia, Minang Saiyo Tigers. Ayahnya bahkan menjadi pelatih pertamanya, menanamkan etos kerja, kerendahan hati, dan semangat untuk terus berkembang. Dengan darah Indonesia yang mengalir dari ibunya yang berasal dari Cianjur, Jawa Barat, serta ayahnya yang memiliki keturunan Jakarta dan Padang, Eizar kini menjadi salah satu harapan diaspora Indonesia.

Kiprahnya di Sydney FC II, yang berkompetisi di NPL New South Wales, telah menarik perhatian. Pada Juli 2025, Eizar dipanggil untuk mengikuti pemusatan latihan Timnas Indonesia U-17 sebagai persiapan menuju Piala Dunia U-17 2025 yang akan diselenggarakan di Qatar. Ini menjadi langkah besar bagi pemain berusia 17 tahun ini, setelah sebelumnya sempat mengikuti seleksi Timnas U-16 untuk Piala AFF 2024. Eizar juga memiliki ambisi untuk bisa menembus skuad Timnas U-20 di bawah asuhan pelatih Nova Arianto.

Dukungan Liga Australia untuk Pemain Muslim

Sebagai bentuk dukungan terhadap atlet Muslim, A-League, liga sepak bola profesional teratas di Australia, telah memperkenalkan inisiatif jeda pertandingan selama 90 detik. Jeda ini memungkinkan pemain Muslim untuk berbuka puasa saat pertandingan malam bertepatan dengan waktu matahari terbenam. Inisiatif yang pertama kali diterapkan pada musim 2023-2024 dan berlanjut di tahun 2025 ini, mendapat sambutan positif dari para pemain.

Gelandang Sydney FC, Anas Ouahim, yang juga seorang Muslim, memuji inisiatif tersebut. “Ini jelas menantang. Beberapa pekerjaan lebih menuntut fisik daripada yang lain, dan sebagai pesepak bola, Anda membutuhkan makanan dan air untuk tampil maksimal,” kata Ouahim. Ia menambahkan bahwa kesempatan untuk berbuka puasa tepat waktu sangat penting untuk hidrasi dan mengembalikan energi. Inisiatif ini memungkinkan para pemain untuk menjalankan ibadah mereka sambil tetap berprestasi di olahraga yang mereka cintai.