Kalangan ekonom memproyeksikan laju inflasi di Indonesia akan mengalami akselerasi pada Februari 2026. Peningkatan ini terutama didorong oleh lonjakan permintaan musiman menjelang bulan suci Ramadan. Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg memproyeksikan inflasi Februari secara bulanan (month-to-month/mtm) mencapai median 0,3 persen.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, bahkan memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia akan mencatat inflasi sebesar 0,42 persen secara bulanan pada Februari 2026. Angka ini menunjukkan pembalikan dari deflasi 0,15 persen secara bulanan yang terjadi pada Januari 2026. Asmoro menjelaskan, “Hal ini mencerminkan tekanan harga pangan yang lebih tinggi serta meningkatnya aktivitas selama Ramadan.”
Bank Indonesia Pastikan Inflasi Tetap Terkendali
Meskipun ada proyeksi kenaikan, Bank Indonesia (BI) meyakini inflasi akan tetap terjaga dalam kisaran targetnya. Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menyatakan bahwa inflasi pada periode Ramadan dan Idulfitri 2026 diperkirakan akan berada sedikit di atas 3 persen, namun masih dalam rentang target 1,5-3,5 persen. Aida menegaskan, “Inflasi Januari sedikit di atas target inflasi kita 3,5 persen, tapi ini sifatnya sementara.”
Kenaikan inflasi pada awal tahun ini, termasuk pada Januari 2026 yang tercatat 3,55 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sebagian besar disebabkan oleh efek basis rendah (low base effect). Hal ini merupakan dampak dari kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50 persen pada Januari-Februari 2025 yang masih terasa hingga Maret 2026. BI menilai kenaikan ini bersifat temporer dan bukan akibat tekanan permintaan yang berlebihan.
Faktor Pendorong dan Upaya Pengendalian
Selain faktor musiman Ramadan, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan juga turut menjadi pemicu inflasi. Sepanjang Februari, harga beras, daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai merah serta rawit dilaporkan mengalami kenaikan di mayoritas provinsi. Kenaikan harga cabai merah bahkan mencapai 83,02 persen di Sulawesi Utara.
Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta kementerian terkait di bawah koordinasi Kemenko Perekonomian. BI juga telah meluncurkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) yang berfokus pada penguatan ketahanan pangan melalui peningkatan pasokan dan kelancaran distribusi.
Dari sisi pasokan pangan, BI mencatat bahwa kondisi relatif aman seiring berlangsungnya musim panen komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit. Pemantauan harga secara mingguan juga terus dilakukan untuk memastikan pergerakan harga tetap sesuai proyeksi bank sentral. Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga bergerak mengawasi rantai pasok bahan pangan di ribuan titik untuk mencegah penimbunan dan spekulasi.