Pasar keuangan global bergejolak hebat menyusul serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah ini segera memicu lonjakan signifikan pada harga komoditas utama, terutama emas dan minyak, karena investor berbondong-bondong mencari aset aman di tengah ketidakpastian yang meningkat.
Harga emas dunia diproyeksikan melanjutkan reli kencang, dengan beberapa analis memperkirakan logam mulia ini berpotensi menembus level US$6.000 per troy ons dalam waktu dekat. Pada penutupan perdagangan Sabtu (28/2/2026), harga emas di pasar spot telah bergerak dari US$5.182 per troy ons dan melonjak 1,80 persen ke posisi US$5.278-5.280 per troy ons, menandai level tertinggi dalam sepekan terakhir.
Eskalasi Konflik dan Respons Iran
Serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 dilaporkan menargetkan lingkar kepemimpinan di Teheran. Bahkan, Presiden Donald Trump disebut-sebut telah mengindikasikan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia akibat serangan tersebut. Peristiwa ini disusul dengan operasi tempur besar-besaran oleh militer AS di bawah komando Presiden Trump.
Iran tidak tinggal diam, melancarkan serangan balasan berupa rudal ke arah Israel dan pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk, termasuk Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Selain itu, Teheran juga dilaporkan mulai membatasi akses perlintasan kapal di Selat Hormuz, jalur strategis yang vital bagi ekspor minyak dunia. Selat ini merupakan arteri utama yang dilalui sekitar 20 hingga 33 persen pasokan minyak global dan 20-25 persen perdagangan gas alam cair (LNG) dunia.
Konflik ini telah memicu reaksi luas dari komunitas internasional, termasuk seruan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar semua pihak menghentikan permusuhan dan mencari solusi diplomatik guna mencegah konflik meluas menjadi skala regional yang lebih besar.
Emas sebagai Pelabuhan Aman Investor
Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, menegaskan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi katalis utama lonjakan harga emas. Dalam situasi perang dan ketidakpastian global, investor cenderung memburu aset safe haven untuk melindungi nilai kekayaan mereka.
“Ada indikasi, jika perang masih terus berkecamuk, kemungkinan besar level 6.000 Dollar AS per troy ounce akan tercapai di bulan Maret ini,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (1/3/2026). Ia menambahkan, kondisi ini bisa mendorong harga emas dunia melonjak ke level US$5.500 per troy ounce dalam hitungan jam atau hari. Secara mingguan, kenaikan harga emas telah mencapai 3,12 persen, dengan harga global sejak Jumat (27/2/2026) berada di US$5.277,29 per troy ons, naik 1,74 persen dari perdagangan sebelumnya.
Di pasar domestik, kenaikan harga emas global dipastikan berdampak langsung. Ibrahim memperkirakan harga emas dalam negeri bisa menembus Rp3,4 juta per gram. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga turut memperkuat kenaikan harga logam mulia di Indonesia.
Florian Weidinger, Head of Investment Santa Lucia Asset Management, menyatakan bahwa ketika ketidakpastian meningkat dan pasar tidak yakin terhadap arah konflik, emas hampir selalu menjadi pilihan pertama investor global. Senada, Analis Anuj Gupta memproyeksikan harga emas kemungkinan akan menguji level US$5.300 hingga US$5.350.
Dampak pada Pasar Minyak dan Ekonomi Global
Selain emas, harga minyak dunia juga diperkirakan melonjak tinggi akibat konflik ini. Pada perdagangan Jumat (27/2/2026), harga minyak mentah Brent ditutup naik US$1,73 (2,45%) ke level US$72,48 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,81 (2,78%) menjadi US$67,02 per barel.
Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih, memperkirakan harga kontrak berjangka minyak mentah berpotensi melonjak 5-7 dolar AS per barel saat perdagangan dibuka. Jika konflik berkepanjangan dan mengganggu pasokan, terutama melalui Selat Hormuz, harga minyak berpotensi melonjak di atas US$100 per barel. Kenaikan ini dapat menambah inflasi global sebesar 0,6 hingga 0,7 poin persentase.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), memperingatkan potensi guncangan ekonomi serius bagi Indonesia, termasuk lonjakan harga BBM dan terputusnya suplai minyak mentah. “Tentu harga minyak naik. Pasti, itu pertama. Ya kita biasanya mengimpor minyak dari Timur Tengah karena kita kekurangan. Sekarang pasti setop. Jadi, ekonomi kita akan terkena di situ,” ujar JK di Jakarta, Minggu (1/3/2026).
Di sisi lain, pasar saham global cenderung mengalami penurunan dalam jangka pendek. Namun, data historis menunjukkan bahwa pemulihan pasar saham pasca-konflik cenderung cepat, berkisar antara satu hingga empat bulan. Dolar AS dan yen Jepang juga turut diburu investor sebagai aset safe haven. Volatilitas pasar keuangan secara keseluruhan menguat, dengan indeks volatilitas VIX tercatat naik sepertiga sepanjang tahun ini.
Sebagai respons, kelompok produsen minyak OPEC+ telah menyepakati kenaikan produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk meredam lonjakan harga minyak. Namun, gangguan pada transportasi udara juga terjadi, dengan laporan kerusakan pada terminal bandara di Abu Dhabi dan Dubai, serta pembatalan penerbangan di kawasan Teluk.