Pelatih legendaris Italia, Fabio Capello, kembali menyuarakan keprihatinannya terhadap performa klub-klub Serie A di kancah Liga Champions. Menurut Capello, akar masalah utama terletak pada tempo permainan yang cenderung lambat di kompetisi domestik Italia, sebuah faktor yang membuat wakil-wakil Serie A kewalahan saat berhadapan dengan tim-tim Eropa yang mengandalkan intensitas tinggi. Komentar ini muncul di tengah musim 2025/2026 yang penuh tantangan bagi klub-klub Italia, di mana Inter Milan dan Juventus telah tersingkir secara mengejutkan, menyisakan Atalanta sebagai satu-satunya harapan di babak 16 besar.
Tempo Lambat Serie A Jadi Sorotan Capello
Dalam analisisnya yang tajam, Capello, yang pernah memimpin AC Milan meraih gelar Liga Champions 1993-1994, menjelaskan bahwa tim-tim Italia tidak terbiasa bermain dalam kecepatan tinggi di liga mereka sendiri. Hal ini menjadi kendala serius ketika mereka menghadapi lawan yang menerapkan strategi press-and-run. “Tim-tim Italia bermain dengan tempo lambat. Ketika mereka menghadapi tim yang bermain press-and-run, mereka tidak memiliki kualitas, tidak terbiasa bermain dengan tempo tinggi, dan membuat kesalahan,” ujar Capello. Ia menambahkan bahwa di Serie A, begitu tempo permainan meningkat, seringkali terjadi pelanggaran keras atau pemain mudah terjatuh, yang menghambat aliran permainan agresif. “Inilah hasilnya. Kita bermain dengan tempo lambat, dan ketika itu terjadi, sulit untuk menjadi berbahaya,” tegas Capello, menyoroti bahwa masalah ini bukan hanya dialami oleh satu atau dua klub, melainkan sepak bola Italia secara umum.
Musim Penuh Kekecewaan dan Penyelamat Tak Terduga
Kritik Capello sejalan dengan realitas pahit yang dialami klub-klub Italia di Liga Champions musim 2025/2026. Inter Milan, finalis musim sebelumnya (2024/2025) yang kala itu takluk 0-5 dari Paris Saint-Germain, secara mengejutkan tersingkir di babak play-off oleh tim debutan Norwegia, Bodo/Glimt. Nerazzurri kalah agregat 2-5 setelah takluk 1-3 di Norwegia dan kembali menyerah 1-2 di kandang sendiri, San Siro. Selain Inter, Napoli juga telah tereliminasi di fase grup. Juventus pun harus menelan pil pahit setelah gagal membalikkan keadaan melawan Galatasaray di babak play-off, kalah agregat 2-5.
Situasi ini sempat memunculkan kekhawatiran serius bahwa Serie A tidak akan memiliki satu pun wakil di babak 16 besar Liga Champions untuk pertama kalinya sejak musim 1987-1988. Namun, Atalanta muncul sebagai penyelamat tak terduga. Setelah tertinggal 0-2 di leg pertama melawan Borussia Dortmund, La Dea berhasil melakukan comeback dramatis di kandang, memenangkan pertandingan 4-1 dan lolos dengan agregat 4-3. Kemenangan heroik Atalanta ini menjaga martabat sepak bola Italia di panggung Eropa.
Tantangan Struktural dan Finansial
Di luar aspek taktis yang disoroti Capello, masalah struktural dan finansial juga menjadi faktor yang menghambat klub-klub Italia. Liga Italia, bersama Bundesliga Jerman, memang mendapatkan jatah lima wakil di Liga Champions 2024/2025 berkat koefisien UEFA yang tinggi di musim sebelumnya. Namun, secara ekonomi, klub-klub Serie A masih tertinggal jauh dibandingkan liga-liga top Eropa lainnya seperti Premier League. Pendapatan hak siar televisi klub juara Serie A bahkan dilaporkan lebih rendah dari tim yang terdegradasi di Premier League.
Selain itu, kurangnya stadion modern (kecuali Juventus) dan masalah pengembangan pemain muda juga menjadi isu yang kerap dibahas. Mantan bek Juventus, Pasquale Bruno, pada tahun 2015 pernah menyatakan bahwa klub-klub Italia “miskin dan sangat buruk” dan harus melupakan mimpi memenangkan trofi Eropa dalam waktu dekat. Meskipun ada peningkatan nilai perusahaan untuk Inter Milan dan AC Milan baru-baru ini, Juventus justru mengalami penurunan signifikan pasca-era Cristiano Ronaldo. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi sepak bola Italia di Eropa bersifat kompleks dan memerlukan solusi jangka panjang.
Masa Lalu Gemilang dan Harapan ke Depan
Secara historis, klub-klub Italia memiliki rekam jejak yang gemilang di Liga Champions. AC Milan memimpin dengan tujuh gelar, diikuti Inter Milan dengan tiga gelar, dan Juventus dengan dua gelar. Total, klub Italia telah mengoleksi 12 gelar dan 17 kali menjadi runner-up, menempatkan Italia sebagai negara tersukses ketiga di kompetisi ini. Namun, dominasi tersebut telah meredup dalam beberapa tahun terakhir.
Kini, dengan hanya Atalanta yang tersisa di babak 16 besar, sepak bola Italia menghadapi momen krusial. Analisis Capello menjadi pengingat penting bahwa perbaikan tidak hanya membutuhkan strategi di lapangan, tetapi juga evaluasi mendalam terhadap struktur liga, pengembangan pemain, dan kekuatan finansial agar klub-klub Italia dapat kembali bersaing di level tertinggi Eropa.