Fabio Capello Ungkap Titik Lemah AC Milan di Serie A: Bukan Pelatih, tapi Pemain

Author Image

Irfan

14 Januari 2026

Kelemahan Ac Milan Diurai Oleh Fabio Capello. (foto: Ac Milan Via Getty Images/giuseppe Cottini)
Kelemahan AC Milan diurai oleh Fabio Capello. (Foto: AC Milan via Getty Images/Giuseppe Cottini)

Meskipun tampil solid di Serie A musim ini, AC Milan dinilai masih memiliki kelemahan fundamental. Mantan pelatih legendaris, Fabio Capello, menyoroti bahwa masalah konsistensi permainan Rossoneri lebih bersumber dari karakteristik para pemainnya, bukan dari strategi pelatih.

Performa Solid Namun Rentan

AC Milan saat ini menduduki peringkat kedua klasemen sementara Serie A dengan mengoleksi 40 poin dari 19 pertandingan. Tim asuhan Stefano Pioli ini hanya tercatat sekali kalah, dengan rincian 11 kemenangan dan tujuh hasil imbang. Performa Milan terbilang impresif saat menghadapi tim-tim papan atas. Mereka berhasil meraih kemenangan melawan Inter Milan dan Napoli, serta menahan imbang Juventus. Namun, catatan positif tersebut kontras dengan beberapa kali terpeleset saat menghadapi tim papan bawah. Laga terbaru melawan Fiorentina yang berakhir imbang 1-1 menjadi salah satu contohnya.

Analisis Capello: Karakteristik Pemain Jadi Kunci

Fabio Capello, yang pernah menukangi AC Milan, memberikan pandangannya mengenai akar permasalahan tim asal kota Mode tersebut. Menurutnya, kesulitan Milan dalam menjaga konsistensi permainan tidak sepenuhnya bergantung pada ide pelatih, melainkan lebih pada level dan karakteristik para pemainnya.

“Saya pikir kesulitan Rossoneri dalam menemukan konsistensi permainannya kurang bergantung pada ide pelatih dan lebih pada level dan karakteristik para pemain,” ujar Capello kepada Gazzetta.

Capello menambahkan, tim ini dinilai kurang konsisten dalam pertandingan. “Saya percaya tim ini kurang konsisten dalam pertandingan. Mereka kesulitan mengembangkan permainan melawan tim-tim lebih kecil, gagal menemukan ruang.”

Paradoksnya, Capello melihat Milan justru tampil lebih baik saat menghadapi tim-tim besar. “Secara paradoks, mereka akan lebih baik melawan tim-tim besar, yang mencoba untuk mengendalikan pertandingan dan membiarkan diri mereka rentan dalam serangan balik,” pungkasnya.