Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) telah memulai proses penyelidikan serius menyusul insiden kekerasan suporter yang mewarnai laga Liga Champions CAF antara Al Ahly dari Mesir dan FAR Rabat dari Maroko. Pertandingan yang berakhir imbang tanpa gol tersebut, pada Minggu, 15 Februari 2026, di Stadion Internasional Kairo, Mesir, diwarnai pelemparan botol dan benda-benda lain oleh pendukung Al Ahly ke arah pemain dan staf FAR Rabat.
Insiden tersebut memicu protes keras dari pihak FAR Rabat, yang secara resmi mengajukan keluhan kepada CAF. Klub berjuluk Royal Army itu mengecam keras apa yang mereka sebut sebagai “perilaku tidak sportif” dan menuntut tindakan disipliner tegas untuk menjamin keselamatan pemain. Bahkan, salah satu pemain FAR Rabat, Ahmed Hammoudan, dilaporkan terkena lemparan botol. Pihak klub juga menyebutkan kesulitan yang dialami pemain saat menuju ruang ganti di jeda babak pertama karena rentetan proyektil yang dilemparkan, yang memerlukan intervensi keamanan.
Dalam pengaduannya, FAR Rabat juga menyoroti laporan pengawas pertandingan, Jamal Ambe dari Libya, yang menurut mereka tidak mencerminkan seluruh kejadian. Delegasi FAR Rabat dalam sidang disipliner CAF pada Kamis, 27 Februari 2026, menghadirkan enam rekaman video sebagai bukti untuk menunjukkan kekurangan organisasi dan masalah keamanan yang mempengaruhi pemain dan suporter di dalam stadion. Mereka juga mempertanyakan keputusan wasit yang memberikan empat kartu kuning kepada pemain mereka, sementara tindakan serupa tidak diambil terhadap beberapa pemain Al Ahly dalam insiden kontak yang terekam video.
Menanggapi insiden tersebut, CAF segera mengeluarkan pernyataan yang mengutuk keras “insiden yang tidak dapat diterima” dan merujuk masalah ini ke Komite Disipliner untuk penyelidikan dan sanksi yang sesuai. Sidang disipliner yang berlangsung sekitar 40 menit tersebut dipimpin oleh Othman Kane dan dihadiri oleh perwakilan kedua klub.
Di sisi lain, Al Ahly juga telah menyampaikan respons resmi. Klub Mesir itu mengutuk perilaku suporter mereka yang melempar botol dan menegaskan telah menyerahkan berkas lengkap beserta bukti video kepada Komite Disipliner CAF. Al Ahly menyatakan bahwa mereka memilih untuk tidak mengajukan keluhan resmi setelah leg pertama pada 28 November 2025, di mana pemain mereka juga mengalami cedera akibat lemparan benda, demi menjaga hubungan baik antar kedua klub. Mereka juga mengklaim telah memastikan delegasi FAR Rabat menerima sambutan yang baik di Kairo.
Insiden ini bukan kali pertama terjadi dalam pertemuan kedua tim. Sebelumnya, FAR Rabat sendiri telah dijatuhi sanksi oleh CAF berupa larangan dua pertandingan kandang tanpa penonton dan denda 100.000 dolar AS akibat kericuhan suporter pada leg pertama. Hal ini menimbulkan ekspektasi bahwa Al Ahly juga akan menerima hukuman serupa.
Pemain sayap FAR Rabat, Ahmed Hammoudan, menyuarakan harapannya agar CAF menerapkan aturan secara adil dan konsisten. “Saya berharap aturan akan diterapkan kepada mereka seketat yang diterapkan kepada kami. Tidak mudah menerima cara kami diperlakukan,” ujar Hammoudan. Ia menambahkan, “Kami menghormati keputusan CAF, meskipun terasa berat. Kami menerimanya dengan fair play. Kali ini, kami berharap keputusan yang adil dan merata, dan tindakan yang diperlukan akan diambil sebagaimana mestinya.”
Kedua tim berhasil lolos ke babak perempat final Liga Champions CAF. Al Ahly memuncaki Grup B dengan 10 poin, sementara FAR Rabat menempati posisi kedua dengan 9 poin. Di babak perempat final, Al Ahly akan menghadapi Espérance dari Tunisia, sementara FAR Rabat akan bertemu Pyramids FC dari Mesir. Keputusan akhir dari Komite Disipliner CAF terkait insiden ini diperkirakan akan diumumkan paling lambat pertengahan pekan depan.