Austin, Texas – Sebuah insiden penembakan massal mengguncang distrik hiburan Sixth Street di Austin, Texas, pada Minggu dini hari, 1 Maret 2026. Dua orang tewas dan 14 lainnya mengalami luka-luka, tiga di antaranya dalam kondisi kritis. Biro Investigasi Federal (FBI) kini tengah menyelidiki insiden tragis ini sebagai potensi aksi terorisme, dengan indikasi awal yang mengarah pada kemungkinan kaitan dengan serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang terjadi sehari sebelumnya.
Pelaku penembakan, yang diidentifikasi sebagai Ndiaga Diagne (53), seorang warga negara AS yang dinaturalisasi asal Senegal, tewas di tempat setelah baku tembak dengan petugas kepolisian. Menurut laporan, Diagne mengemudikan sebuah SUV besar, berputar beberapa kali di blok tersebut sebelum melepaskan tembakan dengan pistol dari dalam kendaraannya ke arah pengunjung yang berada di teras bar. Ia kemudian memarkir kendaraannya, keluar dengan membawa senapan, dan melanjutkan penembakan ke arah pejalan kaki.
Respons cepat dari kepolisian Austin patut diacungi jempol. Petugas yang sudah berjaga di distrik hiburan tersebut berhasil menghadapi dan menembak mati pelaku dalam waktu kurang dari satu menit setelah panggilan darurat pertama diterima. Kepala Polisi Austin, Lisa Davis, memuji kesigapan petugasnya, menyatakan bahwa respons cepat tersebut kemungkinan besar telah menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Penyelidikan FBI melibatkan Satuan Tugas Terorisme Gabungan (Joint Terrorism Task Force) untuk mendalami motif di balik serangan ini. Alex Doran, Pejabat Agen Khusus FBI yang bertanggung jawab atas kantor San Antonio, menyatakan bahwa meskipun masih terlalu dini untuk menentukan motif pasti, “ada indikator pada subjek dan di kendaraannya yang menunjukkan potensi hubungan dengan terorisme.” Indikator tersebut termasuk pakaian yang dikenakan Diagne, yakni kaus bertuliskan “Property of Allah” dan kaus dalam bergambar bendera Iran. Sebuah Al-Qur’an juga ditemukan di dalam SUV miliknya.
Insiden ini terjadi hanya sehari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Iran, yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Gubernur Texas, Greg Abbott, segera mengeluarkan pernyataan yang secara eksplisit merujuk pada potensi ancaman yang terkait dengan konflik di Timur Tengah. Ia memperingatkan “siapa pun yang berpikir untuk menggunakan konflik saat ini di Timur Tengah untuk mengancam warga Texas atau infrastruktur penting kami” akan ditanggapi dengan “kekuatan yang tegas dan luar biasa.” Meskipun demikian, pihak berwenang belum menemukan bukti bahwa Diagne bekerja secara langsung dengan kelompok-kelompok yang berafiliasi atau bersimpati dengan rezim Iran, dan penyelidikan masih dalam tahap awal. Selain itu, penyelidik juga mempertimbangkan riwayat masalah kesehatan mental pelaku sebagai salah satu faktor yang mungkin.