Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia kembali dikukuhkan sebagai maskapai bintang empat oleh Skytrax, lembaga pemeringkat transportasi udara independen yang berbasis di Inggris. Penilaian terbaru per Maret 2026 ini menyoroti perlunya modernisasi pada sejumlah produk layanan dan fasilitas di darat maupun di dalam pesawat yang dinilai sudah usang.
Menurut Skytrax, Garuda Indonesia saat ini tengah berada dalam periode restrukturisasi. Meskipun standar pelayanan staf tetap terjaga dengan baik, produk di dalam pesawat dan fasilitas di bandara, khususnya di Jakarta dan Denpasar, dianggap sudah sangat ketinggalan zaman dan memerlukan pembaruan signifikan untuk memenuhi standar bintang lima saat ini.
Perjalanan Peringkat Garuda Indonesia di Skytrax
Garuda Indonesia sebelumnya pernah menyandang status maskapai bintang lima. Pencapaian prestisius ini pertama kali diraih pada Desember 2014 dan berhasil dipertahankan selama beberapa tahun, termasuk pada 2018. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, peringkat keseluruhan Garuda Indonesia dalam daftar 100 Maskapai Terbaik Dunia versi Skytrax menunjukkan fluktuasi.
Pada 2014, Garuda Indonesia menempati posisi ke-7, lalu turun ke posisi ke-8 pada 2015, dan terus bergeser hingga berada di peringkat ke-46 pada penghargaan tahun 2025. Penurunan signifikan terlihat pasca-pandemi COVID-19, di mana peringkat Garuda anjlok dari posisi ke-15 pada 2021 menjadi ke-31 pada 2022, dan terus menurun ke posisi 34 pada 2024.
Kru Kabin Tetap Terbaik Dunia
Di tengah tantangan penurunan peringkat bintang, Garuda Indonesia tetap menunjukkan keunggulannya dalam aspek pelayanan kru kabin. Maskapai ini berhasil meraih penghargaan “The World’s Best Airline Cabin Crew” dari Skytrax untuk keenam kalinya pada tahun 2023, setelah sebelumnya memenangkan penghargaan tersebut secara berturut-turut dari 2014 hingga 2018. Penghargaan ini menggarisbawahi profesionalisme, antusiasme, dan keramahan kru kabin Garuda Indonesia.
CEO Skytrax, Edward Plaisted, pernah menyatakan bahwa mempertahankan aspek layanan bukanlah hal mudah di tengah berbagai tantangan kinerja yang harus dihadapi industri penerbangan pasca-pandemi COVID-19.
Kriteria Penilaian Skytrax dan Ulasan Pelanggan
Skytrax mendasarkan penilaiannya pada berbagai elemen layanan, mencakup layanan pra-penerbangan, saat penerbangan, dan pasca-penerbangan. Ini termasuk fasilitas check-in, kualitas lounge, kenyamanan kabin, makanan, hiburan dalam penerbangan (IFE), dan tentu saja, layanan kru kabin. Skytrax menegaskan bahwa penilaian mereka tidak mempertimbangkan keberhasilan manajemen atau kondisi keuangan maskapai.
Ulasan pelanggan terbaru pada Februari 2026 di situs Skytrax menunjukkan pengalaman yang bervariasi. Beberapa penumpang memuji layanan kelas satu yang luar biasa dan kru kabin yang profesional. Namun, ada juga yang menyoroti ketiadaan IFE di kursi (digantikan hiburan nirkabel yang memicu peringatan keamanan SSL) dan pilihan katering yang monoton, mengindikasikan bahwa pengalaman keseluruhan mulai menyerupai operator berbiaya rendah.
Upaya Restrukturisasi dan Pengakuan Lain
Sebagai bagian dari upaya peningkatan kinerja, Garuda Indonesia menerima pinjaman sebesar 405 juta dolar AS atau sekitar Rp 6,6 triliun dari Danantara Indonesia pada Juni 2025. Suntikan dana ini bertujuan untuk mengoptimalkan operasional bisnis maskapai, yang kemudian diikuti dengan restrukturisasi jajaran direksi.
Di luar Skytrax, Garuda Indonesia juga mendapatkan pengakuan dari lembaga lain. Pada Februari 2025, AirlineRatings.com menobatkan Garuda Indonesia sebagai ‘maskapai layanan penuh terbaik untuk tahun 2025’ dan menempatkannya di peringkat ke-25 secara keseluruhan dalam penghargaan ‘World’s Best Airline Awards 2025’. Penghargaan ini berfokus pada kenyamanan penumpang, umpan balik pelanggan, dan konsistensi kualitas produk.