Geliat Ekonomi Ramadan 2026: Peluang Bisnis Menggiurkan di Balik Kebutuhan Praktis Masyarakat

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

Trending Image 1771667510

Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah kembali menyapa, membawa berkah tak hanya dalam dimensi spiritual, tetapi juga geliat ekonomi yang signifikan. Pada tahun 2026 ini, pola konsumsi masyarakat Indonesia menunjukkan pergeseran yang menarik, di mana kebutuhan akan kepraktisan dan kenyamanan menjadi pendorong utama munculnya berbagai peluang bisnis musiman yang menggiurkan. Fenomena ini tak lepas dari kesibukan umat Muslim dalam menjalankan ibadah, yang kerap membuat waktu untuk menyiapkan hidangan sahur atau berbuka menjadi terbatas.

Peningkatan pengeluaran rumah tangga selama Ramadan memang selalu terjadi. Data menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga di Indonesia selama Ramadan 2024 bahkan 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan periode pra-Ramadan. Meskipun pertumbuhan belanja barang kebutuhan sehari-hari (FMCG) tidak secepat sektor lain, konsumen cenderung mengalihkan pengeluaran ke kategori gaya hidup dan fesyen. Hal ini membuka ruang bagi para pelaku usaha untuk berinovasi, terutama dalam menyediakan solusi yang menjawab kebutuhan akan efisiensi waktu dan tenaga.

Tren Kuliner Praktis: Dari Takjil Kekinian hingga Katering Sahur

Sektor kuliner selalu menjadi primadona selama Ramadan. Tradisi berburu takjil atau yang populer disebut “war takjil” tetap menjadi pemandangan khas menjelang waktu berbuka puasa. Namun, pada Ramadan 2026, tren takjil mengalami evolusi signifikan. Konsumen kini mencari pilihan yang lebih modern, sehat, estetik, dan mudah dibagikan di media sosial.

Beberapa inovasi takjil yang diprediksi akan laris manis antara lain risol dengan varian rasa matcha dan cokelat yang sempat viral, takjil diet rendah gula seperti puding chia seed atau minuman herbal rendah kalori, serta dessert box kurma cokelat dan gelato dengan rasa premium. Takjil tradisional seperti kolak dan es buah tetap diminati, namun dengan sentuhan modifikasi yang lebih sehat, misalnya mengurangi santan atau mengganti gula pasir dengan madu. Usaha takjil ini dikenal memiliki perputaran uang yang cepat, bahkan modal bisa kembali dalam hitungan hari.

Selain takjil, layanan katering dan paket menu sahur serta berbuka puasa juga mengalami lonjakan permintaan. Banyak individu, terutama di perkotaan, lingkungan kos, atau perkantoran, tidak memiliki cukup waktu untuk memasak sendiri. Penawaran paket sahur praktis siap masak, yang bahan makanannya sudah dibersihkan dan dibumbui, menjadi solusi cerdas. Begitu pula dengan lauk pauk matang yang tinggal dipanaskan, sangat dicari untuk kemudahan sahur. Bahkan, hampers sahur untuk anak kos yang berisi lauk instan, sambal, dan kurma juga menjadi ide bisnis yang menjanjikan.

Komisaris Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menyoroti potensi ini, menyatakan, “Masyarakat berpuasa, tetapi konsumsi justru tumbuh. Jadi kita harus benar-benar memanfaatkan itu.”

Jasa Titip dan Layanan Antar: Solusi di Tengah Keterbatasan Waktu

Kebutuhan akan kepraktisan juga mendorong popularitas (jastip) belanja. Layanan ini memungkinkan konsumen mendapatkan barang tertentu tanpa harus bepergian, baik itu kebutuhan pokok, fesyen, atau makanan khas daerah. Platform pengiriman seperti Deliveree bahkan telah meluncurkan layanan belanja pribadi untuk memenuhi lonjakan permintaan belanja daring supermarket. Axel Pangilinan dari Deliveree Indonesia menyebut, “Layanan belanja Deliveree yang baru telah menjadi fitur yang sangat penting bagi ribuan keluarga yang mengandalkan fitur kami untuk membantu mengirimkan bahan makanan dan barang-barang rumah tangga mereka selama waktu yang masih belum ditentukan.”

Selain jastip, layanan antar makanan daring (online food delivery/OFD) juga tetap menjadi pilihan utama masyarakat untuk mendapatkan hidangan sahur dan berbuka. Waktu-waktu favorit pelanggan untuk mencari menu buka puasa di platform daring adalah pukul 16.00-19.00 WIB, sementara untuk sahur adalah pukul 02.00-04.00 WIB. Ini menjadi peluang besar bagi pelaku usaha kuliner daring untuk mengoptimalkan jam operasional dan penawaran menu.

Peluang Lain: Fesyen Muslim hingga Jasa Digital

Di luar kuliner, sektor fesyen muslim juga mengalami peningkatan permintaan signifikan menjelang Idulfitri. Produk seperti baju koko, gamis, hijab, dan mukena, termasuk mukena travel dan baju koko simpel, menjadi incaran. Tren warna earth tone diprediksi akan kembali mendominasi fesyen Lebaran tahun ini. Sistem pre-order dan penjualan melalui marketplace menjadi strategi efektif untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Tak hanya itu, jasa desain dan konten promosi Ramadan juga menawarkan peluang dengan margin tinggi dan modal relatif kecil. Banyak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) membutuhkan desain kartu ucapan, banner promosi, hingga konten media sosial bertema Lebaran untuk menarik perhatian konsumen.

Pemerintah Indonesia sendiri berupaya mendorong konsumsi selama Ramadan 2026 dengan meluncurkan paket stimulus senilai Rp 12,83 triliun (sekitar US$762 juta), termasuk potongan tarif transportasi dan bantuan pangan. Hal ini diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga pangan. Di tingkat regional, platform ojek daring lokal seperti ACI di Jawa Timur bahkan melibatkan 10.000 mitranya untuk memacu perputaran ekonomi. Direktur ACI, Suroto, menegaskan, “Pertumbuhan aktivitas ekonomi selama bulan puasa harus memberi dampak langsung pada driver dan pelaku UMKM.”

Meskipun belanja luring (offline) masih menjadi pilihan mayoritas (71%) bagi masyarakat Indonesia selama Ramadan 2025, belanja daring (online) terus tumbuh (29%), didorong oleh promosi menarik dan harga kompetitif. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran yang terintegrasi antara daring dan luring akan menjadi kunci sukses bagi para pelaku usaha di Ramadan 2026.