Gempa M 7.2 Guncang Sulawesi Tengah, Belasan Korban Jiwa dan Ribuan Mengungsi

Gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 7.2 mengguncang wilayah lepas pantai Sulawesi Tengah pada Jumat dini hari, 28 Februari 2026, pukul 02.15 WIB. Guncangan kuat ini memicu kepanikan massal dan menyebabkan kerusakan signifikan di sejumlah wilayah, terutama di Kota , , dan Sigi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika () melaporkan bahwa pusat gempa berada sekitar 85 kilometer Barat Laut Donggala, dengan kedalaman yang relatif dangkal, yakni 10 kilometer. Kondisi ini berkontribusi pada intensitas guncangan yang dirasakan luas. BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami tak lama setelah gempa terjadi.

Meskipun peringatan dini tsunami telah dicabut beberapa jam kemudian, BMKG mengonfirmasi adanya deteksi tsunami kecil dengan ketinggian sekitar 0.5 meter di beberapa titik pesisir. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun selalu waspada terhadap potensi gempa susulan. “Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada terhadap gempa susulan,” ujarnya.

Data sementara yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana () per 1 Maret 2026 menunjukkan dampak yang memprihatinkan. Sedikitnya 15 orang dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 100 orang mengalami luka-luka. Selain itu, lebih dari 5.000 warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman setelah rumah mereka rusak atau demi menghindari potensi bahaya lanjutan.

Kerusakan infrastruktur juga meluas, dengan ratusan rumah dilaporkan roboh dan sejumlah fasilitas umum seperti jembatan serta ruas jalan mengalami kerusakan berat di Palu, Donggala, dan Sigi. Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, dan Polri terus berupaya melakukan evakuasi dan pencarian korban yang mungkin masih tertimbun reruntuhan.

Kepala BNPB, Suharyanto, menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah penyelamatan korban dan pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi. “Prioritas utama adalah penyelamatan korban dan memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi,” kata Suharyanto. Distribusi bantuan logistik, termasuk makanan, air bersih, dan tenda pengungsian, terus diintensifkan.

Menyikapi bencana ini, Presiden Joko Widodo telah memerintahkan penanganan cepat dan pengerahan seluruh sumber daya nasional untuk membantu korban. Presiden dijadwalkan akan meninjau langsung lokasi terdampak pada 2 Maret 2026. Sejumlah negara sahabat dan organisasi internasional, seperti Jepang, Australia, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), juga telah menawarkan bantuan kemanusiaan berupa tim SAR, tenaga medis, dan logistik.

Peristiwa ini turut membangkitkan trauma lama bagi sebagian warga Palu, yang masih teringat akan gempa dan tsunami dahsyat pada tahun 2018. Seorang warga Palu mengungkapkan, “Getarannya sangat kuat, kami langsung lari keluar rumah. Mengingatkan pada kejadian 2018.” Kondisi psikologis ini membuat banyak warga memilih bertahan di tenda pengungsian, bahkan jika rumah mereka tidak mengalami kerusakan parah.