Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah telah tiba, membawa nuansa spiritual bagi umat Muslim di seluruh dunia, termasuk para atlet profesional. Salah satunya adalah bek PSBS Biak, George Brown, yang kembali menjalani ibadah puasa jauh dari kehangatan keluarga. Di tengah tuntutan fisik dan mental di kompetisi BRI Super League 2025/2026, Es Pisang Ijo menjadi penawar rindu dan menu buka puasa favoritnya.
Ramadan 1447 H sendiri telah resmi dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026, berdasarkan ketetapan pemerintah dan Nahdlatul Ulama, meskipun Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa sehari sebelumnya pada Rabu, 18 Februari 2026. Bagi George Brown, momen awal Ramadan selalu menuntut adaptasi ekstra. Sebagai pesepak bola, ia harus menjaga kondisi fisik prima demi performa maksimal bersama tim berjuluk Badai Pasifik tersebut.
Pemain kelahiran London, 4 Juni 1999 ini, dikenal sebagai bek kanan tangguh yang bergabung dengan PSBS Biak sejak tahun 2025. Sebelumnya, George Brown sempat memperkuat sejumlah klub Liga Indonesia seperti Persebaya Surabaya dan Persita Tangerang, serta pernah dipanggil untuk membela Timnas Indonesia U-23. Pengalamannya sebagai pemain profesional membuatnya terbiasa dengan dinamika jadwal yang padat, termasuk saat bulan puasa.
Namun, Ramadan kali ini juga datang di tengah situasi krusial bagi PSBS Biak. Tim asal Papua ini tengah berjuang keras di papan bawah klasemen sementara BRI Super League 2025/2026. Hingga pekan ke-21, PSBS Biak menempati posisi ke-15 dengan raihan 17 poin, hanya terpaut tipis dari zona degradasi. Performa tim Badai Pasifik dalam beberapa laga terakhir juga kurang memuaskan, tercatat gagal meraih kemenangan dalam tiga pertandingan terakhir mereka.
Tekanan di lapangan hijau tentu menjadi tantangan tersendiri bagi George Brown dan rekan-rekannya, apalagi saat harus menunaikan ibadah puasa. PSBS Biak sendiri dijadwalkan akan menghadapi Persis Solo pada Jumat, 21 Februari 2026, dalam lanjutan kompetisi Super League. Dedikasi para atlet seperti George Brown dalam menyeimbangkan kewajiban agama dan profesionalisme di tengah kompetisi yang ketat patut diacungi jempol.