Langit Indonesia akan dihiasi fenomena alam yang memukau, Gerhana Bulan Total (GBT), pada Selasa, 3 Maret 2026. Peristiwa astronomi ini menjadi lebih istimewa karena bertepatan dengan malam 13-14 Ramadan 1447 Hijriah, memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan keindahan alam sekaligus menjalankan ibadah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis jadwal lengkap fase gerhana untuk seluruh zona waktu di Indonesia, memastikan bahwa fenomena ini dapat diamati dari Sabang hingga Merauke, asalkan kondisi cuaca cerah. Gerhana Bulan Total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus, menyebabkan Bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi.
Waktu Puncak Gerhana di Seluruh Indonesia
Menurut data BMKG, puncak Gerhana Bulan Total akan terjadi pada waktu yang berbeda di setiap zona waktu Indonesia. Untuk wilayah Waktu Indonesia Barat (WIB), puncak gerhana diperkirakan pada pukul 18.33.39 WIB. Sementara itu, di Waktu Indonesia Tengah (WITA), puncaknya akan terjadi pada pukul 19.33.39 WITA. Masyarakat di Waktu Indonesia Timur (WIT) dapat menyaksikan puncak fenomena ini pada pukul 20.33.39 WIT. Secara keseluruhan, fase gerhana Bulan dari awal hingga akhir akan berlangsung sekitar 5 jam 41 menit, dengan fase totalitas yang memukau selama hampir 60 menit.
Fenomena ‘Blood Moon’ dan Penjelasan Ilmiahnya
Selama fase totalitas, Bulan tidak akan menghilang dari pandangan, melainkan akan berubah warna menjadi jingga kemerahan atau merah tembaga. Fenomena ini populer dengan sebutan ‘Blood Moon‘ atau Bulan Merah. Perubahan warna ini bukan disebabkan oleh hal mistis, melainkan fenomena ilmiah yang dikenal sebagai hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi. Cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi akan terhambur, di mana cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru akan tersebar lebih banyak, sementara cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang seperti merah akan lolos dan mencapai permukaan Bulan, sehingga Bulan tampak kemerahan.
Kesempatan Langka dan Anjuran Ibadah
Gerhana Bulan Total pada 3 Maret 2026 ini merupakan peristiwa yang relatif langka. Setelah momen ini, masyarakat Indonesia harus menunggu hingga 31 Desember 2028 untuk dapat kembali menyaksikan Gerhana Bulan Total. Hal ini menjadikan kesempatan pada malam Ramadan 2026 ini sangat sayang untuk dilewatkan.
Bagi umat Islam, fenomena gerhana bulan ini juga memiliki makna religius. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menganjurkan umat untuk melaksanakan salat gerhana atau salat Khusuf. Wakil Sekretaris Lembaga Falakiyah PBNU, Ma’rufin Sudibyo, menjelaskan bahwa salat gerhana bulan dapat digelar apabila gerhana tersebut kasat mata dan terlihat jelas proses berubahnya Bulan menjadi gelap.
Tips Mengamati Gerhana Bulan Total
Mengamati Gerhana Bulan Total sangat aman dilakukan secara langsung tanpa memerlukan alat bantu khusus atau pelindung mata, berbeda dengan gerhana matahari. Untuk mendapatkan pengalaman pengamatan yang optimal, masyarakat disarankan untuk mencari lokasi yang minim polusi cahaya dengan pandangan yang luas ke arah timur saat Bulan mulai terbit. Menggunakan teropong atau teleskop kecil dapat membantu melihat detail permukaan Bulan dengan lebih jelas, namun mata telanjang sudah cukup untuk menikmati keindahan fenomena ini.