Gubernur The Fed Michelle Bowman Prediksi Tiga Kali Pemangkasan Suku Bunga hingga 2026

federal reserve, michelle bowman, suku bunga the fed, kebijakan moneter as, inflasi as

Gubernur (The Fed) secara mengejutkan memproyeksikan bank sentral Amerika Serikat akan memangkas suku bunga acuan sebanyak tiga kali sebelum akhir tahun 2026. Pandangan ini menempatkannya pada posisi yang lebih dovish dibandingkan mayoritas rekan-rekannya di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang hanya memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga untuk periode yang sama.

Proyeksi Bowman disampaikan menyusul pertemuan FOMC pada Maret 2026, di mana The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga dana federal pada kisaran 3,50% hingga 3,75%. Keputusan ini menandai kali kedua secara berturut-turut The Fed menahan suku bunga, setelah sebelumnya melakukan tiga kali pemangkasan berturut-turut pada akhir tahun lalu.

Kekhawatiran Bowman terhadap Pasar Tenaga Kerja

Bowman menjelaskan bahwa proyeksinya untuk tiga kali pemangkasan suku bunga didasari oleh kekhawatirannya terhadap kondisi pasar tenaga kerja. Ia berharap langkah ini dapat “mendukung pasar tenaga kerja” dan melihat “sedikit pemulihan di sana.” Pernyataan ini menunjukkan fokus Bowman pada mandat ganda The Fed, yaitu stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum, dengan penekanan pada sisi ketenagakerjaan.

Proyeksi Mayoritas FOMC dan Data Ekonomi Terkini

Berbeda dengan Bowman, proyeksi median dari anggota FOMC, yang dikenal sebagai ‘dot plot’, masih mengindikasikan hanya satu kali pemangkasan suku bunga pada tahun 2026, tidak berubah dari proyeksi Desember sebelumnya. Dalam pertemuan Maret, FOMC juga merevisi naik proyeksi pertumbuhan PDB AS untuk tahun 2026 menjadi 2,4% dari 2,3% sebelumnya.

Sementara itu, ekspektasi inflasi, baik untuk Indeks Harga Belanja Konsumen Pribadi (PCE) maupun Core PCE, juga dinaikkan untuk tahun 2026 menjadi 2,7%, dari 2,4%-2,5% pada proyeksi Desember. Ketua The Fed Jerome Powell mengakui bahwa inflasi masih tetap tinggi dibandingkan target 2% The Fed. Proyeksi tingkat pengangguran untuk tahun 2026 tetap tidak berubah di angka 4,4%.

Tantangan Geopolitik dan Pasar Tenaga Kerja yang Berubah

Kondisi ekonomi global yang tidak pasti, terutama “perang di Iran” atau konflik di Timur Tengah, menjadi faktor signifikan yang memengaruhi pandangan The Fed. Konflik ini memicu lonjakan harga minyak dan menimbulkan ketidakpastian mengenai dampak inflasinya. Ketua Powell bahkan menyatakan bahwa “kenaikan suku bunga tidak dikesampingkan” jika inflasi terus-menerus tinggi. Selain itu, tarif juga disebut-sebut berkontribusi pada tekanan inflasi.

Data pasar tenaga kerja AS menunjukkan gambaran yang beragam. Laporan Februari 2026 mencatat hilangnya 92.000 pekerjaan non-pertanian, dengan tingkat pengangguran naik menjadi 4,4%. Pasar tenaga kerja juga disebut berada dalam kondisi “low hire, low fire” (rendah perekrutan, rendah pemutusan hubungan kerja), dengan tingkat perekrutan terendah dalam beberapa tahun dan tingkat pengunduran diri yang stabil di 2,0% selama tujuh bulan. Namun, klaim pengangguran awal justru turun menjadi 205.000 untuk pekan yang berakhir 14 Maret 2026, di bawah ekspektasi analis.

Divergensi Pandangan dan Ekspektasi Pasar

Divergensi pandangan antara Bowman dan mayoritas FOMC menyoroti ketidakpastian yang tinggi dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan. Pasar berjangka saat ini mengindikasikan hanya satu kali pemangkasan suku bunga pada tahun 2026, turun dari dua kali pemotongan yang diproyeksikan sebelum konflik di Timur Tengah. Bahkan, beberapa analis melihat ada kemungkinan 48% tidak akan ada pemotongan suku bunga sama sekali pada tahun 2026.

Dalam pertemuan FOMC Maret, Gubernur Stephen Miran menjadi satu-satunya anggota yang menyatakan perbedaan pendapat, memilih untuk memangkas suku bunga sebesar 0,25%. Ketua Powell sendiri mengambil nada yang “sedikit hawkish” dalam konferensi pers, menekankan ketidakpastian yang tinggi dan mencatat adanya “pergerakan ke arah pemotongan yang lebih sedikit” di antara para peserta.