Olympique Marseille (OM) secara resmi mengumumkan penunjukan mantan kapten mereka, Habib Beye, sebagai pelatih kepala tim utama pada 18 dan 19 Februari 2026. Kembalinya legenda klub berusia 48 tahun ini ke Stade Vélodrome terjadi di tengah harapan besar untuk membangkitkan performa klub yang sedang berjuang di Ligue 1.
Penunjukan Beye menyusul kepergian Roberto De Zerbi, yang meninggalkan Marseille atas kesepakatan bersama setelah kekalahan telak 5-0 dari rival abadi Paris Saint-Germain dan tersingkirnya mereka dari Liga Champions. Beye, yang sebelumnya melatih Red Star FC dan membawa mereka promosi ke Ligue 2 pada tahun 2024, serta sempat menangani Stade Rennais, kini menghadapi tantangan besar untuk mengembalikan kejayaan Les Phocéens.
Sentimen Mendalam dari Mantan Rekan Setim
Kembalinya Beye ke Marseille disambut dengan sentimen emosional, terutama dari mantan rekan setimnya. Garry Bocaly, yang pernah bermain bersama Beye, mengungkapkan keyakinannya akan ikatan mendalam Beye dengan klub. Bocaly menyatakan bahwa Beye dengan cepat “membenamkan dirinya di kota dan Vélodrome,” dan menegaskan bahwa “hati Beye ada di Marseille.” Pernyataan ini menggarisbawahi koneksi emosional yang kuat antara Beye dan klub yang pernah dibelanya sebagai pemain bertahan dari tahun 2003 hingga 2007, bahkan sempat menjabat kapten.
Dalam konferensi pers pertamanya, Beye sendiri tidak menyembunyikan perasaannya. “Ini adalah sumber kebanggaan yang luar biasa. Saya sangat senang berada di sini,” ujar Beye. “Anda tahu betapa terikatnya saya dengan klub ini. Ini adalah momen yang sangat istimewa. Saya mengalaminya sebagai pemain, dan sekarang saya mengalaminya sebagai pelatih.”
Misi Berat di Tengah Krisis Klub
Marseille saat ini berada di posisi keempat Ligue 1 dengan 12 pertandingan tersisa, terpaut lima poin dari Lyon di posisi ketiga dan 12 poin dari pemuncak klasemen Lens. Meskipun tersingkir dari Liga Champions, mereka masih berkompetisi di perempat final Coupe de France. Namun, klub ini telah lama dilanda apa yang disebut sebagai “krisis tanpa akhir” dengan ketidakstabilan manajemen.
Pemilik klub, Frank McCourt, memuji penunjukan Beye, mencatat bahwa “koneksi historisnya yang mendalam dengan OM sangat penting untuk menavigasi tantangan musim ini.” Direktur Olahraga Medhi Benatia, yang sempat mengundurkan diri namun kemudian diangkat kembali, menegaskan misi Beye untuk menghidupkan kembali skuad yang sedang kesulitan. Target utamanya adalah mengamankan finis di tiga besar Ligue 1 dan bersaing memperebutkan gelar Coupe de France.
Beye bertekad untuk membangun tim yang “dominan” dan “vertikal” di lapangan. “Sepak bola harus mencerminkan seperti apa kota ini dan apa yang dihasilkan oleh stadion,” kata Beye. “Para suporter adalah pecinta OM dan pecinta sepak bola. Kita harus memahami identitas klub, nilai-nilainya, dan apa yang dipancarkan klub dan kota ini. Mungkin saya memiliki keunggulan dalam hal itu.”
Pertandingan pertama Beye sebagai pelatih kepala akan berlangsung pada Jumat, 21 Februari 2026, dalam laga tandang melawan Brest di Ligue 1. Dengan waktu persiapan yang sangat terbatas, hanya sekitar 24 jam, Beye langsung dihadapkan pada tekanan untuk segera membawa perubahan positif bagi Marseille.
Penunjukan Habib Beye juga menjadi tonggak penting bagi sepak bola Afrika, menjadikannya salah satu dari sedikit manajer Senegal yang memimpin klub papan atas Eropa.