Harga aluminium global menunjukkan kenaikan signifikan pada awal Maret 2026, melonjak hingga 2,8% pada perdagangan awal di London Metal Exchange (LME) menjadi US$3.228 per ton. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran mendalam akan terganggunya jalur pasokan vital bagi produsen di Timur Tengah akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Eskalasi konflik terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir pekan lalu, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan serangan ke beberapa negara tetangga. Wilayah Timur Tengah, yang mencakup produsen aluminium utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, menyumbang sekitar 9% dari total kapasitas aluminium dunia.
Selat Hormuz, sebuah jalur perairan strategis di lepas pantai Iran, menjadi titik rawan perdagangan yang krusial. Banyak produsen aluminium di kawasan tersebut bergantung pada selat ini untuk pengiriman logam dan impor bahan baku. Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran, serta pengumuman kelompok Houthi Yaman mengenai penutupan total Laut Merah bagi lalu lintas kapal internasional, semakin memperparah kekhawatiran pasar akan disrupsi rantai pasokan global.
Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, pada 2 Maret 2026, menyoroti sensitivitas ekonomi global terhadap guncangan geopolitik di Timur Tengah. Ia menyatakan, “Serangan Amerika-Israel ke Iran pada 28 Februari menunjukkan satu hal mendasar bahwa ekonomi global sangat sensitif terhadap guncangan geopolitik, terutama ketika menyangkut kawasan strategis seperti Timur Tengah.” Senada, Rahma Gafmi, Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga, pada 1 Maret 2026, menyebut Selat Hormuz sebagai “titik cekik ekonomi dunia” dan menegaskan bahwa “Bahkan serangan terbatas saja bisa langsung mendorong harga naik tajam.”
Dampak konflik ini tidak hanya terbatas pada harga aluminium, tetapi juga merambat ke sektor logistik global. Gangguan di Laut Merah dan Selat Hormuz dapat memaksa kapal-kapal untuk mengambil rute yang lebih panjang mengelilingi Afrika, yang pada gilirannya akan meningkatkan biaya pengiriman dan memperpanjang waktu tempuh. Hal ini berpotensi memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia yang merupakan importir bersih minyak.
Meskipun demikian, pandangan mengenai prospek harga aluminium jangka panjang masih bervariasi. Beberapa analis, seperti AL Circle dan Discovery Alert, memproyeksikan kondisi pasar yang ketat dan harga yang tetap tinggi sepanjang 2026, bahkan berpotensi mencapai US$3.000 hingga US$3.600 per ton. Mereka mengacu pada kendala pasokan struktural, seperti pembatasan produksi di Tiongkok dan biaya energi yang tinggi, serta peningkatan permintaan dari sektor elektrifikasi dan infrastruktur. Namun, Goldman Sachs, dalam proyeksinya Oktober 2025, memperkirakan surplus pasokan pada 2026/2027 dan memprediksi harga LME akan turun menjadi US$2.350 per ton pada kuartal keempat 2026, didorong oleh pemulihan pasokan global dan prospek ekonomi yang lebih lemah.