Harga BBM Nonsubsidi Diproyeksi Kembali Naik April, Buntut Krisis Iran Memanas

krisis iran, harga bbm, minyak mentah, selat hormuz, pertamina

Sejumlah analis pasar energi memproyeksikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia akan kembali mengalami kenaikan signifikan per 1 April 2026. Prediksi ini muncul di tengah memanasnya krisis geopolitik di Timur Tengah, khususnya eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang telah memicu lonjakan harga dunia.

Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah serangan militer terkoordinasi oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa ini segera direspons pasar global dengan kenaikan harga minyak yang drastis. Pada Senin, 2 Maret 2026, harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga 7-10 persen, mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Minyak mentah jenis Brent sempat menyentuh angka USD 82,37 per barel, sebelum stabil di kisaran USD 78,24 hingga USD 79,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga terkerek naik ke level USD 71,68 hingga USD 72,38 per barel, setelah sempat menyentuh USD 75,33. Analis ANZ, Daniel Hynes, menilai risiko pasokan energi global kini berada di titik nadir.

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah ancaman Iran untuk menutup , jalur pelayaran vital yang menjadi arteri utama distribusi minyak global. Penutupan selat ini akan secara langsung mengganggu pasokan minyak mentah ke kilang-kilang di Asia, yang merupakan konsumen terbesar. Ajay Parmar, Direktur energi dan pemurnian Independent Commodity Intelligence Services (ICIS), menekankan bahwa potensi penutupan Selat Hormuz adalah faktor krusial yang menentukan arah harga minyak.

Analis dari Citi yang dipimpin Max Layton memproyeksikan harga Brent akan bergerak di kisaran USD 80 hingga USD 90 per barel sepanjang pekan pertama Maret 2026. Lebih jauh, Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, memperkirakan harga minyak mentah dunia dapat melampaui USD 100 per barel jika konflik terus memanas dan meluas.

Kenaikan harga minyak mentah global ini akan berdampak langsung pada Indonesia sebagai negara net importir minyak, dengan kebutuhan impor mencapai 1,2 juta barel per hari. Fahmy Radhi menjelaskan bahwa harga minyak yang tinggi akan menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama untuk subsidi energi.

Sebelumnya, PT (Persero) telah melakukan penyesuaian nonsubsidi per 1 Maret 2026, mengikuti Keputusan Menteri ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022. Di wilayah Jabodetabek, harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp12.300 per liter dari sebelumnya Rp11.800. Pertamax Green (RON 95) naik menjadi Rp12.900 per liter dari Rp12.450, dan Pertamax Turbo (RON 98) menjadi Rp13.100 per liter dari Rp12.700. Jenis Dexlite (CN 51) juga naik menjadi Rp14.200 per liter dari Rp13.250, serta Pertamina Dex (CN 53) menjadi Rp14.500 per liter dari Rp13.500. Sementara itu, harga BBM subsidi seperti Pertalite (Rp10.000 per liter) dan Biosolar (Rp6.800 per liter) tidak mengalami perubahan.

Lukman Leong, analis komoditas Doo Financial Futures, menyatakan bahwa idealnya harga BBM nonsubsidi akan kembali naik pada 1 April 2026, meskipun realisasinya tetap bergantung pada kebijakan pemerintah. Senada, Praska Putrantyo, analis dan CEO Edvisor Provina Visindo, menambahkan bahwa kenaikan harga minyak WTI yang berkelanjutan selama lebih dari sebulan akan memengaruhi harga Indonesian Crude Price (ICP) dan pada akhirnya harga BBM nonsubsidi di Indonesia.