Harga Bitcoin (BTC) kembali berada dalam tekanan signifikan pada Sabtu, 28 Februari 2026, diperdagangkan di kisaran US$65.881,99. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya setelah kabar serangan Israel terhadap Iran yang memicu aksi jual masif di pasar aset berisiko.
Data dari CoinMarketCap menunjukkan bahwa Bitcoin melemah sekitar 2,01 persen hingga 2,37 persen dalam 24 jam terakhir. Secara intraday, aset kripto terbesar ini bergerak dalam rentang yang cukup lebar, dari level terendah US$64.942,87 hingga tertinggi US$68.223,07, mencerminkan volatilitas yang masih sangat tinggi di pasar kripto. Dalam denominasi rupiah, BTC/IDR tercatat di level Rp1.109.100.000, turun 1,88 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sentimen Pasar dan Tekanan Makroekonomi
Sentimen pasar saat ini didominasi oleh “ketakutan ekstrem” atau extreme fear, dengan Indeks Fear & Greed kripto anjlok ke skor 5 dari 100 pada 23 Februari 2026. Angka ini merupakan salah satu level terendah sejak 2019, menunjukkan kekhawatiran mendalam di kalangan investor. Tekanan jual konsisten terlihat sejak harga Bitcoin gagal mempertahankan area di atas US$68.000, sebelum akhirnya bergerak turun mendekati area US$65.000.
Kondisi makroekonomi global dan dinamika geopolitik menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan harga Bitcoin. Ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya tensi antara AS dan Iran membuat investor cenderung menghindari aset berisiko. Direktur Riset dan Strategi Kripto Schwab Center, Jim Ferraioli, pada awal Januari 2026, menyebut pergerakan Bitcoin dibentuk oleh kombinasi faktor jangka panjang seperti pertumbuhan pasokan uang global dan adopsi, serta faktor jangka pendek seperti sentimen risiko pasar dan suku bunga.
Koreksi dari Puncak Tertinggi dan Perbandingan Siklus
Bitcoin mencapai rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) di atas US$126.000 pada Oktober 2025. Namun, harga saat ini telah terkoreksi sekitar 46,36 persen hingga 50 persen dari puncaknya. Sepanjang tahun 2026 berjalan, Bitcoin telah mengalami koreksi sebesar 22,06 persen per 22 Februari 2026.
Meskipun demikian, beberapa analis membandingkan kondisi saat ini dengan fase bear market sebelumnya. Analis CryptoCon menyoroti bahwa penurunan Bitcoin saat ini sebesar 32 persen dari ATH masih lebih ringan dibandingkan fase awal bear market 2014, 2018, dan 2022 yang berkisar antara 43 persen hingga 66 persen. Namun, ia memperingatkan bahwa sejarah pasar kripto menunjukkan fase awal bear market kerap diikuti periode stabil sebelum memasuki penurunan paling tajam, dengan potensi konvergensi harga di kisaran US$35.000 pada September 2026.
Peran ETF dan Perusahaan Penambangan
Aliran dana masuk dan keluar dari Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin Spot juga terus menjadi perhatian. Meskipun sempat ada lonjakan harga pada 26 Februari 2026 yang membuat Bitcoin melonjak 8 persen ke US$69.500 dan memicu likuidasi posisi short senilai US$330 juta, kenaikan ini dipandang sebagai pantulan jangka pendek, bukan perubahan tren utama. Manajer aset kripto Bitwise menilai bahwa Bitcoin berpeluang mencetak rekor harga tertinggi baru pada 2026 dan keluar dari pola siklus empat tahunan yang selama ini menjadi acuan pasar, didorong oleh kemajuan regulasi dan peningkatan adopsi institusional.
Di sisi lain, kinerja perusahaan penambangan kripto turut memperkuat persepsi risiko. American Bitcoin, sebuah perusahaan penambangan yang didukung keluarga Donald Trump, melaporkan kerugian sebesar US$59 juta pada kuartal IV-2025 dan kerugian belum terealisasi sebesar US$227 juta sepanjang tahun akibat penurunan nilai cadangan Bitcoin. Harga saham perusahaan tersebut juga anjlok hampir 90 persen dari puncaknya pada September 2025.
Proyeksi Analis di Tengah Ketidakpastian
Para analis memiliki pandangan yang beragam mengenai arah Bitcoin di tahun 2026. Beberapa memprediksi tahun ini akan menjadi fase konsolidasi, dengan harga bergerak sideways dalam rentang lebar antara US$60.000 hingga US$90.000. Namun, ada juga proyeksi yang lebih optimis, seperti CoinCodex yang memperkirakan BTC/USD bisa melampaui US$100.000 sepanjang 2026, atau Bernstein dan Standard Chartered yang memproyeksikan sekitar US$150.000. Bahkan, CEO Ripple, Brad Garlinghouse, memperkirakan harga Bitcoin akan mencapai US$180.000 pada akhir 2026.
Namun, Alex Thorn, kepala riset firmwide Galaxy, memandang tahun 2026 sebagai “terlalu kacau untuk diprediksi” karena ketidakpastian tinggi menjelang pemilihan umum dan rentang harga yang lebar dalam pasar opsi. Astrofisikawan Harvard, Stephen, bahkan percaya puncak gelembung besar berikutnya lebih masuk akal terjadi pada 2027, bukan 2025, karena pola pertumbuhan logaritmik Bitcoin.
Langkah Bursa Kripto Domestik
Di Indonesia, Bursa Kripto PT Central Finansial X (CFX) mengambil langkah strategis dengan memotong biaya transaksi bursa sebesar 50 persen mulai 1 Maret 2026, dari 0,04 persen menjadi 0,02 persen. CEO Indodax, William Sutanto, menyambut baik inisiatif ini, meyakini bahwa efisiensi biaya akan mendorong frekuensi transaksi yang lebih tinggi dan menarik kembali konsumen yang selama ini bertransaksi di platform luar negeri. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp482,23 triliun sepanjang 2025, dengan jumlah konsumen mencapai 12,92 juta. Indonesia juga menempati posisi ke-7 dunia dalam adopsi aset kripto berdasarkan laporan Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025.