Harga Bitcoin Anjlok Lebih dari 6 Persen di Tengah Tensi Geopolitik dan Sentimen Negatif Pasar

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

Harga (BTC) mengalami tekanan jual signifikan pada Sabtu, 28 Februari 2026, dengan nilai yang merosot tajam di tengah gejolak global dan sentimen pasar yang kian memburuk. Aset terbesar di dunia ini sempat anjlok hampir 4% dari sekitar US$65.500 ke level US$63.000, tak lama setelah kabar serangan Israel terhadap Iran mencuat. Pada perdagangan pukul 14.28 WIB, Bitcoin diperdagangkan di level US$63.522, menunjukkan pelemahan 6,01% dalam 24 jam terakhir.

Penurunan ini menandai kelanjutan tren korektif yang telah membayangi . Sepanjang hari ini, Bitcoin sempat dibuka di level US$67.236,67 dan bergerak dalam rentang yang cukup lebar, mencapai level tertinggi US$68.223,07 dan terendah US$64.942,87. Volatilitas tinggi ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap berbagai faktor eksternal.

Faktor Pendorong Pelemahan Harga

Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama aksi jual masif di pasar kripto. Ketegangan antara Israel dan Iran mendorong investor untuk menjauhi aset berisiko, termasuk Bitcoin. Data perdagangan derivatif menunjukkan reaksi pasar yang sangat cepat, dengan sekitar US$100 juta posisi long Bitcoin dilikuidasi hanya dalam 15 menit setelah berita serangan menyebar luas.

Selain faktor geopolitik, tekanan makroekonomi global juga turut memperburuk kondisi. Lonjakan inflasi produsen di Amerika Serikat (PPI) yang lebih panas dari perkiraan, serta kekhawatiran terhadap tekanan di pasar kredit, menambah beban bagi aset digital. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan bahwa fundamental Bitcoin masih rapuh karena sejumlah indikator pasar kripto belum pulih sepenuhnya.

Sentimen Pasar dan Arus Dana Institusional

Sentimen pasar kripto saat ini didominasi oleh “ketakutan ekstrem”, dengan Crypto Fear & Greed Index berada di level 13 dari 100, menandakan kepanikan investor. Investor jangka pendek terpantau masih melakukan aksi jual dalam kondisi rugi sejak akhir Januari. Matt Hougan, Head of Research di Bitwise, berpendapat bahwa kesenjangan antara fundamental dan suasana pasar mungkin menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa waktu terakhir, di mana berita positif tidak mampu menggerakkan harga secara signifikan.

Arus dana institusional juga menunjukkan gambaran yang beragam. Meskipun Bitcoin Spot ETF sempat mengalami tren arus keluar bersih (net outflow) selama lima minggu berturut-turut hingga 23 Februari 2026, terdapat pemulihan dengan arus masuk bersih yang signifikan pada 24 dan 25 Februari, mencapai US$257,71 juta dan melonjak ke US$506,51 juta. Namun, secara kumulatif, banyak manajer investasi yang mengurangi eksposur terhadap kripto pada akhir 2025.

Dampak pada Altcoin dan Prospek Jangka Panjang

Pelemahan Bitcoin turut menyeret altcoin utama lainnya. Ethereum (ETH) terkoreksi 4,46% dalam sehari, Binance Coin (BNB) ambles 1,64%, Cardano (ADA) melemah 3%, dan Solana (SOL) turun 4%. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global jatuh 2,79% menjadi US$2,26 triliun.

Bitcoin kini diperdagangkan seperti aset berisiko, bukan lagi sebagai “emas digital” atau safe haven. Sejak mencatatkan level tertinggi di atas US$126.000 pada Oktober 2025, harga Bitcoin telah mengalami penurunan tajam dan kini berada di kisaran separuh dari puncaknya, dengan penurunan masif 48,5%. Kondisi ini juga berdampak pada perusahaan penambangan kripto, seperti American Bitcoin yang melaporkan kerugian signifikan akibat penurunan nilai cadangan Bitcoin.

Meskipun demikian, beberapa analis masih optimistis terhadap prospek Bitcoin di tahun 2026. James Butterfill, Head of Research CoinShares, melihat peluang penguatan di paruh kedua 2026, dengan prediksi harga bisa menyentuh US$170.000, didorong oleh kebijakan The Fed dan potensi disahkannya Clarity Act. Namun, untuk saat ini, pasar masih menunggu katalis baru di tengah struktur pasar yang netral cenderung bearish ringan.