Harga Bitcoin dan Altcoin Kembali Tertekan, Mayoritas Kripto Melemah di Akhir Februari

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

Pergerakan pasar aset global kembali menunjukkan tren pelemahan signifikan pada Sabtu, 28 Februari 2026. (BTC), mata uang kripto dengan terbesar, diperdagangkan di level sekitar 65.888 dollar AS atau setara Rp 1,10 miliar (dengan asumsi kurs Rp 16.802 per dolar AS).

Penurunan ini menandai koreksi sebesar 2,37 persen dalam 24 jam terakhir dan 3,12 persen dalam sepekan terakhir. Sepanjang perdagangan intraday hari ini, Bitcoin sempat dibuka di level 67.236,67 dollar AS, mencapai puncak 68.223,07 dollar AS, namun kemudian merosot hingga menyentuh level terendah 64.942,87 dollar AS. Volatilitas yang tinggi ini mencerminkan tekanan jual yang konsisten setelah harga gagal bertahan di atas 68.000 dollar AS.

Altcoin Ikut Tertekan

Tidak hanya Bitcoin, mayoritas altcoin atau mata uang kripto alternatif juga terpantau berada di zona merah. (ETH) terkoreksi 4,46 persen dalam sehari dan 2,30 persen dalam sepekan, sehingga kini diperdagangkan di kisaran Rp 32,43 juta per koin. Binance Coin (BNB) turut lesu, ambles 1,64 persen dalam 24 jam terakhir dan 2,22 persen dalam sepekan, dengan harga sekitar Rp 10,31 juta per koin. Sementara itu, Cardano (ADA) melemah 3 persen dalam sehari dan 2,92 persen dalam sepekan, berada di level Rp 4.663 per koin.

Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global tercatat di level 2,27 triliun dollar AS atau setara Rp 38.180 triliun, mengalami penurunan sekitar 2,32 persen dalam 24 jam terakhir.

Faktor Pemicu Pelemahan Pasar

Pelemahan pasar kripto ini dipicu oleh sejumlah faktor, termasuk tekanan makroekonomi global, lonjakan inflasi produsen di Amerika Serikat, serta meningkatnya tensi geopolitik. Kondisi ini mendorong investor untuk menjauhi aset-aset berisiko. Analis pasar juga menyoroti likuiditas yang relatif tipis di pasar, yang menghambat laju Bitcoin untuk menembus level psikologis 70.000 dollar AS.

Kilas Balik Reli Singkat di Pertengahan Pekan

Sebelumnya, pada 26 Februari 2026, pasar kripto sempat menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat. Bitcoin melonjak hingga 9,3 persen dan sempat menyentuh 69.987 dollar AS, mendekati ambang 70.000 dollar AS. Kenaikan ini mengakhiri tren penurunan tiga hari berturut-turut dan menjadi lonjakan intraday terbesar sejak 6 Februari 2026. Altcoin seperti Ethereum juga menguat sekitar 12 persen ke 2.085 dollar AS, Solana melesat 13 persen, dan XRP naik sekitar 7 persen.

Reli singkat tersebut sebagian besar didorong oleh aksi beli institusional, terutama setelah ETF spot Bitcoin mencatat arus masuk bersih sebesar 506,51 juta dollar AS pada 25 Februari. Selain itu, gugatan hukum terhadap Jane Street juga memicu sentimen lega di berbagai pasar kripto. Namun, kenaikan ini dinilai sebagai “relief rally” setelah periode tekanan jual yang cukup panjang, bukan sebagai perubahan tren utama yang berkelanjutan.

Prospek Pasar dan Volatilitas Tinggi

Meskipun sempat ada kenaikan, pasar kripto masih berada dalam fase korektif yang lebih luas. Sejak mencatatkan level tertinggi di atas 126.000 dollar AS pada tahun 2025, harga Bitcoin telah mengalami penurunan tajam dan kini berada di kisaran separuh dari puncaknya. Daniel Reis-Faria, CEO ZeroStack, menyatakan bahwa Bitcoin kini bergerak dalam sistem pasar yang lebih luas, sehingga saat likuiditas menurun, volatilitas meningkat.

Kondisi ini juga berdampak pada perusahaan penambangan kripto. American Bitcoin, misalnya, melaporkan kerugian sebesar 59 juta dollar AS pada kuartal IV-2025 dan kerugian belum terealisasi sebesar 227 juta dollar AS akibat penurunan nilai cadangan Bitcoin. Harga saham perusahaan tersebut juga anjlok hampir 90 persen dari puncaknya pada September 2025. Para analis menyarankan investor untuk tetap berhati-hati, mengingat sinyal pemulihan yang kuat belum sepenuhnya terlihat dan pasar masih rentan terhadap koreksi lebih lanjut.