Harga Bitcoin (BTC) kembali berada dalam tekanan signifikan pada Sabtu, 28 Februari 2026, diperdagangkan di kisaran US$65.881,99. Penurunan ini merupakan kelanjutan dari tren koreksi yang lebih luas di pasar kripto tahun 2026, diwarnai oleh volatilitas tinggi dan sentimen pasar yang cenderung negatif.
Pada perdagangan hari ini, Bitcoin tercatat turun sekitar 2,01 persen atau 1.354,68 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Secara intraday, aset kripto terbesar ini sempat dibuka di level US$67.236,67, mencapai tertinggi US$68.223,07, namun kemudian merosot ke level terendah US$64.942,87. Pergerakan harga yang mencapai lebih dari US$3.000 dalam satu sesi ini mengindikasikan tingkat volatilitas yang masih sangat tinggi.
Pelemahan Bitcoin juga tercermin dalam denominasi rupiah, di mana BTC/IDR diperdagangkan di sekitar Rp1.109.100.000, turun sekitar Rp21.202.000 atau 1,88 persen dari penutupan sebelumnya. Dengan asumsi kurs Rp16.802 per dolar AS, harga Bitcoin saat ini setara dengan Rp1,10 miliar.
Sentimen pasar kripto secara keseluruhan menunjukkan kondisi “ketakutan ekstrem”, dengan Indeks Fear and Greed kripto anjlok ke skor 5 dari 100. Angka ini merupakan salah satu level terendah sejak tahun 2019, mencerminkan kehati-hatian investor dalam menghadapi ketidakpastian.
Faktor Pemicu Tekanan Pasar
Tekanan jual yang konsisten terhadap Bitcoin terjadi setelah harga gagal mempertahankan area di atas US$68.000, sebelum akhirnya bergerak mendekati US$65.000. Kondisi ini diperparah oleh kombinasi faktor makroekonomi global, termasuk lonjakan inflasi produsen (PPI) di Amerika Serikat, serta meningkatnya tensi geopolitik antara AS dan Iran. Bahkan, laporan terbaru menyebutkan harga Bitcoin sempat anjlok di bawah US$64.000 setelah berita serangan Israel terhadap Iran tersebar, memicu likuidasi pesanan beli leverage senilai lebih dari US$100 juta dalam 15 menit.
Kebijakan tarif yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang menaikkan tarif global menjadi 15 persen dari sebelumnya 10 persen, juga turut memicu pelemahan pasar kripto. Ketidakpastian ini mendorong investor untuk menarik dana dari aset berisiko.
Dampak koreksi harga ini tidak hanya dirasakan oleh investor, tetapi juga oleh perusahaan penambangan kripto. American Bitcoin, sebuah perusahaan penambangan yang didukung keluarga Donald Trump, melaporkan kerugian sebesar US$59 juta pada kuartal IV-2025. Sepanjang tahun, perusahaan tersebut juga mencatatkan kerugian belum terealisasi sebesar US$227 juta akibat penurunan nilai cadangan Bitcoin yang dimiliki, dengan harga sahamnya anjlok hampir 90 persen dari puncaknya pada September 2025.
Analisis Teknis dan Proyeksi Harga
Secara teknis, Bitcoin telah terkoreksi sekitar 22% secara year-to-date dan berada di jalur kuartal pertama terburuk sejak 2018. Area US$66.000 menjadi level support krusial. Jika level ini ditembus secara meyakinkan, target penurunan berikutnya diperkirakan berada di sekitar US$58.800, bahkan berpotensi mencapai US$55.600. Sebaliknya, untuk membatalkan struktur bearish, Bitcoin perlu merebut kembali area US$79.000.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai kenaikan harga Bitcoin yang sempat terjadi cenderung bersifat sementara setelah periode penurunan tajam di akhir tahun lalu. Menurutnya, struktur pasar kripto saat ini berada dalam kondisi negative gamma, yang berarti pergerakan harga cenderung lebih sensitif terhadap tekanan jual.
Meskipun demikian, beberapa analis masih memiliki pandangan optimistis untuk tahun 2026. Standard Chartered dan Bernstein memproyeksikan harga Bitcoin bisa mencapai US$150.000. Korbit Research Center menargetkan US$140.000–US$170.000, sementara CEO Ripple, Brad Garlinghouse, memproyeksikan US$180.000 pada akhir 2026, didukung oleh kejelasan regulasi dan adopsi institusional. Bahkan, Arthur Hayes dari BitMEX dan Cathie Wood dari ARK Invest memprediksi Bitcoin bisa menyentuh US$500.000, dengan Wood mendasarkan proyeksinya pada peningkatan alokasi institusional yang signifikan.
Namun, Alex Thorn, Head of Research Galaxy, mengingatkan bahwa lingkungan investasi yang kompleks dengan valuasi ekuitas tinggi, kondisi geopolitik yang kacau, dan perubahan arah kebijakan moneter membuat prospek Bitcoin pada 2026 sulit diprediksi. Jake Ostrovskis, kepala perdagangan over-the-counter di Wintermute, menambahkan bahwa sulit untuk menganggap serius reli Bitcoin tanpa penembusan dan konsolidasi kuat di atas US$75.000.