Harga CPO Anjlok Empat Hari Beruntun, Sentuh Level Terendah Dua Pekan

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

cpo, minyak sawit, komoditas, bursa malaysia, ekspor

Harga mentah () di pasar global kembali menunjukkan tren pelemahan signifikan. ini tercatat anjlok selama empat hari perdagangan berturut-turut, mencapai level terendah dalam hampir dua pekan terakhir.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, harga CPO berjangka di Derivatives Exchange untuk kontrak pengiriman tiga bulan mendatang ditutup pada MYR 4.005 per ton. Angka ini mencerminkan penurunan sebesar 1,2% dibandingkan hari sebelumnya. Secara akumulatif, selama empat hari berturut-turut, harga CPO telah terpangkas sebesar 2,22% secara point-to-point.

Lesunya permintaan ekspor menjadi salah satu pemicu utama koreksi harga ini. Sejumlah perusahaan kargo melaporkan bahwa ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1-25 Februari diperkirakan anjlok antara 12,1% hingga 16,1% dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan sebelumnya. Penurunan permintaan terbesar disinyalir berasal dari pasar utama seperti India dan Tiongkok.

Selain itu, penguatan nilai tukar Ringgit Malaysia turut memberikan tekanan pada harga CPO. Mata uang Negeri Jiran tersebut terpantau perkasa, menguat 0,27% dalam sepekan terakhir dan terapresiasi 4,08% sepanjang tahun 2026 (year-to-date). Kondisi ini membuat kontrak CPO, yang dibanderol dalam Ringgit, menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain, sehingga mengurangi daya saingnya.

Tekanan ganda juga datang dari pergerakan harga minyak nabati pesaing. Harga minyak kedelai (soyoil) di Chicago Board of Trade (CBOT) yang melemah turut menyeret harga CPO. Analisis teknikal menunjukkan bahwa CPO masih berada dalam zona bearish, dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari sebesar 43, mengindikasikan posisi pasar yang cenderung melemah.

Dampak pelemahan harga global ini juga terasa di tingkat lokal. Di Kabupaten Aceh Barat, harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit pada pekan keempat Februari 2026 mengalami penurunan menjadi Rp 2.840 per kilogram dari sebelumnya Rp 2.880 per kilogram. Sementara itu, harga CPO lokal tercatat sebesar Rp 14.258, turun dari Rp 14.800. Community Development Officer (CDO) PT KTS Aceh Barat, Azra Husaini, menjelaskan bahwa fluktuasi harga TBS sangat dipengaruhi oleh dinamika harga CPO dunia.

Perkembangan kebijakan biofuel di Indonesia juga menjadi sorotan. Pemerintah Indonesia telah membatalkan rencana untuk menaikkan mandatori biodiesel menjadi B50 pada tahun 2026, dan memilih untuk mempertahankan B40 karena kendala teknis dan pendanaan. Keputusan ini menghilangkan ekspektasi pasar akan peningkatan permintaan CPO yang lebih besar untuk pencampuran biodiesel. Di sisi pasokan, produksi minyak sawit di Indonesia dan Malaysia dilaporkan lebih kuat dari perkiraan berkat cuaca yang mendukung, bahkan menyebabkan stok Malaysia melonjak ke level tertinggi dalam hampir tujuh tahun.

Prospek harga CPO untuk tahun 2026 sendiri masih menunjukkan pandangan yang beragam. Beberapa analis memprediksi harga rata-rata CPO akan lebih rendah pada tahun 2026 akibat peningkatan pasokan global dan melemahnya permintaan biofuel, dengan proyeksi di kisaran RM4.125 per ton. Namun, ada pula yang memperkirakan harga akan tetap berada di level tinggi, didukung oleh pasokan global yang ketat dan produktivitas perkebunan yang stagnan, dengan perkiraan harga di paruh pertama 2026 mencapai US$1.050–1.150 per ton (CIF Rotterdam).